Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Nissa Zahra Hatiku buat Ayah

GALIH AGUS SAPUTRA [email protected]
06/4/2019 04:00
Nissa Zahra Hatiku buat Ayah
Nissa Zahra pada 2010, ia mendonorkan hatinya untuk ayahanda tercinta, Abdul Mukri(MI/SUMARYANTO BRONTO)

Kali ini Kick Andy akan mengangkat cerita pengorbanan orang yang mengikhlaskan organ tubuh mereka demi menyelamatkan nyawa orang lain.

KASIH sayang orangtua kepada anaknya tentu sangat luar biasa. Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang amat sayang kepada orangtuanya tentu akan menempuh berbagai cara untuk membahagiakan, bahkan untuk menyelamatkan hidup mereka. Seperti yang dilakukan Nissa Zahra pada 2010, ia mendonorkan hatinya untuk ayahanda tercinta, Abdul Mukri yang didiagnosis menderita Hepatitis B akut, pada 2005.

Mula-mula, Abdul cukup kaget ketika dokter memvonis dirinya hanya akan bertahan hidup dalam dua bulan ke depan. Hepatitis B stadium akhir yang dideritanya berujung pada sirosis hati, dan kemudian ia harus berjuang lewat berbagai macam jenis pengobatan. Dalam kurun waktu lima tahun dari 2005 hingga 2010, Abdul bahkan harus keluar masuk rumah sakit untuk menjalani serangkaian proses pengobatan. Kondisi fisiknya sudah amat memprihatinkan.

Abdul sering merasakan perut kembung, muntah-muntah, bahkan matanya kuning dan badannya lemas. Kedua kakinya bengkak, bahkan sudah tidak bisa dibedakan lagi antara kaki dan paha. Dokter mengatakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kesehatannya ialah dengan cara transplantasi hati. Seperti yang pernah dilakukan Dahlah Iskan, yang kemudian membuat Abdul terinspirasi.

Meski demikian, Abdul mengalami kendala terkait dengan biaya yang diperlukan untuk transplantasi hati. Biaya transplantasi di luar negeri susah untuk dipenuhi karena bisa mencapai miliaran rupiah. Hingga pada akhirnya pada 2010 itulah Abdul mengetahui ada program transplantasi hati di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan menjadi pasien transplantasi hati dewasa pertama di Indonesia.

Awalnya, adik Abdul bersedia untuk mendonorkan hatinya untuk sang kakak tetapi ternyata tidak cocok. Pendonor kemudian beralih kepada adik iparnya, tetapi pada kesempatan ini sang adik juga tidak jadi mendonorkan hatinya karena Abdul tidak tega meminta izin ke bapak mertuanya yang saat itu tengah sakit jantung. Nissa-lah yang kemudian dengan sungguh-sungguh ingin mendonorkan hatinya untuk sang ayah.

"Saat itu saya dan istri tidak setuju kalau anak saya yang mendonor. Dia adalah satu-satunya anak perempuan saya. Anak pertama dan baru dua bulan masuk kuliah. Masa depannya masih panjang, saya tidak mau kalau dia mencangkok hatinya untuk saya," kata Abdul.

Sebaliknya, Nissa mengaku tidak tega melihat ayahnya yang sering keluar masuk rumah sakit karena penyakit yang menimpanya. Nissa juga tidak tega melihat ayahnya yang pernah merayakan Lebaran di rumah sakit. Nissa bahkan sudah punya firasat sejak awal jika dirinya yang bakalan menjadi pendonor, dan berkat ketulusannya itulah, Abdul, istri, dan keluarga besar kemudian mengizinkan Nissa untuk dicangkok hatinya.

Setelah melalui serangkaian prosedur dari RSCM, Nissa kemudian dioperasi bersama ayahnya. Sebelumnya, Nissa juga sempat dikarantina untuk diberi asupan makanan bergizi karena saat itu berat badannya masih kurang. Setelah berat badan Nisa naik dan dirasa cukup, RSCM bersama tim transplantasi hati dari Tiongkok yang dipimpin Prof Shu-Sen Zheng kemudian melakukan operasi selama kurang lebih 13 jam.

"Begitu sadar dari operasi, saya kaget karena banyak sekali alat kesehatan yang menempel di tubuh saya. Tapi satu hal yang saya ingat saat itu adalah ayah dan ingin bertemu dengannya. Rumah sakit sebenarnya belum mengizinkan untuk bertemu, tapi saya meminta terus. Akhirnya saya pun diantar ke ruangan ayah, dan begitu saya melihat ayah tersenyum ke saya rasanya sangat bahagia," tutur Nissa. (M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya