Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Darren Aronofsky menyatakan sudah saatnya para pelaku industri film harus berupaya lebih hijau. Meski tidak sebesar industri lainnya, emisi karbon dari kegiatan perfilman harus dikurangi bahkan diupayakan menjadi netral karbon.
Demikian salah satu topik perbincangan Aronofsky bersama dua sineas Indonesia, Timo Tjahjanto dan Rayya Makarim, di Mola TV, Selasa (24/11). Aronofsky yang meraih nominasi Sutradara Terbaik Oscar lewat Black Swan (2010) mengaku sudah berupaya lebih hijau, dengan meminimalkan sampah di lokasi syuting.
Contohnya adalah dengan melarang penggunaan botol minum plastik sekali pakai, Sebagai gantinya, ia menyediakan titik-titik isi ulang air minum.
“Membuat film itu juga menghasilkan polusi. Ya meski memang tidak sebesar dari yang dihasilkan militer AS misalnya. Tapi pada dasarnya, saya berpikir kita juga harus bertanggung jawab (terhadap lingkungan). Sebenarnya apa pun bisnis yang kita geluti. Harus peduli terhadap pengurangan karbon, dan berupaya untuk menuju netral karbon,” kata pria berusia 51 tahun itu.
Selain pengurangan limbah plastik, Aeonofsky dan beberapa rekannya juga berupaya untuk tidak membuang makanan sisa. Mereka menyumbangkan makanan tersebut pada kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Beberapa ide untuk industri film yang ramah lingkungan, menurutnya, juga bisa dipikirkan lewat penanaman pohon dan menyusun peraturan yang lebih ramah lingkungan di lokasi syuting.
“Penting untuk bisa menjadi netral karbon, meski itu susah tapi ada beberapa ide yang bisa dicoba menggunakan waktu, energi, dan kekuatan kita. Apa kontribusi kita? Sudah bukan lagi berpikir membuat film hanya untuk hiburan. Itu memang tetap penting, tapi ada tanda tanya besar juga saat ini,” kata pria yang juga sutradara film Mother! (2017) ini.
Aronofsky mengaku sensibilitasnya terhadap lingkungan sebenarnya sudah terbangun muda. Memiliki minat pada bidang sains, ia pernah terjun ke lapangan untuk pendidikan biologinya. Ketika itu, di Kenya pada 1985, dan setahun kemudian di Alaska.
“Saya (dulu) tidak bisa membayangkan, ketika di Alaska melihat gletser, ada es bisa sebiru itu warnanya. Saya belum pernah melihat hal yang seperti itu. Ya menjadi penting juga untuk kita yang saat ini hidup di dunia modern, untuk tetap terhubung dengan alam,” ungkap sineas yang juga pernah menempuh pendidikan antropologi di Harvard ini.
Pesan politisnya tentang lingkungan juga diselipkannya lewat Noah (2014). Film apokaliptik yang didasarkan pada kisah biblikal ini juga diintensikannya sebagai pesan untuk manusia modern terhadap tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini. Mitologi, baginya juga bisa punya impak yang signifikan terhadap penceritaan.
“Saya pikir, kapan terjadinya cerita, milik siapa cerita itu, bisa menjadi pengingat kita bagi manusia modern. Apa yang terjadi saat ini di dunia. Itu yang lebih menarik. Sejak saya muda dan memulai sebagai biologist, memandang Noah sebagai cerita apokaliptik, dan melihat isu penaikan muka air laut. Dan melihat sebagai kisah penyelamatan binatang. Jadi, bagaimana menggunakan cerita tersebut, apa yang terjadi saat ini dengan kemanusiaan kita.” tuturnya
Soal kisah mitologi, menurutnya juga dapat digali di Indonesia untuk diangkat ke film. “Jadi itulah yang akan membuat keterkaitan, perhatiannya bukan mengenai benar atau tidaknya suatu cerita. Misalnya saja, kalian di Indonesia tahu tentang Ikaros. Walau tidak tahu mendetail, kita tidak akan dibuat bertanya-tanya apakah cerita itu benar ada, tetapi pesannya jelas. Kisah tentang mitologi akan jadi kuat. Bisa belajar dari sana. Di Indonesia sendiri tentu banyak kisah-kisah mitologi, karena juga ada banyak masyarakat adat kan,” pungkasnya. (M-1)
KECINTAAN Justisia Dewi pada jam tangan, dan kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi salah satu sumber inspirasi usahanya. Ia menghadirkan Ma.ja Watch pada tahun 2021
PTPN IV PalmCo memperkuat mitigasi Karhutla 2026 melalui kolaborasi dengan TNI-Polri dan pemantauan digital berbasis AI ARFINA.
Robot bawah laut otonom Mako diuji di Great Barrier Reef untuk menanam benih lamun secara presisi. Teknologi ini diklaim mampu mempercepat restorasi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan PLTSa di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
sudah ada inovasi dalam mengatasi masalah sampah dalam skala rumah tangga hingga satu desa.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Advanced Energy Materials, para ilmuwan berhasil mengembangkan metode untuk mengubah sampah plastik menjadi asam asetat, bahan utama cuka.
Program inovatif BTN ubah sampah plastik jadi kredit cicilan rumah. Warga bisa meringankan beban dengan menukarkan limbah rumah tangga jadi tabungan.
Masaaki Okamoto menyebut pertumbuhan ekonomi, digitalisasi, serta urbanisasi yang pesat menjadi faktor utama meningkatnya produksi dan maraknya konsumsi plastik di dunia.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menargetkan pembiayaan pembangunan hingga 20.000 unit rumah rendah emisi pada tahun 2026.
Pekerja mengolah sampah tutup botol plastik di Bank Sampah Kertabumi, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.
Memakai galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved