Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Matahari Buatan Tiongkok Lampaui Batas Fisika

Nadhira Izzati A
01/4/2026 16:19
Matahari Buatan Tiongkok Lampaui Batas Fisika
EAST (Experimental Advanced Superconducting Tokamak), Teknologi tokamak superkonduktor pertama di dunia.(Dok: Chinese Academy of Sciences)

TEROBOSAN besar dalam energi fusi nuklir kembali datang dari Tiongkok. Tim peneliti di Institut Fisika Plasma Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (ASIPP) berhasil melampaui salah satu batas paling keras dalam fisika tokamak, Batas Densitas Greenwald.

Melalui eksperimen pada reaktor EAST (Experimental Advanced Superconducting Tokamak), yang dijuluki 'matahari buatan', para ilmuwan sukses mengoperasikan plasma pada kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali di atas ambang teoritis, tanpa memicu keruntuhan plasma atau kerusakan reaktor.

Pencapaian ini, yang dipublikasikan di Science Advances, menandai langkah krusial menuju reaktor fusi yang benar-benar stabil.

Selama puluhan tahun, Batas Greenwald dianggap sebagai 'tembok kaca' teknologi tokamak. Ketika dilampaui, plasma biasanya menjadi tidak stabil, mendingin tiba-tiba, dan melepaskan energi yang berpotensi merusak dinding reaktor.

Namun tim yang dipimpin Zhu Ping, menemukan cara untuk mengakali batas tersebut melalui model baru, Plasma-Wall Self-Organization (PWSO). Model ini mengungkap bahwa kunci stabilitas terletak pada interaksi halus antara plasma dan dinding reaktor, area yang selama ini kurang dipahami.

Strategi mereka fokus pada fase paling kritis. start-up plasma. Dengan memanfaatkan pemanasan gelombang mikro (ECRH) dan tekanan gas awal yang lebih tinggi, tim berhasil:

  • Menekan kontaminasi dari dinding tungsten
  • Menjaga kemurnian plasma
  • Mengurangi kehilangan energi akibat radiasi

Hasilnya adalah plasma tetap stabil meski berada di atas batas teoritis.

ASIPP menyebut kondisi ini sebagai awal dari “wilayah bebas densitas”, rezim operasi baru di mana batas Greenwald tidak lagi menjadi penghambat utama. Ini merupakan prasyarat penting menuju ignisi fusi, yaitu kondisi ketika reaksi fusi mampu mempertahankan dirinya sendiri.

Eksperimen yang dilakukan di Hefei, Anhui, ini merupakan kolaborasi internasional antara ASIPP, HUST, dan Universitas Aix-Marseille (Prancis).

Lebih dari sekadar capaian teknis, keberhasilan ini memperkuat posisi EAST sebagai laboratorium global dalam perlombaan menuju sumber energi bersih yang nyaris tak terbatas.

Jika tren ini berlanjut, 'matahari buatan' bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan kandidat nyata masa depan energi dunia. (World Nuclear News/Earth/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya