Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Laporan Food Sustainable Index (FSI) 2016 yang merupakan kerja sama antara Barilla Foundation dan Economist Intelligence Unit (IU), menaruh Indonesia pada urutan kedua sebagai negara yang paling banyak membuang makanan. Terbesar kedua setelah Saudi Arabia. Per tahun, setiap individu Indonesia membuang 300 kilogram makanan mereka.
Hal ini pun berdampak pada krisis iklim yang terjadi. Menurut penuturan Manajer The Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili, sektor pangan dari proses produksi hingga konsumsi di Indonesia turut menyumbang 30% jejak karbon. Ini turut memperparah bencana ekologis yang terjadi.
Selama 2020, Amanda mencatat ada 2925 bencana. Dengan terbanyak adalah banjir, longsor, dan puting beliung. “Sistem pangan bisa turut memengaruhi krisis iklim. Sistem pangan yang tidak benar, juga menyebabkan kelaparan, krisis pandemi seperti sekarang. Dengan misalnya manusia membuka lahan, keluar semua virus yang ada di habitatnya. Mencari inang baru, manusia. Belum lagi konsumsi hewan liar. Jadi sistem pangan dari produksi sampai konsumsi sebabkan berbagai macam krisis,” terang Amanda dalam konferensi pers virtual peluncuran buku elektronik Memilih Makanan Ramah Iklim terbitan Omar Niode Foundation, Minggu, (14/2).
Beberapa pilihan yang bisa dilakukan untuk turut ikut andil dalam perang melawan krisis iklim melalui cara konsumsi kita adalah dengan mengubah pola pangan. Amanda memerinci, salah satunya adalah dengan perbanyak konsumsi pangan berbasis nabati, dan mengurangi daging. Selain itu, memilih pangan tradisional dengan pertimbangan cara memperoleh makanan yang dekat tanpa harus menghitung jarak angkut pun bisa jadi salah satu alternatif.
“Tapi, ini pilihan kita sebagai individu itu juga akan kuat lagi jika dibantu dengan kebijakan yang disusun pemerintah,” lanjut Amanda.
Resto juga berubah
Sementara itu, pakar kuliner Indonesia yang juga koki William Wongso mengatakan memang saat ini terjadi perdebatan dalam penggunaan bahan-bahan pangan yang lebih ramah iklim. Ia pun mengatakan, saat sekarang ini memang tren makanan berbasis nabati (plant based) tengah meningkat. Tapi, jika kita belum mampu secara total pada pola makan itu, juga tidak perlu terburu-buru mendeklarasikan sebagai vegan atau vegetarian. Menurutnya, cukup kurangi konsumsi daging, dan fleksibel.
Ia juga mengatakan, restoran sebaiknya juga perlu mengubah cara bisnis mereka. Sesederhana menyertakan total konsumsi dalam satu porsi makanan yang dijual ke konsumen. Itu, bisa berdampak untuk mengurangi makanan sisa yang tidak dimakan oleh pembeli.
“Saya perhatikan, banyak restoran yang tidak pernah mendeskripsikan produk mereka. Satu porsi itu beratnya berapa. Dengan adanya pandemi ini sebaiknya juga kita harus mulai berhitung kapasitas makan kita. Jangan lapar mata. Kapasitas sekali makan kita kan enggak lebih dari 500 gram. Karena kebiasaan resto yang tidak cantumkan deskripsi produknya, akibatnya jadi orang sekali makan bisa lebih dari 500 gram, atau sudah mahal beli, ternyata yang datang sedikit,” papar William.
“Pengusaha harus jujur, mereka harus sebut, semua porsi kalau misal hanya untuk satu orang itu berapa gram,” lanjutnya.
William juga mencontohkan, beberapa resto di Italia yang juga sadar pada konsep makanan ramah iklim akan membeli bahan baku tidak lebih jauh dari 50 kilo meter dari lokasi resto mereka beroperasi. Artinya, ini juga akan mengurangi jejak karbon karena memotong rantai angkut makanan.
Tidak perlu mahal
Bila merujuk apa yang direkomendasikan Amanda dengan mengenali dan mengonsumsi panganan yang dekat dari kita, bisa ditilik pada data yang dihimpun Sobat Budaya. Sejak 2007, mereka menghimpun berbagai data kebudayaan termasuk kuliner lokal serta kekerabatannya. Upaya itu, ditujukan sebagai pemetaan.
“Dasarnya adalah kami menggunakan biologi evolusioner. Melihat kuliner dan kekerabatannya. Dengan melakukan pemetaan ini, kita bisa tahu kira-kira ketersediaan kuliner kita ini apa saja. Tidak mentok, dan sebagai upaya diversifikasi,” papar Ketua Sobat Budaya Nicky Ria.
Saat ini, setidaknya ada 60 ribu data budaya di perpustakaan mereka. Masih ada 14 ribu data yang belum diunggah. Jadi, setidaknya sudah ada 70 ribu data budaya, termasuk kuliner.
Zahra Khan, yang turut menyusun buku digital Memilih Makanan Ramah Iklim dilengkapi 39 resep Gorontalo, mengatakan tujuan pendokumentasian ini adalah untuk menceritakan dan mengenalkan makanan asal Gorontalo yang ramah iklim.
Beberapa di antaranya adalah Bilenthango, ikan yang dibelah, dibubuhi rica dan dimasak di atas daun pisang. Gohu Putungo, dan Ilepa’o, yang berasal dari larva ikan dan seringnya dijumpai pada awal bulan.
“Makanan yang ramah iklim itu tidak harus mahal. Asal rajin untuk membuat dan berkreasi, kita bisa tepiskan gengsi. Dan tujuan untuk pola hidup sehat, serta untuk alam kita yang jadi tujuan utamanya,” kata Zahra yang juga dosen di fakultas pertanian di Universitas negeri Gorontalo itu. (M-2)
Dengan rentang harga yang terjangkau, yakni mulai dari Rp20.000 hingga Rp65.000, Gedong Heritage menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak muda hingga kalangan keluarga.
Hikiniku to Come secara literal berarti daging giling dan nasi, merefleksikan konsep freshly grilled hamburg yang dinikmati dengan nasi hangat yang mengepul.
Secara historis, sate bulayak merupakan makanan khas dari Kecamatan Narmada, Lombok Barat.
Bagi masyarakat Maluku Utara, Lalampa bukan sekadar makanan, melainkan tradisi yang tak terpisahkan dari momen kebersamaan.
Rumah Makan Padang Nan Lamak resmi dibuka di Jakarta Selatan. Sajikan rendang dan ayam goreng khas Solok dengan resep autentik Minang dan konsep made-to-order.
Bukan sekadar nasi kari biasa, menu ini dikenal dengan porsi melimpah, rasa kuah kari yang khas, dan harga yang ramah di kantong.
Penemuan batu granit merah muda di Antartika mengungkap massa raksasa tersembunyi di bawah es. Temuan ini memberi petunjuk penting tentang pergerakan gletser dan kenaikan permukaan laut.
Amerika Serikat bagian barat daya dilanda gelombang panas prematur yang memecahkan rekor. Phoenix hingga California siaga suhu ekstrem di pertengahan Maret.
Studi terbaru mengungkap suhu panas ekstrem kini membatasi aktivitas fisik manusia, terutama lansia. Simak wilayah yang paling terdampak dan risiko kesehatan yang mengintai.
Penelitian terbaru menunjukkan jamur patogen seperti Aspergillus berpotensi menyebar lebih luas akibat perubahan iklim dan resistensi obat, meningkatkan risiko infeksi pada manusia.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved