Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Puncak Hujan Meteor Lyrids 2026 pada 22 April dan Cara Melihatnya

Nadhira Izzati A
26/3/2026 12:01
Puncak Hujan Meteor Lyrids 2026 pada 22 April dan Cara Melihatnya
Meteor Lyrid yang melesat di sepanjang Bima Sakti pada 22 April 2025. Foto: Jeremy Evans.(EarthSky)

FENOMENA langit tahunan, hujan meteor Lyrids, akan kembali menyapa Bumi pada April 2026. Peristiwa ini dijadwalkan berlangsung mulai tanggal 15-29 April, menandai periode di mana planet kita melewati aliran puing-puing komet di ruang angkasa.

Waktu terbaik untuk mengamati Lyrids di wilayah Indonesia adalah pada Rabu dini hari, 22 April 2026, mulai pukul 00.00 WIB hingga menjelang fajar (sekitar pukul 05.00 WIB). Puncak aktivitas global diprediksi terjadi pada pukul 19.15 UTC (atau pukul 02.15 WIB), yang berarti aktivitas meteor akan terlihat sangat jelas dan intens di langit Indonesia pada dini hari tersebut.

Kondisi pengamatan tahun ini tergolong istimewa. Mengingat fase bulan kuartal pertama baru akan jatuh pada 24 April, maka pada dini hari tanggal 22 April, bulan sabit sudah terbenam tak lama setelah tengah malam. Hal ini meninggalkan langit yang gelap pekat, memberikan momen sempurna untuk pengamatan meteor yang optimal.

Karakteristik Meteor dan Titik Radian di Indonesia

Dalam kondisi langit gelap tanpa gangguan cahaya bulan, pengamat di Indonesia dapat mengharapkan pemandangan sekitar 10 - 15 meteor per jam. Meski jumlahnya tergolong sedang, Lyrids memiliki reputasi dalam menghasilkan bola api yang terang serta meninggalkan jejak gas bercahaya yang bertahan selama beberapa detik di atmosfer. 

Pada tahun-tahun tertentu, Lyrids juga diketahui mengalami lonjakan intensitas atau "ledakan" yang menghasilkan hingga 100 meteor per jam, meskipun fenomena lonjakan ini sulit diprediksi secara akurat.

Titik asal meteor, atau yang dikenal sebagai titik radian, berada di dekat bintang Vega, yang merupakan bintang paling terang di rasi bintang Lyra. Di langit Indonesia, rasi Lyra akan muncul dari arah Timur Laut mulai tengah malam dan terus mendaki hingga mencapai titik tertingginya menjelang fajar. 

Mengingat posisi Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa, rasi Lyra memang tidak akan terlihat setinggi jika diamati dari Eropa atau Amerika. Meski demikian, peluang untuk menangkap kilatan meteor akan tetap meningkat seiring dengan semakin tingginya posisi bintang Vega di langit.

Panduan Pengamatan

Mengingat posisi Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa, titik radian rasi Lyra memang tidak akan terlihat setinggi jika diamati dari Belahan Bumi Utara seperti Amerika dan Eropa. Namun, masyarakat tetap dapat menikmati hujan meteor ini dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat bantu seperti teleskop atau teropong.

Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, berikut adalah beberapa tips pengamatan:

  • Pilih tempat yang jauh dari polusi cahaya kota, seperti area pantai, pegunungan, atau pedesaan terbuka.
  • Berbaringlah dengan santai dan berikan waktu sekitar 30 menit bagi mata Anda untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan total.
  • Tidak perlu menatap langsung ke titik radian (bintang Vega). Sebaliknya, arahkan pandangan sedikit ke area sekitarnya agar Anda dapat menangkap meteor dengan ekor yang lebih panjang.

Asal-usul dari Komet Thatcher

Hujan meteor ini merupakan sisa-sisa debu yang ditinggalkan oleh Komet C/1861 G1, atau yang lebih dikenal sebagai Komet Thatcher. Komet ini membutuhkan waktu sekitar 415 tahun untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi Matahari.

Meskipun komet induknya saat ini berada sangat jauh di luar tata surya dan baru akan kembali pada tahun 2283, jejak puing yang ditinggalkannya selalu berpapasan dengan orbit Bumi setiap tahun pada bulan April. Pertemuan tahunan inilah yang menciptakan pertunjukan "bintang jatuh" yang memukau bagi penduduk Bumi. (EarthSky/Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya