Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
Para orang tua baru mungkin mendapati betapa mengejutkannya dinamika emosi si buah hati. Suatu saat, ia berlari ke sana sini dengan riang. Semenit berikutnya, ia menangis frustrasi sambil melempar mainannya.
Para ahli percaya bahwa 'krisis' masa kanak-kanak ini sebenarnya merupakan kesempatan penting untuk mengajari si cilik untuk mengelola emosi yang kuat dan menenangkan diri pada usia dini -ketika ia membuat lompatan dalam pertumbuhan emosionalnya. Keluarga, tentunya menjadi lingkaran pertama yang terbaik dan teraman dalam merengkuh pelajaran hidup tersebut.
Ketika orang tua membantu anak memahami perasaan yang luar biasa, seperti kemarahan, frustrasi, bingung, itu berarti membantunya mengembangkan kecerdasan emosional. EQ istilah kerennya.
Anak dengan EQ tinggi, lebih mampu mengelola perasaan dan emosinya, dapat memahami dan berhubungan baik dengan orang lain, serta lebih mudah membentuk persahabatan yang kuat daripada anak dengan EQ rendah. Di masa dewasa, mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi biasanya menjadi sosok yang percaya diri, juga terampil menavigasi hubungan interpersonal.
Untuk membantu anak mengembangkan EQ, ada beberapa kiat dasar yang dirangkum situs parenting Babycenter.com. Apa saja?
1. Menyimak
Terkadang, hal yang paling dibutuhkan anak ialah untuk didengar. Setelah mengekspresikan perasaannya, ia bisa berlanjut ke hal lain. Move on, maksudnya.
Agar ia merasa aman berbagi perasaan, ia perlu tahu Anda sepenuhnya hadir dan menyimak. Tahan keinginan untuk mencoba membantunya merasa lebih baik segera, dan dengarkan saja sesabar mungkin.
2. Namai perasaannya
Balita memiliki kosa kata terbatas dan hanya memiliki pemahaman dasar tentang sebab dan akibat. Alhasil, mereka sering kesulitan menyampaikan perasaan mereka, yang tak berujung menjadi frustrasi.
Dorong anak Anda untuk kosa kata emosional dengan melabeli perasaannya lewat teknik refleksi. Contoh, jika ia kelihatan kecewa karena batal ke taman, Anda bisa berkata, "Adek sedih karena batal pergi?"
Anda juga dapat memberi tahu dia bahwa memiliki emosi yang bertentangan atau campur aduk tentang sesuatu ialah hal lumrah. Misalnya, dia mungkin bersemangat dan takut selama minggu pertama di tempat penitipan anak.
3. Validasi emosi
Alih-alih memberi tahu anak Anda bahwa tidak perlu marah dan membuat ulah karena gagal menyusun puzzle, lebih baik akui betapa alami reaksinya. Misalnya dengan berkata, "Kesal ya kalau kita enggak bisa selesaikan puzzle-nya."
Atau, jika ia marah karena Anda sedang memperhatikan adiknya, tarif nafas, dan katakan, "Ibu tahu susah bagi kakak kalau Ibu sedang nemenin adik bayi. Kakak berharap ibu hanya untuk kakak, ya?"
Dengan teknik cermin untukmerefleksikan perasaannya dan memberi tahu dia bahwa itu tidak apa-apa, Anda sekaligus mencontohkan empati. Dan Anda mendorongnya untuk terus berbagi perasaannya dengan Anda.
Yang penting adalah menerima perasaan anak Anda, daripada menunjukkan ketidaksetujuan. Jika dia merasa Anda tidak setuju atau keberatan, ia akan belajar bahwa emosi negatifnya memalukan, dan hanya emosi menyenangkan saja yang bisa diterima. Kemudian, alih-alih mempelajari cara yang tepat untuk mengekspresikan dan mengatur emosi yang tidak menyenangkan, ia akan menekan emosi-emosi tersebut yang suatu saat mungkin muncul dalam cara di luar kesadaran, seperti mimpi buruk atau perilaku agresif.
4. Gunakan amukan sebagai momen yang bisa diajar
Drama emosional ialah hal normal untuk balita, dan Anda dapat menggunakan ledakan ini sebagai peluang untuk membantu anak Anda belajar cara mengelola perasaan-perasaan besar.
Jika anak Anda 'meledak' di toko karena Anda tidak akan membelikannya camilan di kasir, validasi perasaannya terlebih dahulu. "Mama tahu kamu kecewa, marah, tapi tidak ada permen untuk hari ini, nak." Setelah badai berlalu, lakukan percakapan singkat dengannya dan bantu ia menamai perasaannya.
Jika dia marah ketika mengetahui dia memiliki janji dengan dokter, bantu dia merasa punya kendali dengan mempersiapkan kunjungan. Bicara dengannya tentang mengapa dia takut, apa yang bisa dia harapkan selama kunjungan, dan mengapa dia harus pergi. Berbicara melalui emosi bekerja dengan cara yang sama untuk anak-anak seperti halnya bagi kebanyakan orang dewasa.
5. Ajari pemecahan masalah
Ketika anak Anda berselisih dengan Anda atau anak lain, jelaskan batasannya dan arahkan dia ke solusi. Misalnya, Anda dapat mengatakan, "Ibu mengerti kamu kesal karena adik merobohkan menara lego. Tapi, kamu tidak bisa memukul adik. Coba, apa yang bisa kamu lakukan kalau marah?"
Jika anak Anda tidak punya ide, beri dia pilihan. Spesialis manajemen kemarahan, Lynne Namka, memberi tahu anak Anda untuk memeriksa perut, rahang, dan kepalan tangan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah mereka kencang, dan kemudian menunjukkan cara bernapas dalam-dalam "untuk meniupkan kemarahan ke luar." Tunjukkan padanya bahwa rasanya enak mendapatkan kembali kendali diri.
Kemudian, saran Namka, bantu anak Anda untuk mengungkapkan kemarahannya dengan suara kuat. Umpama, "Aku marah kalau kamu berteriak kayak gitu."
Anak-anak harus tahu bahwa mereka boleh marah dan mengungkapkannya, asalkan tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain karena alasan itu.
6. Berikan contoh yang baik
Anda juga perlu memahami bagaimana Anda bereaksi terhadap berbagai emosi si kecil Penting untuk tidak bersikap kasar saat Anda marah. Coba katakan, "Ibu kesal kalau kamu melempar-lembar balok" ketimbang "Kamu bikin Ibu gila."
Upayakan agar reaksi Anda membuat anak memahami bahwa yang menjadi masalah ialah perilakunya, bukan dirinya. Hati-hati agar tidak mengucapkan kritik berlebihan yang bisa merusak kepercayaan dirinya yang tengah dibangun.
Meski begitu, jangan abaikan perasaan Anda. Banyak orang tua mengabaikan emosi negatif mereka, berharap membebaskan anak-anak mereka dari ketidaknyamanan atau kesulitan. Namun, menyembunyikan perasaan Anda yang sebenarnya tidak akan menjadi contoh baik. Dengan mengakui bahwa Anda tidak senang tanpa bertingkah kesal atau destruktif, Anda menunjukkan kepada anak Anda bahwa perasaan sulit pun dapat diatasi.
7. Terus berbagi
Seiring bertambahnya usia balita Anda, mungkin ia mulai dapat menghubungkan perasaannya dengan pengalaman orang lain, termasuk pengalaman Anda. Jika dia takut memulai prasekolah, misalnya, Anda dapat memberi tahu dia betapa gugupnya Anda ketika memulai pekerjaan baru dan bagaimana seorang teman membantu Anda merasa lebih baik.
Atau, ketika dia iri pada saudara kandungnya, ceritakan kepadanya saat Anda merasa tersisih karena saudara Anda mendapatkan sesuatu yang istimewa dan apa yang kemudian membuat Anda merasa lebih baik.
Cari buku, lagu, cerita, atau gim yang berhubungan dengan pengalamannya. Ketika Anda menonton pertunjukan bersama, bicarakan tentang apa yang mungkin dirasakan oleh karakter-karakter tersebut. Dia akan belajar bahwa dia tidak sendirian, dan bahwa ada banyak cara sehat untuk mengelola perasaan. (M-2)
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Masyarakat diingatkan untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi meski dengan anggaran terbatas.
Kesiapan fisik dan mental adalah fondasi utama agar perjalanan mudik berlangsung aman.
SETELAH 10 tahun menjalin hubungan asmara, pasangan bintang Korea Selatan Kim Woo-bin dan Shin Min Ah akhirnya melangkah ke jenjang pernikahan
Teknik yang bisa dilakukan dalam membantu mengendalikan diri agar tidak implusif dalam pengambilan keputusan finansial, yaitu dengan teknik S-T-O-P.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved