Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA yang berbeda dengan pameran fotografi yang disajikan oleh Darwis Triadi bulan ini. Mengambil tajuk 'Perempuan yang Tak Bisa Dieja', Fotografer senior yang karya-karyanya sering tampil di beberapa majalah kaliber nasional maupun internasional ini, sengaja mengajak dua orang seniman dari disiplin yang berbeda untuk berkolaborasi dalam eksibisi peringatan 40 tahun berkarya 'Merajut Nusantara'.
Mereka adalah Maestro Sastra Indonesia Sapardi Djoko Damono dan Desainer Kebaya Kenamaan Tanah Air, Fera Anggraeni. Bertempat di Museum Nasional, Jakarta, Pameran kolaborasi ini diselenggarakan dari 20 Februari 2020 hingga 20 Maret 2020.
Eksebisi kolaborasi tiga seniman ini sengaja mengusung konsep 'lintas-wahana' yaitu interpretasi seni dalam media yang berbeda. Dalam pameran tersebut turut dihadirkan sajak-sajak Sapardi yang bertemakan perempuan yang diinterpretasikan oleh Darwis dan Fera dalam media yang berbeda. Puisi yang berjudul 'Perempuan yang Tak Bisa Dieja' dari penyair 79 tahun itu pun dipilih sebagai tajuk utama dalam pameran kolaborasi ini.
"Ini sangat menarik, siapa yang tidak mengenal Sapardi Djoko Damono, beliau adalah seorang penulis yang luar biasa dan saya rasa beliau ini merupakan seorang legenda hidup sampai sekarang ini. Beliau mulai menulis sejak tahun 50-an dan sampai detik ini masih produktif menulis, tulisan-tulisan beliau tersebutlah yang akan mengerangkai pameran kolaborasi kali ini tentu saja bersama dengan desain-desain kebaya dari Fera," terang Darwis dalam pembukaan Pameran Kolaborasi Lintas Generasi 'Perempuan yang Tak Bisa Dieja'.
Karya indah dari tiga seniman lintas disiplin itu pun dapat menyatu dan saling melengkapi secara estetik dalam satu perspektif visual yang khas ketika dipersandingkan antara satu dengan yang lain. Proses penyatuan tersebut pun diabadikan dalam bentuk buku 'Art Photography' yang berjudul sama, 'Perempuan yang Tak Bisa Dieja'. Buku 'Art Photography' inilah yang dirilis untuk mengawali pameran kolaborasi yang akan berlangsung hingga 20 Maret nanti.
"Bagi saya ini adalah pameran besar saya, sekalian juga ada peluncuran buku kolaborasi saya dengan Pak Sapardi dengan Fera, kebetulan ini semua temanya tentang Kebaya. Buat saya ini sangat luar biasa karena bisa dipertemukan dengan Fera dan Pak Sapardi," terang Darwis.
Sapardi mengaku terkesan dengan pameran tersebut dan tidak malu belajar dengan generasi yang lebih muda darinya. Penulis sajak 'Hujan di Bulan Juli' ini mengaku iri dengan anak-anak muda yang berprestasi dan mau memberikan kontribusi yang nyata bagi Tanah Air.
"Mereka itu sangat luar biasa, makanya saya memaksakan diri untuk belajar dari yang muda-muda ini," ungkap penyair kelahiran Surakarta ini kepada Media Indonesia.
"Ini adalah pameran lintas-wahana, jadi dari puisi saya, seniman lain menginterpretasikan ide yang saya tulis ke dalam media seni yang lain. Itu yang namanya lintas-wahana, dan menurut saya Mas Darwis dan Fera berhasil mewujudkan apa yang saya tulis dalam karya-karya mereka yang medianya berlainan," tambah penyair yang juga dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. (M-4)
Kemitraan strategis ini adalah jawaban atas kebutuhan pasar Indonesia yang terus berkembang, khususnya di segmen fotografi gaya hidup.
Program Studi Ilmu Komunikasi UniversitasDian Nusantara (Undira) menggelar pameran fotografi bertajuk Kreativitas Tanpa Batas dalam Lensa .
Kekayaan budaya Indonesia kembali diperkenalkan ke publik melalui medium fotografi dalam ajang vivo Imagine Awards 2025.
VIVO resmi merilis ponsel flagship teranyar mereka di tanah Air, adalah Vivo X300 dan X300 Pro. Lewat ponsel itu, vivo menghadirkan loncatan besar dalam inovasi teknologi kamera,
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan aktivitas fotografi di ruang publik, tidak dikenai biaya.
Pameran Fotografi Indonesia 80 Tahun Keberagaman, Potret Bangsa dalam Lensa
Dalam pandangan Gol A Gong sastra berfungsi sebagai ruang jeda dari banjir informasi digital yang dangkal.
SAYEMBARA Novel DKJ 2025 telah mengumumkan pemenangnya semalam, Rabu, (5/11) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Kemendikdasmen melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menegaskan komitmen negara terhadap pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa serta sastra.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), menggelar rangkaian kegiatan strategis dalam rangka penguatan literasi dan sastra, serta revitalisasi bahasa daerah di Jawa Tengah.
Aprinus mencontohkan, beberapa karya yang kandungan SARA, yakni pada novel Salah Asuhan yang pada draf awalnya disebut menyinggung ras Barat (Belanda).
Sastra sebagai suatu ekspresi seni berpeluang mempersoalkan berbagai peristiwa di dunia nyata, salah satunya adalah persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved