Senin 22 Februari 2021, 06:25 WIB

Hati-hati, Perangkat Teknologi dapat Mengancam Privasi Karyawan

Adiyanto | Weekend
Hati-hati, Perangkat Teknologi dapat Mengancam Privasi Karyawan

MARTIN ABBUGAO / AFP
Anggota staf badan teknologi pemerintah Singapura, GovTech mendemonstrasikan penggunaan teknologi verifikasi wajah.

BERBAGAI perangkat teknologi canggih kemungkinan bakal melengkapi manusia saat kembali berkantor setelah pandemi covid-19 berakhir.  Namun, selain dapat meningkatkan keselamatan di tempat kerja, perangkat itu dapat pula menimbulkan risiko bagi privasi seseorang.

Bayangkan, misalnya, ada alat yang dapat memantau Anda hingga ke toilet dan seberapa bersih Anda telah mencuci tangan di washtafel. Teknologi semacam itu, bukan mustahil digunakan di sejumlah perusahaan, terutama di negara maju.

Pemeriksaan suhu, pemantau jarak, paspor digital, survei kesehatan, dan sistem pembersihan dan desinfeksi robotik, saat ini telah digunakan di banyak tempat kerja yang telah dibuka kembali di sejumlah negara. Raksasa teknologi dan perusahaan rintisan menawarkan solusi yang mencakup kamera komputer yang dapat mendeteksi tanda-tanda utama timbulnya covid-19 dan aplikasi yang dapat melacak metrik kesehatan seseorang.

Salesforce dan IBM, misalnya, telah berkolaborasi  menciptakan tiket kesehatan digital agar orang-orang dapat memberitahukan hasil vaksinasi dan status kesehatan di ponsel cerdas mereka. Clear, perusahaan rintisan teknologi yang terkenal dengan alat pemeriksaan di bandara, juga telah membuat kartu kesehatannya sendiri yang digunakan oleh organisasi/lembaga seperti Liga Hoki Nasional, Amerika dan MGM Resorts.

Demikian pula Fitbit, perusahaan teknologi yang baru-baru ini diakuisisi oleh Google, memiliki program "Ready for Work"  yang mencakup check-in harian menggunakan data dari perangkatnya. Fitbit melengkapi sekitar 1.000 karyawan NASA dengan perangkat yang dapat dikenakan sebagai bagian dari program percontohan. Alat itu membutuhkan log-in harian menggunakan berbagai metrik (data) kesehatan seseorang/karyawan yang akan dilacak oleh badan antariksa tersebut.

Microsoft dan raksasa asuransi United HealthCare, juga telah menerapkan aplikasi ProtectWell yang mencakup penyaringan gejala harian yang dialami seseorang. Sedangkan Amazon telah menggunakan "asisten jarak jauh" di gudangnya untuk membantu karyawan menjaga jarak yang aman.

Sementara itu, koalisi besar perusahaan teknologi dan organisasi kesehatan sedang mengerjakan sertifikat vaksinasi digital yang dapat digunakan pada ponsel cerdas untuk menunjukkan bukti inokulasi untuk covid-19.

Dengan sistem ini, karyawan dapat terlacak bahkan sejak mereka memasuki lobi gedung, di lift, lorong, dan di seluruh area tempat kerja.

“Pemantauan semacam inilah yang mengaburkan batas antara tempat kerja dan kehidupan pribadi seseorang," kata Darrell West, Wakil Presiden sebuah lembaga think thank pusat inovasi teknologi, Brookings Institution, seperti dilansir AFP, Minggu (21/2).

Perlu Aturan

Sebuah laporan tahun lalu oleh kelompok aktivis konsumen Public Citizen mengidentifikasi setidaknya 50 aplikasi dan teknologi yang dirilis selama pandemic, telah dipasarkan sebagai alat pengawasan tempat kerja untuk memerangi covid-19.

Laporan tersebut mengatakan beberapa sistem bahkan dapat mengidentifikasi berapa lama seseorang mencuci tangan di wastafel dan apakah mereka telah mencuci tangan dengan benar.

"Invasi privasi yang dihadapi pekerja sangat mengkhawatirkan, terutama mengingat efektivitas teknologi ini dalam mengurangi penyebaran covid-19 belum dapat dibuktikan," kata laporan itu.

Kelompok tersebut mengatakan harus ada aturan yang jelas tentang pengumpulan dan penyimpanan data, dengan pengungkapan yang lebih baik dan transparan kepada karyawan.

“Pihak perusahaan juga bimbang saat mereka mencoba memastikan keselamatan di tempat kerja tanpa mengganggu privasi karyawan,” kata Forrest Briscoe, profesor manajemen dan organisasi di Penn State University .

Briscoe mengatakan ada alasan yang sah untuk meminta bukti vaksinasi. Tetapi, hal itu terkadang  bertentangan dengan peraturan privasi medis yang membatasi akses perusahaan ke data kesehatan karyawan. "Anda tentu tidak ingin majikan mengakses informasi itu untuk keputusan terkait pekerjaan," kata Briscoe.

Menurut dia, banyak perusahaan mengandalkan vendor teknologi pihak ketiga untuk menangani pemantauan, tetapi itu juga memiliki risiko. "Model bisnis mereka melibatkan pengumpulan data dan menggunakannya untuk tujuan yang dapat dimonetisasi dan itu menimbulkan risiko privasi."

Pameran Elektronik

Krisis kesehatan global telah menginspirasi para perusahaan teknologi di seluruh dunia untuk mencari cara inovatif untuk membatasi penularan virus. Beberapa dari produk tersebut ditampilkan di Pameran Elektronik Konsumen 2021, yang digelar virtual belum lama ini.

FaceHeart yang berbasis di Taiwan mendemonstrasikan perangkat lunak yang dapat dipasang di kamera untuk pengukuran nirsentuh dari tanda-tanda vital untuk mendeteksi sesak napas, demam tinggi, dehidrasi, peningkatan detak jantung, dan gejala lain, yang merupakan indikator awal covid-19.

Pembuat drone Draganfly memamerkan teknologi kamera yang dapat digunakan untuk memberikan peringatan tentang jarak sosial, dan juga mendeteksi perubahan pada tanda-tanda vital seseorang yang mungkin menjadi indikator awal infeksi covid-19.

Robot yang dapat diprogram dari Misty Robotics, juga ditampilkan di CES, dapat diadaptasi sebagai monitor pemeriksaan kesehatan dan juga dapat dirancang utuk mendisinfeksi permukaan yang sering digunakan, seperti gagang pintu, meja, maupun kursi.

“Tetapi ada risiko jika terlalu mengandalkan teknologi yang mungkin tidak terbukti atau tidak akurat, seperti mencoba mendeteksi demam dengan kamera termal di antara orang yang bergerak atau berlalu-lalang, “ kata Jay Stanley, seorang peneliti privasi dan analis di American Civil Liberties Union.

Menurut Stanley, pengusaha memang memiliki kepentingan yang sah untuk melindungi tempat kerja dan menjaga kesehatan karyawan. “Tapi yang saya khawatirkan adalah majikan menggunakan pandemi untuk mengambil dan menyimpan informasi dengan cara sistematis, melebihi apa yang diperlukan untuk melindungi kesehatan karyawan mereka," tegasnya. (AFP/M-4)

Baca Juga

Daniel ROLAND / AFP

Berburu jadi Gaya Hidup Baru Generasi Muda di Jerman

👤Adiyanto 🕔Kamis 25 Februari 2021, 16:30 WIB
Lisensi berburu kini semakin populer di Jerman, negara yang mayoritas penduduknya gemar mengonsumsi...
Unsplash/ Jason Leung

Koi Tertua di Dunia Diperkirakan Berusia 226 Tahun

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 25 Februari 2021, 14:45 WIB
Ikan bernama Hanako itu mati pada 1977 dan usianya diyakini masih yang terpanjang hingga saat...
Timothy A.Clark/ AFP

Hillary Clinton Tulis Novel Politik

👤Fathurrozak 🕔Kamis 25 Februari 2021, 13:50 WIB
Hillary Clinton menulis novel berjudul State of Terror itu bersama novelis, Louis...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya