Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Fosil 90 Juta Tahun Isi Celah Evolusi Dinosaurus Pemakan Semut

Intan Safitri
26/2/2026 23:45
Fosil 90 Juta Tahun Isi Celah Evolusi Dinosaurus Pemakan Semut
Dinosaurus mirip burung, disebut Alnashetri.(Doc Universitas Nasional Río Negro)

PENEMUAN fosil berusia 90 juta tahun di Amerika Selatan membuka bab yang selama ini hilang dalam sejarah evolusi dinosaurus pemakan serangga. Temuan ini berasal dari situs La Buitrera di wilayah Patagonia, Argentina, dan langsung menarik perhatian komunitas paleontologi internasional.

Fosil tersebut berupa kerangka yang relatif utuh dari dinosaurus kecil kelompok alvarezsaurid. Kelompok ini dikenal sebagai theropoda berukuran mungil dengan lengan sangat pendek dan satu cakar besar yang diduga dipakai untuk menggali sarang semut dan rayap. Namun, sebelum penemuan ini, para ilmuwan hanya memiliki potongan tulang terpisah yang membuat jalur evolusinya sulit dipetakan secara jelas.

Tidak Langsung Jadi Spesialis

Yang membuat fosil ini penting adalah bentuk anatominya. Spesimen dari La Buitrera menunjukkan bahwa anggota awal kelompok ini belum memiliki adaptasi ekstrem seperti kerabatnya yang lebih muda.

Lengan mereka masih relatif lebih panjang, dan giginya lebih berkembang. Artinya, mereka kemungkinan belum sepenuhnya terspesialisasi sebagai pemakan semut. Ini mengubah asumsi lama bahwa alvarezsaurid sejak awal sudah menjadi spesialis penggali.

Dilansir dari Discover Magazine, proses evolusi kelompok ini tampaknya terjadi bertahap. Mereka lebih dulu mengalami miniaturisasi tubuh, lalu kemudian berevolusi menjadi bentuk dengan lengan super pendek dan cakar besar yang efisien untuk membongkar sarang serangga.

Evolusi Itu Tidak Instan

Penemuan ini memperjelas pola evolusi diet dan morfologi dalam garis keturunan theropoda kecil. Evolusi tidak selalu langsung menghasilkan bentuk yang sangat terspesialisasi. Dalam kasus ini, dinosaurus tersebut tampaknya melewati fase umum sebelum akhirnya menjadi ahli pemburu serangga.

Secara ilmiah, ini penting karena membantu mengisi celah data dari periode Kapur Tengah, sekitar 90 juta tahun lalu. Celah tersebut selama ini menyulitkan peneliti memahami bagaimana tekanan lingkungan dan perubahan ekosistem mendorong munculnya adaptasi ekstrem.

Dengan fosil yang lebih lengkap, para paleontolog kini memiliki bukti konkret bahwa transformasi menuju dinosaurus pemakan semut tidak terjadi dalam satu lompatan besar. Ada tahapan transisi yang nyata, dan fosil inilah salah satu bukti kuncinya.

Penemuan ini menunjukkan bahwa setiap kerangka yang terangkat dari tanah bisa mengubah peta besar evolusi.

Sumber: Discover Magazine, Phys.org



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya