Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sejarah bencana alam, tsunami sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk pesisir. Namun, di atas tsunami konvensional, terdapat fenomena yang jauh lebih ekstrem dan destruktif, Megatsunami. Dengan ketinggian gelombang yang bisa mencapai ratusan meter, melampaui gedung pencakar langit, megatsunami adalah manifestasi kekuatan alam yang paling brutal.
Secara ilmiah, megatsunami didefinisikan sebagai gelombang tsunami dengan amplitudo awal (ketinggian gelombang di sumbernya) yang sangat ekstrem, biasanya melebihi 100 meter. Berbeda dengan tsunami biasa yang sering kali hanya setinggi beberapa meter di laut dalam dan baru membesar saat mendekati pantai, megatsunami sudah memiliki ketinggian raksasa sejak titik pembentukannya.
Istilah ini kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan geolog pada awal tahun 2026, menyusul publikasi riset mendalam mengenai peristiwa di Dickson Fjord, Greenland, yang membuktikan bahwa longsoran es dan batu dapat memicu gelombang yang menggetarkan Bumi selama berhari-hari.
Banyak orang mengira megatsunami hanyalah "tsunami yang sangat besar". Padahal, mekanisme pembentukannya sangat berbeda secara fisika. Berikut adalah perbandingan mendasarnya:
| Fitur | Tsunami Biasa (Tektonik) | Megatsunami |
|---|---|---|
| Penyebab Utama | Pergeseran lempeng bawah laut (Gempa Tektonik). | Longsoran materi besar (batu/es) ke air, letusan gunung api, atau hantaman asteroid. |
| Ketinggian Awal | Rendah di laut dalam (< 1 meter), membesar di pantai (10-30 meter). | Ekstrem sejak awal (bisa > 500 meter). |
| Jangkauan Energi | Sangat luas, bisa menyeberangi samudra dengan sedikit kehilangan energi. | Sangat destruktif secara lokal, namun energinya cenderung lebih cepat hilang di jarak jauh. |
| Mekanisme Fisika | Perpindahan kolom air vertikal. | Dampak impak (Splash Wave) atau perpindahan massa. |
Para ahli geologi mengidentifikasi tiga pemicu utama yang dapat melahirkan monster lautan ini:
Peristiwa paling ikonik terjadi pada 9 Juli 1958 di Lituya Bay, Alaska. Gempa berkekuatan 7,8 M memicu longsoran batu raksasa ke dalam teluk sempit. Air yang terhempas menciptakan gelombang setinggi 524 meter (lebih tinggi dari Empire State Building). Gelombang ini membabat habis pepohonan di lereng bukit seberangnya hingga ketinggian tersebut.
Indonesia juga memiliki catatan sejarah kelam. Pada tahun 1674, wilayah Ambon dihantam gelombang yang oleh naturalis Georg Eberhard Rumphius dicatat setinggi "lebih dari puncak pohon kelapa" bahkan mencapai perbukitan, menewaskan ribuan orang. Analisis modern mengategorikan ini sebagai megatsunami akibat longsoran bawah laut yang dipicu gempa.
Peristiwa yang baru saja dianalisis tuntas oleh para ilmuwan pada akhir 2024 dan 2025 adalah megatsunami di Greenland. Longsoran gletser menyebabkan gelombang setinggi 200 meter yang terperangkap di dalam fjord. Uniknya, energi gelombang ini menciptakan seiche (gelombang berdiri) yang membuat Bumi bergetar dengan frekuensi rendah selama 9 hari berturut-turut.
Di tahun 2026 ini, fokus peneliti tertuju pada dampak krisis iklim terhadap potensi megatsunami. Pemanasan global menyebabkan pencairan permafrost dan gletser di wilayah kutub (seperti Alaska, Greenland, dan Antartika). Hal ini membuat lereng-lereng gunung menjadi tidak stabil.
Jika tebing-tebing es raksasa ini runtuh ke laut, mereka berpotensi memicu megatsunami lokal yang dapat menghancurkan infrastruktur pesisir atau kapal-kapal yang melintas. Selain itu, zona subduksi seperti Cascadia di Amerika Utara terus dipantau karena potensinya memicu gempa besar yang diikuti longsoran bawah laut masif.
Megatsunami adalah pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang jauh melampaui mitigasi standar manusia. Meskipun frekuensinya sangat jarang dibandingkan tsunami tektonik biasa, dampaknya bersifat katastropik total di area terdampak. Pemahaman mengenai mekanisme longsoran dan pemantauan satelit terhadap lereng gunung yang tidak stabil kini menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi bencana di masa depan. (Z-10)
Tsunami dan megatsunami sering kali disalahpahami karena keduanya sama-sama melibatkan gelombang laut besar. Padahal, memiliki perbedaan yang sangat signifikan.
Megatsunami Greenland menjadi salah satu fenomena alam paling mengejutkan dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini bukan tsunami biasa.
Update terbaru megatsunami Greenland. Ilmuwan konfirmasi gelombang 200 meter di Fjord Dickson jadi pemicu sinyal seismik global selama 9 hari.
September 2023, gletser yang mencair di Greenland memicu longsor besar berakibat mega-tsunami setinggi 650 kaki, diikuti dengan getaran misterius yang berlangsung selama 9 hari.
Angela Carrillo Ponce dari Pusat Penelitian Geosains Jerman memperingatkan pencairan gletser dan lapisan es akibat perubahan iklim meningkatkan risiko longsor dan megatsunami di masa depan.
Tsunami dan megatsunami sering kali disalahpahami karena keduanya sama-sama melibatkan gelombang laut besar. Padahal, memiliki perbedaan yang sangat signifikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved