Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN iklim dikhawatirkan berdampak pada perubahan habitat atau kondisi di suatu daerah. Pulau karang yang dekat dengan laut, misalnya, dikhawatirkan akan tenggelam seiring dengan kenaikan muka air laut. Bahkan, hal itu bisa menjadi malapetaka bagi negara dengan wilayah pulau kecil seperti Kiribati dan Tuvalu.
Namun, kekhawatiran itu sedikit mereda. Menurut studi terbaru, pulau tersebut 'naik' secara alami bersamaan dengan naiknya permukaan laut. Hal itu disebabkan penumpukan sedimen yang didorong gelombang air laut. Adaptasi atas kenaikan muka air laut itu, terjadi di pulau kecil dan dataran rendah yang tersebar di sekitar Pasifik dan Karibia.
Peneliti dari University of Plymouth menghabiskan waktu 3 tahun untuk mengamati pulau-pulau terumbu karang, seperti yang ada di Maladewa dan Kepulauan Marshall. Mereka menemukan pasang-surut air laut ternyata menggerakkan sedimen ke daratan. Tumpukan sedimen itu lalu membuat daratan naik lebih tinggi.
"Wacana dominan adalah bahwa sebuah pulau akan tenggelam akibat perubahan iklim. Dan hasil dari itu adalah pertahanan (garis) pantai dan relokasi ... Kami pikir ada lebih banyak lintasan (cara bertahan) untuk pulau," kata ahli geomorfologi University of Plymouth Gerd Masselink sebagaimana dilansir South China Morning Post, Jumat (19/6).
Negara-pulau berdataran rendah dinilai berisiko dengan semakin kuatnya badai dan meningkatnya muka air laut. Solusi yang kerap diajukan adalah pembangunan tanggul laut, relokasi permukiman dari bibir pantai, dan perbaikan ekosistem pesisir.
Menurut Masselink, memang puluhan ribu pulau terumbu karang dunia sebagian besar tidak berpenghuni. Namun, ada pula yang dihuni. Sedangkan pulau kecil yang berpenghuni, penduduknya bergantung pada industri pariwisata.
Secara garis besar, pulau-pulau kecil itu adalah dataran rendah berpasir atau berkerikil yang berada di atas platform terumbu karang hidup. Meskipun demikian, pulau-pulau tersebut memang memiliki struktur yang berbeda satu sama lain karena pengaruh cuaca dan pola gelombang yang juga berbeda.
Pulau-pulau itu sudah terbentuk sejak ratusan ribu tahun yang lalu oleh gerak gelombang dan timbunan material karang ataupun sedimen, hingga menciptakan daratan yang lebih tinggi. Menurut Masselink, hal itu adalah mekanisme pertahanan alami yang terus berlanjut.
Studi itu diterbitkan dalam Jurnal Science Advances. Para peneliti juga membangun model terumbu karang dan pulau plus simulasi kenaikan air laut. Mereka lalu menggunakan komputer untuk mereplikasi respons pulau tersebut terhadap muka laut yang lebih tinggi.
Hasilnya, penduduk pulau dengan ruang yang cukup dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dengan memilih infrastruktur tahan iklim yang memungkinkan banjir sesekali, seperti bangunan di atas panggung dan rumah yang dapat dipindahkan. Selain itu, pengerukan pasir dan sedimen karang di laguna pulau lalu memindahkannya ke pantai juga dapat membantu proses alami meningkatkan kepulauan tersebut.
Sebaliknya, yang harus diwaspadai adalah dinding laut karena bisa membahayakan kemampuan alami pulau untuk menyesuaikan diri dengan naiknya permukaan laut.
"Jika Anda menghentikan banjir (rob) di pulau, Anda juga menghentikan pergerakan endapan pada pulau," kata Masselink.
Hideki Kanamaru dari FAO PBB mengatakan, studi itu bisa memberikan perspektif baru tentang bagaimana negara-negara kepulauan bisa mengatasi tantangan kenaikan permukaan laut. Tetapi, bahkan jika pulau-pulau dapat beradaptasi secara alami dengan laut yang lebih tinggi dengan menaikkan puncaknya sendiri, manusia masih perlu menggandakan perlindungan dari pemanasan global dan bagi populasi pulau. (M-4)
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved