Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
MENCAIRNYA lapisan es beku (permafrost) yang terjadi secara besar-besaran di kawasan Kutub Utara, diperkirakanberdampak pada meningkatnya jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer hingga 50%.
Seperti dilansir dailymail.co.uk, para ahli mengkhawatirkan runtuhnya lapisan es (permafrost) yang terjadi di kawasan Kutub Utara berpotensi melepaskan gas rumah kaca yang telah terperangkap selama ribuan tahun di dalamnya.
Permafrost di Kutub Utara mengandung batu, tanah, pasir, dan kantong-kantong es yang masih murni. Kandungan karbonnya juga sangat kaya karena terdiri dari sisa-sisa makhluk hidup seperti tanaman, hewan, dan mikroba yang pernah hidup di Kutub Utara. Kandungan ini tidak terurai selama ribuan tahun karena membeku dalam jangka waktu relatif lama.
Lapisan Permafrost di Kutub Utara yang diprediksi mencair secara ekstrem dalam beberapa dekade ke depan ini, meliputi area yang hampir sebesar gabungan Kanada dan Amerika Serikat. Area ini diperkirakan menampung sekitar 1.500 miliar ton karbon, atau setara dengan 2 kali lipat karbon dari yang sekarang ada di atmosfer bumi.
"Pencairan ekstrem terdekat diperkirakan menyasar 20 % dari lahan beku di Kutub Utara, hal itu diproyeksi akan meningkatkan pelepasan karbon sekitar 50% di atmosfer," terang Dr. Merritt Turetsky selaku ahli ekologi dari University of Colorado.
Sebagian wilayah di Kutub Utara, tepatnya di sebagian kawasan sub Artik dan Rusia bagian utara, dahulu merupakan lahan dengan topografi curam, kini sudah mulai melunak karena banyak tebing es yang mulai mencair. Pencairan yang tak terduga ini seringkali bahkan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat yang mendiami lokasi tersebut.
Hingga saat ini masih belum bisa dipastikan jumlah metana dan karbon dioksida yang lepas akibat runtuhnya permafrost di kawasan ini.
"Kami memperkirakan bahwa pencairan lapisan es mendadak di kawasan Kutub Utara ini akan melepaskan sebanyak 60 hingga 100 miliar ton karbon ke atmosfer hingga tahun 2300," ujar Dr. Turetsky.
Namun sangat disayangkan model perhitungan iklim saat ini tidak memperhitungkan kemungkinan keruntuhan permafrost yang terjadi dan jumlah gas yang mungkin dilepaskan akibat keruntuhan tersebut.
"Pencairan permafrost ini terjadi tiba-tiba dan sangat cepat. Hutan dapat menjadi danau, tanah longsor dapat terjadi tanpa peringatan, dan lubang metana yang tidak terlihat sewaktu-waktu bisa melepaskan berton-ton gas metan ke atmosfer," pungkas Dr Turetsky.
Temuan lengkap dari penelitian ini juga dapat dibaca dalam jurnal Nature Geoscience. (M-4)
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Penelitian terbaru menunjukkan jamur patogen seperti Aspergillus berpotensi menyebar lebih luas akibat perubahan iklim dan resistensi obat, meningkatkan risiko infeksi pada manusia.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Peneliti menemukan bahwa kenaikan kadar CO2 di atmosfer mulai mengubah kimia darah manusia, termasuk kenaikan bikarbonat yang signifikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved