Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Mimpi sekadar bunga tidur? Itu kata orang zaman dulu. Mimpi ternyata dapat membantu kita mempersiapkan diri menghadapi situasi tertentu. Itu menurut suatu riset kecil yang didanai pemerintah AS.
Para peneliti dari Swiss dan AS melakukan percobaan aneh terhadap 18 orang, dengan memasang elektroda untuk memantau aktivitas otak mereka di malam hari. Mereka menemukan sebuah pola menarik selama para responden yang mereka teliti mengalami mimpi buruk, seperti dilansir oleh dailymail.co.uk (29/11).
Para peneliti menemukan adanya aktivitas tinggi di daerah otak, yang disinyalir merupakan upaya bawah sadar untuk mengendalikan emosi. Merujuk pada temuan tersebut para peneliti menyimpulkan bahwa, pada orang yang mengalami mimpi buruk, daerah otak emosional mereka akan merespons lebih cepat dan lebih efisien daripada mereka yang tidak mengalami mimpi tersebut
Lampros Perogamvros, salah satu peneliti yang bekerja di Universitas Jenewa mengatakan, "Kami sangat tertarik pada rasa takut ketika seseorang mengalami mimpi buruk, area otak mana yang diaktifkan ketika kita mengalami mimpi buruk?"
Eksperimen pertama dalam penelitian ini merupakan inisiasi dari National Institutes of Health yang kemudian diterbitkan dalam jurnal Human Brain Mapping, untuk membantu para peneliti mengidentifikasi fenomena mimpi buruk yang hadir di otak manusia secara real time.
"Dengan menganalisis aktivitas otak berdasarkan responnya, kami dapat mengidentifikasi dua wilayah otak yang terlibat dalam induksi rasa takut yang dialami selama mimpi, yaitu insula dan korteks singulata," terang Perogamvros.
Insula melepaskan respons rasa takut kita di saat-saat bahaya, sementara korteks cingulate mengendalikannya.
"Untuk pertama kalinya, kami telah mengidentifikasi korelasi saraf rasa takut ketika seseorang mengalami mimpi buruk, dan telah mengamati bahwa daerah yang sama dalam otak manusia diaktifkan ketika mereka mengalami rasa takut di kondisi tidur maupun terjaga," tambahnya.
Kesimpulan mereka adalah bahwa, sampai batas tertentu, mimpi buruk tampaknya bermanfaat, membantu menguatkan seseorang dalam menghadapi pengalaman yang menegangkan.
Eksperimen kedua membantu memahami dampak mimpi buruk secara psikologis maupun fisiologis terhadap otak manusia.
Virginie Sterpenich yang merupakan seorang peneliti Neuroscience di University of Geneva mengatakan, "Kami menunjukkan kepada setiap peserta gambar emosional-negatif, seperti penyerangan atau situasi yang menyedihkan... untuk melihat area otak mana yang lebih aktif merespon rasa takut, dan apakah area yang diaktifkan berubah sesuai dengan emosi yang dialami ketika bermimpi beberapa minggu sebelumnya."
Ternyata di luar insula dan korteks singulata, para peneliti melihat amigdala dan korteks prefrontal yang juga menunjukan aktivitas kerja pengendalian emosi.
"Kami menemukan bahwa semakin lama seseorang merasa takut dalam mimpi mereka, maka kerja dari insula dan cingulate-nya semakin sedikit. Berganti dengan amygdala, yang aktif ketika orang melihat gambar-gambar visual negatif. Selain itu, terdapat peningkatan aktivitas di korteks prefrontal medial untuk menghambat amigdala, ketika rasa takut mereka meningkat," tambahnya.
Meski begitu, para peneliti juga berkesimpulan bahwa mimpi buruk yang traumatis dan mengerikan berpotensi menyebabkan stres dan insomnia yang mungkin akan menjadikan seseorang kontraproduktif setelah mengalaminya. (M-2)
Perjalanan mudik yang panjang dan melelahkan sering kali menjadi pemicu kekambuhan bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Stres tidak hanya memengaruhi mental tetapi juga penampilan. Dari jerawat hingga rambut rontok, berikut 10 perubahan pada wajah dan tubuh akibat stres.
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Stres menjadi WNI adalah fenomena yang dapat dialami oleh seseorang karena berbagai faktor, tidak semua orang juga mengalaminya.
Cara seseorang merespons tekanan mental sangat menentukan apakah mereka akan terjatuh ke dalam jerat kecanduan atau tidak.
MASALAH finansial yang memicu stres ternyata dapat merusak kesehatan jantung. Hal itu diungkapkan dalam studi yang dirilis oleh Mayo Clinic Proceedings.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved