Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMET antarbintang 3I/ATLAS diperkirakan berusia hingga 12 miliar tahun, menjadikannya salah satu benda tertua yang pernah diamati di Tata Surya. Temuan ini berasal dari pengamatan menggunakan James Webb Space Telescope (JWST) dan dipublikasikan dalam penelitian awal yang masih menunggu proses peninjauan ilmiah. Informasi tersebut dilansir dari laporan yang dimuat di laman Live Science.
Komet 3I/ATLAS pertama kali ditemukan pada 2025 ketika melesat memasuki wilayah Tata Surya dengan kecepatan sekitar 221.000 kilometer per jam. Dari perhitungan lintasan dan kecepatannya, para ilmuwan segera menyimpulkan bahwa objek ini berasal dari luar Tata Surya.
Benda langit tersebut menjadi objek antarbintang ketiga yang pernah tercatat memasuki wilayah kosmik kita, setelah sebelumnya ilmuwan mendeteksi ʻOumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019.
Pengamatan menggunakan Hubble Space Telescope memperkirakan ukuran komet ini berkisar antara 440 meter hingga 5,6 kilometer.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa komet tersebut kemungkinan terbentuk sekitar 10 hingga 12 miliar tahun lalu di wilayah dingin dan jauh di Milky Way. Jika benar, usia komet ini jauh lebih tua dibandingkan Bumi yang berusia sekitar 4,5 miliar tahun maupun Tata Surya yang berusia sekitar 4,6 miliar tahun.
Analisis ini dilakukan dengan mempelajari komposisi isotop dari gas yang dilepaskan komet ketika mendekati Matahari. Proses tersebut memungkinkan ilmuwan mengetahui kondisi lingkungan tempat komet terbentuk.
Menurut Romain Maggiolo, ilmuwan dari Royal Belgian Institute for Space Aeronomy, komposisi isotop komet ini sangat berbeda dibandingkan komet yang berasal dari Tata Surya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan tersebut menunjukkan komet kemungkinan terbentuk di sistem bintang lain pada masa yang jauh lebih awal dalam sejarah galaksi.
Penelitian juga menemukan bahwa air pada komet tersebut memiliki kandungan deuterium yang lebih tinggi dibandingkan komet yang pernah dipelajari sebelumnya. Selain itu, rasio isotop karbon pada komet ini juga lebih besar dari yang biasanya ditemukan pada objek di Tata Surya.
Temuan ini memberikan petunjuk bahwa lingkungan tempat komet tersebut terbentuk mungkin memiliki kondisi kimia yang kaya. Menurut Maggiolo, keberadaan molekul volatil dalam jumlah besar mengindikasikan kemungkinan proses kimia prebiotik telah berlangsung di wilayah pembentukan bintang sejak masa awal galaksi.
Studi tersebut juga memperkirakan komet terbentuk di lingkungan sangat dingin dengan suhu sekitar 30 kelvin atau sekitar minus 243 derajat Celsius, kemungkinan di dalam piringan protoplanet yang padat dan terlindungi.
Meski penelitian memberikan banyak petunjuk baru, para ilmuwan memperkirakan akan sulit menentukan secara pasti sistem bintang asal komet tersebut. Hal ini karena komet kemungkinan telah mengembara di ruang antarbintang selama miliaran tahun.
Paparan radiasi kosmik selama perjalanan panjang itu juga diduga mengubah komposisi kimia komet sehingga semakin menyulitkan penelusuran asal-usulnya.
Josep Trigo-Rodríguez, peneliti dari Institute of Space Sciences (CSIC/IEEC) di Spanyol, menyebut komet antarbintang seperti 3I/ATLAS sebagai objek unik yang dapat memberikan sampel dari wilayah jauh di galaksi Bima Sakti.
Saat ini komet 3I/ATLAS sedang bergerak menjauhi Matahari setelah sebelumnya mencapai titik terdekatnya pada Oktober 2025. Komet tersebut kemudian melintas relatif dekat dengan Bumi pada Desember 2025 dengan jarak sekitar 270 juta kilometer.
Dalam perjalanannya keluar dari Tata Surya, komet ini juga akan melintasi wilayah dekat Jupiter, sebelum terus bergerak melewati orbit Saturn, Uranus, hingga Neptune dalam beberapa tahun ke depan. Para astronom kini berpacu dengan waktu untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data sebelum komet tersebut sepenuhnya meninggalkan Tata Surya. (Live Science/P-3)
Berdasarkan laporan yang dilansir dari mixvale.com, instrumen SPHEREx merekam data dalam 102 panjang gelombang inframerah.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Komet antarbintang 3I/ATLAS melintas paling dekat dengan Bumi malam ini, 19 Desember 2025. Simak cara mengamatinya dengan teleskop kecil.
Pada 3I/ATLAS, anti-tail tampak lebih tegas dan menonjol dibandingkan komet lain. Hal ini memicu kajian lanjutan untuk memastikan apakah bentuk tersebut murni efek optik
Komet antarbintang 3I/ATLAS akan melintas paling dekat dengan Bumi pada 19 Desember. Meski aman, momen ini penting bagi ilmuwan untuk mempelajari materi pembentuk planet dari luar tata surya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved