Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
COVID-19 diketahui lebih mudah menjangkiti bagi mereka yang berada di kelompok rentan, seperti lansia dan orang-orang yang mengidap penyakit kronis sebelumnya. Namun laporan terbaru Scientific American mengungkapkan bahwa selain kelompok rentan tersebut, risiko infeksi covid-19 juga berpotensi meningkat bagi mereka yang merokok atau menghisap vape (rokok elektrik).
“Baik perokok jangka panjang dan pengguna rokok elektrik, berisiko tinggi mengembangkan kondisi paru-paru kronis yang telah dikaitkan dengan kasus covid-19 yang lebih parah,” terang laporan Scientific American.
"Para ilmuwan, oleh karena itu, melihat masuk akal untuk mengasumsikan bahwa merokok tembakau — dan mungkin merokok elektrik— dapat meningkatkan risiko mengembangkan infeksi serius dari coronavirus,” tambahnya.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa merokok merusak sistem kekebalan tubuh, menghambat kemampuan tubuh melawan infeksi, serta meningkatkan peradangan pada tubuh.
Sementara itu, Kepala Pulmonologi Pediatrik di New York University (NYU) Winthrop Hospital, Melodi Pirzada, mengatakan sangat masuk akal bahwa sekali seseorang memiliki riwayat merokok atau menghisap vape, seluruh saluran udara dan mekanisme pertahanan paru-parunya akan berubah.
“Semua hal ini membuat saya percaya bahwa kita akan memiliki kasus yang lebih parah — terutama pada orang yang merokok atau menghisap vape jangka panjang,” ungkap kepala pulmonologi pediatrik di New York University (NYU) Winthrop Hospital, Melodi Pirzada kepada Scientific American, mengutip Fox News.
Seorang profesor biologi sel dan fisiologi dari University of North Carolina di Chapel Hill, AS, Robert Tarran, mengatakan merokok diketahui menjadi faktor risiko dari influenza. Menurutnya, orang-orang yang merokok tertekan kekebalannya sampai batas tertentu. Adapun risiko dari merokok elektrik menyangkut terjangkit infeksi virus belum banyak diteliti. Namun ia mencatat, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa merokok elektrik lebih berpeluang besar mendapatkan infeksi pernapasan.
“Mereka (perokok) membuat lebih banyak mukus (lendir), itu tidak dapat membersihkan paru-paru dengan baik. Ada perubahan pro-inflamasi, sel imun juga berubah. Dan semua itu mengarah pada dasarnya, mereka lebih mungkin untuk mendapatkan virus, dan memiliki hasil yang lebih buruk,” tutur Tarran.
Adapun berdasarkan penelitian di Tiongkok menemukan bahwa lebih banyak proporsi laki-laki dirawat di rumah sakit karena infeksi koronavirus dibandingkan perempuan. Studi tersebut kemudian menariknya dengan fakta bahwa di Tiongkok jauh lebih banyak laki-laki yang merokok ketimbang perempuan.
Sementara studi lain yang diterbitkan di Chinese Medical Journal dengan melibatkan 78 pasien covid-19, menunjukkan bahwa mereka yang memiliki riwayat merokok memiliki risiko 14 % lebih tinggi terkena pneumonia atau radang paru-paru - yang menjadi penyakit paling umum setelah terinfeksi covid-19.
Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk secara konkret menghubungkan merokok dengan covid-19. Namun berdasarkan apa yang sudah diketahui tentang bahaya merokok kiranya masuk akal untuk mengurangi risiko infeksi covid-19 dengan berhenti merokok dan menghisap vape - selain ada banyak manfaat kesehatan lainnya yang didapat. (M-4)
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
DALAM beberapa minggu terakhir, rumah sakit dan klinik di wilayah Jabodetabek mencatat peningkatan signifikan pasien dengan gejala flu yang mirip covid-19.
KEPALA Biro Komunikasi dan Persidangan Kemenko PMK, Budi Prasetyo, mengatakan pemerintah berencana pola penanganan tuberkulosis (Tb)) akan dilakukan secara terpadu seperti covid-19.
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan data program keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan secara rutin seperti laporan covid-19 pada saat pandemi lalu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved