Rabu 05 Juni 2019, 12:15 WIB

Perubahan Iklim Suburkan Infeksi Jamur pada Pisang

Tosiani | Weekend
Perubahan Iklim Suburkan Infeksi Jamur pada Pisang

Unsplash/Eiliv-Sonas Aceron
Wabah yang menyerang tanaman pisang di Amerika Latin dan sekitarnya termasuk jenis jamur.

 


Penyakit tanaman jamur dari Asia telah menyebar ke daerah penghasil pisang di Amerika Latin dan Karibia sejak 1960-an. Penelitian terbaru menunjukan penyebaran infeksi tanaman yang amat merusak ini ternyata dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Diberitakan Koam News Now, penyakit ini dikenal dengan sigatoka hitam atau goresan daun hitam. Buah dari tanaman yang terinfeksi ini dapat anjlok hingga 80%. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal biologi Philosophical Transaction of the Royal Society B.

Dan Bebber, penulis studi dan dosen senior ekologi mikroba di University of Exeter menyebut penyakit itu termasuk sejenis jamur, yang menyerang daun tanaman pisang hingga tidak bisa menghasilkan buah banyak.

Pertama kali dilaporkan di Honduras pada tahun 1972, Sigatoka Hitam telah menyebar ke seluruh wilayah itu. Sampai di Brasil pada 1998 dan menyebar ke pulau-pulau Karibia di Martinik, St.Lucia dan St.Vincent dan Grenadines pada akhir 2000 an. Pada Agustus 2004 penyakit ini muncul di Puerto Rico. Saat ini, wabahnya telah mencapai utara Florida.

"Penyakit ini dikendalikan oleh semprotan fungisida. Para petani pisang di Kosta Rika misalnya harus menyemprot 40 hingga 80 kali per tahun. Ini sangat mahal, menelan biaya sekitar US$100 juta per tahun," kata Bebber.

Perubahan iklim secara signifikan mengubah distribusi spesies di alam. Studi baru menggabungkan data eksperimental pada infeksi sigatoka hitam dengan informasi iklim rinci selama 60 tahun terakhir untuk memahami seberapa cepat penyebaran telah terjadi di Amerika Latin dan Karibia.

Risiko infeksi meningkat rata-rata 44,2% di seluruh wilayah penanaman pisang di Amerika Latin dan Karibia sejak 1960 an hingga dekade ini. Ini karena kondisi basah dan perubahan suhu menguntungkan bagi patogen.

"Kami tidak tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan. Di tempat-tempat dimana iklim menjadi lebih basah, penyakitnya akan lebih buruk. Tapi di tempat-tempat yang semakin kering dari waktu ke waktu, penyakit ini tidak akan seburuk itu, meskipun di sana pengelolaan air akan diperlukan karena pisang adalah tanaman yang haus," kata Bebber. (M-2)

BACA JUGA: Ide Makanan Lebaran dari Sang Master

Baca Juga

Dok Vision+

Serial Drama Kehidupan Tradisional di Era Modern Royal Blood Bakal Dirilis

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 10:20 WIB
Vision+ bekerja sama dengan Kantara Creative dan disutradarai oleh Eko Kristianto, Royal Blood akan dirilis secara resmi pada 17 Agustus...
unsplash.com/Lucian Dachman

Kenaikan Suhu di Malam Hari dapat Memicu Tingkat Kematian Hingga 60%

👤Nike Amelia Sari 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 08:40 WIB
Para peneliti dari UNC Gillings School of Global Public Health menjelaskan bahwa panas sekitar semalaman dapat mengganggu fisiologi normal...
unsplash.com/ Eliott Reyna

Berjalan Kaki setelah Makan dapat Menurunkan Risiko Diabetes

👤Nike Amelia Sari 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 08:31 WIB
Berjalan kaki 60 hingga 90 menit setelah makan adalah waktu yang optimal karena pada saat inilah kadar gula darah biasanya memuncak dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya