Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Laporan Food Sustainable Index (FSI) 2016 yang merupakan kerja sama antara Barilla Foundation dan Economist Intelligence Unit (IU), menaruh Indonesia pada urutan kedua sebagai negara yang paling banyak membuang makanan. Terbesar kedua setelah Saudi Arabia. Per tahun, setiap individu Indonesia membuang 300 kilogram makanan mereka.
Hal ini pun berdampak pada krisis iklim yang terjadi. Menurut penuturan Manajer The Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili, sektor pangan dari proses produksi hingga konsumsi di Indonesia turut menyumbang 30% jejak karbon. Ini turut memperparah bencana ekologis yang terjadi.
Selama 2020, Amanda mencatat ada 2925 bencana. Dengan terbanyak adalah banjir, longsor, dan puting beliung. “Sistem pangan bisa turut memengaruhi krisis iklim. Sistem pangan yang tidak benar, juga menyebabkan kelaparan, krisis pandemi seperti sekarang. Dengan misalnya manusia membuka lahan, keluar semua virus yang ada di habitatnya. Mencari inang baru, manusia. Belum lagi konsumsi hewan liar. Jadi sistem pangan dari produksi sampai konsumsi sebabkan berbagai macam krisis,” terang Amanda dalam konferensi pers virtual peluncuran buku elektronik Memilih Makanan Ramah Iklim terbitan Omar Niode Foundation, Minggu, (14/2).
Beberapa pilihan yang bisa dilakukan untuk turut ikut andil dalam perang melawan krisis iklim melalui cara konsumsi kita adalah dengan mengubah pola pangan. Amanda memerinci, salah satunya adalah dengan perbanyak konsumsi pangan berbasis nabati, dan mengurangi daging. Selain itu, memilih pangan tradisional dengan pertimbangan cara memperoleh makanan yang dekat tanpa harus menghitung jarak angkut pun bisa jadi salah satu alternatif.
“Tapi, ini pilihan kita sebagai individu itu juga akan kuat lagi jika dibantu dengan kebijakan yang disusun pemerintah,” lanjut Amanda.
Resto juga berubah
Sementara itu, pakar kuliner Indonesia yang juga koki William Wongso mengatakan memang saat ini terjadi perdebatan dalam penggunaan bahan-bahan pangan yang lebih ramah iklim. Ia pun mengatakan, saat sekarang ini memang tren makanan berbasis nabati (plant based) tengah meningkat. Tapi, jika kita belum mampu secara total pada pola makan itu, juga tidak perlu terburu-buru mendeklarasikan sebagai vegan atau vegetarian. Menurutnya, cukup kurangi konsumsi daging, dan fleksibel.
Ia juga mengatakan, restoran sebaiknya juga perlu mengubah cara bisnis mereka. Sesederhana menyertakan total konsumsi dalam satu porsi makanan yang dijual ke konsumen. Itu, bisa berdampak untuk mengurangi makanan sisa yang tidak dimakan oleh pembeli.
“Saya perhatikan, banyak restoran yang tidak pernah mendeskripsikan produk mereka. Satu porsi itu beratnya berapa. Dengan adanya pandemi ini sebaiknya juga kita harus mulai berhitung kapasitas makan kita. Jangan lapar mata. Kapasitas sekali makan kita kan enggak lebih dari 500 gram. Karena kebiasaan resto yang tidak cantumkan deskripsi produknya, akibatnya jadi orang sekali makan bisa lebih dari 500 gram, atau sudah mahal beli, ternyata yang datang sedikit,” papar William.
“Pengusaha harus jujur, mereka harus sebut, semua porsi kalau misal hanya untuk satu orang itu berapa gram,” lanjutnya.
William juga mencontohkan, beberapa resto di Italia yang juga sadar pada konsep makanan ramah iklim akan membeli bahan baku tidak lebih jauh dari 50 kilo meter dari lokasi resto mereka beroperasi. Artinya, ini juga akan mengurangi jejak karbon karena memotong rantai angkut makanan.
Tidak perlu mahal
Bila merujuk apa yang direkomendasikan Amanda dengan mengenali dan mengonsumsi panganan yang dekat dari kita, bisa ditilik pada data yang dihimpun Sobat Budaya. Sejak 2007, mereka menghimpun berbagai data kebudayaan termasuk kuliner lokal serta kekerabatannya. Upaya itu, ditujukan sebagai pemetaan.
“Dasarnya adalah kami menggunakan biologi evolusioner. Melihat kuliner dan kekerabatannya. Dengan melakukan pemetaan ini, kita bisa tahu kira-kira ketersediaan kuliner kita ini apa saja. Tidak mentok, dan sebagai upaya diversifikasi,” papar Ketua Sobat Budaya Nicky Ria.
Saat ini, setidaknya ada 60 ribu data budaya di perpustakaan mereka. Masih ada 14 ribu data yang belum diunggah. Jadi, setidaknya sudah ada 70 ribu data budaya, termasuk kuliner.
Zahra Khan, yang turut menyusun buku digital Memilih Makanan Ramah Iklim dilengkapi 39 resep Gorontalo, mengatakan tujuan pendokumentasian ini adalah untuk menceritakan dan mengenalkan makanan asal Gorontalo yang ramah iklim.
Beberapa di antaranya adalah Bilenthango, ikan yang dibelah, dibubuhi rica dan dimasak di atas daun pisang. Gohu Putungo, dan Ilepa’o, yang berasal dari larva ikan dan seringnya dijumpai pada awal bulan.
“Makanan yang ramah iklim itu tidak harus mahal. Asal rajin untuk membuat dan berkreasi, kita bisa tepiskan gengsi. Dan tujuan untuk pola hidup sehat, serta untuk alam kita yang jadi tujuan utamanya,” kata Zahra yang juga dosen di fakultas pertanian di Universitas negeri Gorontalo itu. (M-2)
Menurut bu Pri, keunikan dari gudeg mercon dibandingkan dengan beberapa jenis gudeg lainnya terletak pada oseng merconnya.
Berbeda dengan Dubai Chocolate berupa cokelat batangan berisi krim pistachio dan tahini, Dubai Chewy Cookie tampil seperti marshmallow cokelat dengan bagian luar yang lembut.
Momen berbuka puasa semakin spesial dengan penawaran harga Rp198,000 nett/pax dengan promo spesial Pay 4 Get 5 spesial pada periode 18-24 Februari 2026.
Bagi Atta Halilintar, keterlibatannya dalam Lamak Rasa adalah bentuk komitmen untuk mengangkat cita rasa lokal ke level yang lebih kompetitif.
Penghargaan Dua Bintang selanjutnya diberikan kepada Hakuryu (Jakarta), Kiwami (Jakarta), dan II YAWARA (Jakarta).
Para tamu diundang untuk menikmati Iftar Buffet Dinneristimewa dengan menu tematik Indonesia seperti Lamb Ouzi, Ta’jil Island, serta ragam hidangan internasional.
Robot bawah laut otonom Mako diuji di Great Barrier Reef untuk menanam benih lamun secara presisi. Teknologi ini diklaim mampu mempercepat restorasi.
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
Yosep meneliti pengetahuan, sikap, dan praktik anak muda terkait perubahan iklim. Temuannya menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat Indonesia masih sekitar 50 persen.
Studi terbaru Smithsonian mengungkap ekosistem terumbu karang modern kehilangan kompleksitas ekologi dibandingkan 7.000 tahun lalu. Rantai makanan kini memendek drastis.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Ilmuwan temukan jutaan bakteri dan jamur "pelindung" di dalam pohon ek yang tetap stabil meski dilanda kekeringan ekstrem.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved