Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Ini Alasan Logis Mengapa Kangkung Jarang Masuk Daftar Menu Pasien Rumah Sakit

Basuki Eka Purnama
17/2/2026 19:15
Ini Alasan Logis Mengapa Kangkung Jarang Masuk Daftar Menu Pasien Rumah Sakit
Ilustrasi(Pexels)

KANGKUNG dikenal sebagai salah satu sayuran paling populer di Indonesia. Harganya yang terjangkau dan rasanya yang lezat membuatnya menjadi menu rumahan yang hampir selalu ada di meja makan. Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa sayuran berdaun hijau ini hampir tidak pernah muncul dalam daftar menu pasien di rumah sakit?

Ketidakhadiran kangkung dalam menu fasilitas kesehatan ternyata bukan tanpa alasan. Dosen Departemen Gizi Masyarakat dari IPB University Dr. Hana Fitria Navratilova, SGz, MSc, PhD menjelaskan bahwa pemilihan menu di rumah sakit dilakukan melalui proses seleksi yang sangat ketat. Hal ini demi menjaga keamanan pangan dan menyesuaikan gizi dengan kondisi klinis pasien yang beragam.

Bukan Sekadar Masalah Kontaminan

Selama ini, muncul anggapan bahwa kangkung dihindari karena risiko kontaminasi logam berat yang tinggi. 

Namun, Hana menegaskan bahwa alasan utamanya bukan hanya itu. Ada faktor praktis dan medis yang jauh lebih mendesak bagi manajemen rumah sakit.

"Secara umum sayuran berdaun memang jarang disajikan pada menu rumah sakit karena selain alasan praktis seperti penyimpanan dan pengolahan, juga sayuran berdaun cenderung tinggi purin," ujar Hana.

Selain kadar purin, kandungan oksalat dan nitrat pada sayuran berdaun juga menjadi pertimbangan serius. 

Zat-zat ini perlu dibatasi konsumsinya bagi pasien rawat inap agar tidak memperburuk kondisi kesehatan mereka selama masa pemulihan.

Kendala Logistik dan Penyusutan Volume

Dari sisi manajemen dapur rumah sakit, kangkung memiliki kelemahan dalam hal daya tahan. 

Sayuran berdaun hijau memiliki karakteristik yang mudah layu dan harus segera diolah setelah diterima dari pemasok. 

Karena tidak dapat disimpan dalam waktu lama, rumah sakit cenderung memilih jenis sayuran yang lebih stabil dan mudah dikelola secara massal.

Selain masalah penyimpanan, ada faktor estetika dan porsi dalam penyajian. Hana menjelaskan bahwa sayuran berdaun memiliki tingkat penyusutan yang tinggi setelah dimasak.

"Sayuran berdaun mengalami penyusutan volume signifikan setelah dimasak sehingga kurang ideal saat penyajian. Karena itu, sayuran berdaun, tidak terbatas kangkung, jarang digunakan di rumah sakit," pungkasnya.

Standar Keamanan Pangan

Terkait isu logam berat, Hana menjelaskan bahwa kontaminasi sebenarnya bisa terjadi pada komoditas apa pun, mulai dari beras hingga hasil laut (seafood). 

Jika dikonsumsi melebihi batas aman dalam jangka panjang, kontaminan tersebut memang berbahaya bagi ginjal, hati, hingga risiko kanker.

Namun, meskipun kangkung diproduksi melalui metode hidroponik yang terkontrol dan lolos uji keamanan, standar diet rumah sakit tetap akan memprioritaskan sayuran yang paling aman bagi mayoritas pasien. 

Dengan kata lain, rumah sakit memprioritaskan menu yang risiko efek sampingnya paling rendah bagi semua jenis kondisi klinis yang sedang dirawat. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik