Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Laporan Food Sustainable Index (FSI) 2016 yang merupakan kerja sama antara Barilla Foundation dan Economist Intelligence Unit (IU), menaruh Indonesia pada urutan kedua sebagai negara yang paling banyak membuang makanan. Terbesar kedua setelah Saudi Arabia. Per tahun, setiap individu Indonesia membuang 300 kilogram makanan mereka.
Hal ini pun berdampak pada krisis iklim yang terjadi. Menurut penuturan Manajer The Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili, sektor pangan dari proses produksi hingga konsumsi di Indonesia turut menyumbang 30% jejak karbon. Ini turut memperparah bencana ekologis yang terjadi.
Selama 2020, Amanda mencatat ada 2925 bencana. Dengan terbanyak adalah banjir, longsor, dan puting beliung. “Sistem pangan bisa turut memengaruhi krisis iklim. Sistem pangan yang tidak benar, juga menyebabkan kelaparan, krisis pandemi seperti sekarang. Dengan misalnya manusia membuka lahan, keluar semua virus yang ada di habitatnya. Mencari inang baru, manusia. Belum lagi konsumsi hewan liar. Jadi sistem pangan dari produksi sampai konsumsi sebabkan berbagai macam krisis,” terang Amanda dalam konferensi pers virtual peluncuran buku elektronik Memilih Makanan Ramah Iklim terbitan Omar Niode Foundation, Minggu, (14/2).
Beberapa pilihan yang bisa dilakukan untuk turut ikut andil dalam perang melawan krisis iklim melalui cara konsumsi kita adalah dengan mengubah pola pangan. Amanda memerinci, salah satunya adalah dengan perbanyak konsumsi pangan berbasis nabati, dan mengurangi daging. Selain itu, memilih pangan tradisional dengan pertimbangan cara memperoleh makanan yang dekat tanpa harus menghitung jarak angkut pun bisa jadi salah satu alternatif.
“Tapi, ini pilihan kita sebagai individu itu juga akan kuat lagi jika dibantu dengan kebijakan yang disusun pemerintah,” lanjut Amanda.
Resto juga berubah
Sementara itu, pakar kuliner Indonesia yang juga koki William Wongso mengatakan memang saat ini terjadi perdebatan dalam penggunaan bahan-bahan pangan yang lebih ramah iklim. Ia pun mengatakan, saat sekarang ini memang tren makanan berbasis nabati (plant based) tengah meningkat. Tapi, jika kita belum mampu secara total pada pola makan itu, juga tidak perlu terburu-buru mendeklarasikan sebagai vegan atau vegetarian. Menurutnya, cukup kurangi konsumsi daging, dan fleksibel.
Ia juga mengatakan, restoran sebaiknya juga perlu mengubah cara bisnis mereka. Sesederhana menyertakan total konsumsi dalam satu porsi makanan yang dijual ke konsumen. Itu, bisa berdampak untuk mengurangi makanan sisa yang tidak dimakan oleh pembeli.
“Saya perhatikan, banyak restoran yang tidak pernah mendeskripsikan produk mereka. Satu porsi itu beratnya berapa. Dengan adanya pandemi ini sebaiknya juga kita harus mulai berhitung kapasitas makan kita. Jangan lapar mata. Kapasitas sekali makan kita kan enggak lebih dari 500 gram. Karena kebiasaan resto yang tidak cantumkan deskripsi produknya, akibatnya jadi orang sekali makan bisa lebih dari 500 gram, atau sudah mahal beli, ternyata yang datang sedikit,” papar William.
“Pengusaha harus jujur, mereka harus sebut, semua porsi kalau misal hanya untuk satu orang itu berapa gram,” lanjutnya.
William juga mencontohkan, beberapa resto di Italia yang juga sadar pada konsep makanan ramah iklim akan membeli bahan baku tidak lebih jauh dari 50 kilo meter dari lokasi resto mereka beroperasi. Artinya, ini juga akan mengurangi jejak karbon karena memotong rantai angkut makanan.
Tidak perlu mahal
Bila merujuk apa yang direkomendasikan Amanda dengan mengenali dan mengonsumsi panganan yang dekat dari kita, bisa ditilik pada data yang dihimpun Sobat Budaya. Sejak 2007, mereka menghimpun berbagai data kebudayaan termasuk kuliner lokal serta kekerabatannya. Upaya itu, ditujukan sebagai pemetaan.
“Dasarnya adalah kami menggunakan biologi evolusioner. Melihat kuliner dan kekerabatannya. Dengan melakukan pemetaan ini, kita bisa tahu kira-kira ketersediaan kuliner kita ini apa saja. Tidak mentok, dan sebagai upaya diversifikasi,” papar Ketua Sobat Budaya Nicky Ria.
Saat ini, setidaknya ada 60 ribu data budaya di perpustakaan mereka. Masih ada 14 ribu data yang belum diunggah. Jadi, setidaknya sudah ada 70 ribu data budaya, termasuk kuliner.
Zahra Khan, yang turut menyusun buku digital Memilih Makanan Ramah Iklim dilengkapi 39 resep Gorontalo, mengatakan tujuan pendokumentasian ini adalah untuk menceritakan dan mengenalkan makanan asal Gorontalo yang ramah iklim.
Beberapa di antaranya adalah Bilenthango, ikan yang dibelah, dibubuhi rica dan dimasak di atas daun pisang. Gohu Putungo, dan Ilepa’o, yang berasal dari larva ikan dan seringnya dijumpai pada awal bulan.
“Makanan yang ramah iklim itu tidak harus mahal. Asal rajin untuk membuat dan berkreasi, kita bisa tepiskan gengsi. Dan tujuan untuk pola hidup sehat, serta untuk alam kita yang jadi tujuan utamanya,” kata Zahra yang juga dosen di fakultas pertanian di Universitas negeri Gorontalo itu. (M-2)
Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk bersantai dan menikmati hidangan lezat bersama orang terdekat.
SOFITEL Bali Nusa Dua Beach Resort mengajak Anda merayakan Tahun Baru Imlek melalui “Flavours of Prosperity”, sebuah perayaan makan malam yang menyambut hangat tahun kuda.
Perayaan Natal tidak hanya identik dengan dekorasi meriah dan momen kebersamaan keluarga, tetapi juga dengan ragam makanan khas Natal dari berbagai negara.
ibis Styles Medan Pattimura mempersembahkan rangkaian acara yang dirancang untuk memberikan pengalaman Natal dan Tahun Baru yang menyenangkan
Thailand dikenal dengan kulinernya yang kaya rempah, bercita rasa kuat, dan mudah diterima lidah orang Indonesia.
Chef Syrco sering mengundang para produsen, petani, dan nelayan untuk merasakan sendiri hasil bumi mereka di restorannya.
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved