Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
PENEMUAN fosil berusia 90 juta tahun di Amerika Selatan membuka bab yang selama ini hilang dalam sejarah evolusi dinosaurus pemakan serangga. Temuan ini berasal dari situs La Buitrera di wilayah Patagonia, Argentina, dan langsung menarik perhatian komunitas paleontologi internasional.
Fosil tersebut berupa kerangka yang relatif utuh dari dinosaurus kecil kelompok alvarezsaurid. Kelompok ini dikenal sebagai theropoda berukuran mungil dengan lengan sangat pendek dan satu cakar besar yang diduga dipakai untuk menggali sarang semut dan rayap. Namun, sebelum penemuan ini, para ilmuwan hanya memiliki potongan tulang terpisah yang membuat jalur evolusinya sulit dipetakan secara jelas.
Yang membuat fosil ini penting adalah bentuk anatominya. Spesimen dari La Buitrera menunjukkan bahwa anggota awal kelompok ini belum memiliki adaptasi ekstrem seperti kerabatnya yang lebih muda.
Lengan mereka masih relatif lebih panjang, dan giginya lebih berkembang. Artinya, mereka kemungkinan belum sepenuhnya terspesialisasi sebagai pemakan semut. Ini mengubah asumsi lama bahwa alvarezsaurid sejak awal sudah menjadi spesialis penggali.
Dilansir dari Discover Magazine, proses evolusi kelompok ini tampaknya terjadi bertahap. Mereka lebih dulu mengalami miniaturisasi tubuh, lalu kemudian berevolusi menjadi bentuk dengan lengan super pendek dan cakar besar yang efisien untuk membongkar sarang serangga.
Penemuan ini memperjelas pola evolusi diet dan morfologi dalam garis keturunan theropoda kecil. Evolusi tidak selalu langsung menghasilkan bentuk yang sangat terspesialisasi. Dalam kasus ini, dinosaurus tersebut tampaknya melewati fase umum sebelum akhirnya menjadi ahli pemburu serangga.
Secara ilmiah, ini penting karena membantu mengisi celah data dari periode Kapur Tengah, sekitar 90 juta tahun lalu. Celah tersebut selama ini menyulitkan peneliti memahami bagaimana tekanan lingkungan dan perubahan ekosistem mendorong munculnya adaptasi ekstrem.
Dengan fosil yang lebih lengkap, para paleontolog kini memiliki bukti konkret bahwa transformasi menuju dinosaurus pemakan semut tidak terjadi dalam satu lompatan besar. Ada tahapan transisi yang nyata, dan fosil inilah salah satu bukti kuncinya.
Penemuan ini menunjukkan bahwa setiap kerangka yang terangkat dari tanah bisa mengubah peta besar evolusi.
Sumber: Discover Magazine, Phys.org
Penelitian terbaru mengungkap hidung Triceratops memiliki fungsi kompleks, termasuk membantu mengatur suhu dan kelembapan tubuh, bukan hanya sebagai indra penciuman.
Fosil menunjukkan garis keturunannya melewati batas K–Pg tanpa punah total. Adaptasi hidup di air dan pola makan fleksibel kemungkinan menjadi faktor kunci.
Dinosaurus jenis Chilesaurus diegosuarezi mematahkan stigma tradisional bahwa dinosaurus yang tampak seperti predator pastilah pemakan daging.
Meski hampir sebesar Tyrannosaurus rex dan termasuk dalam kelompok teropoda kelompok yang sama dengan predator ganas seperti Deinocheirus bukanlah pemburu berdarah dingin.
Studi terbaru mengungkap bayi sauropoda yang tak berdaya adalah sumber energi utama bagi predator seperti Allosaurus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved