Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH fenomena alam ekstrem yang terjadi di Greenland Timur baru-baru ini mengguncang komunitas ilmiah global. Bukan sekadar tsunami biasa, peristiwa ini melibatkan gelombang raksasa setinggi 200 meter yang memicu getaran seismik di seluruh planet selama sembilan hari berturut-turut.
Para ahli menyebut ini sebagai pengingat keras bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang terjadi.
Peristiwa ini bermula pada September 2023, namun detail penyebabnya baru terungkap melalui laporan penelitian internasional yang dirilis pada akhir 2024. Pemicunya adalah runtuhnya puncak gunung setinggi 1,2 kilometer ke dalam perairan sempit Dickson Fjord.
Volume material yang jatuh diperkirakan mencapai 25 juta meter kubik batu dan es, atau setara dengan kapasitas 10.000 kolam renang Olimpiade. Saat massa masif ini menghantam air, tercipta lonjakan air setinggi 200 meter salah satu tsunami tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah modern.
Hal yang membuat para ilmuwan di seluruh dunia bingung pada awalnya bukanlah tsunami itu sendiri, melainkan sinyal seismik misterius yang terekam oleh sensor gempa dari Arktik hingga Antartika.
Sinyal ini tidak menyerupai gempa tektonik yang biasanya bergejolak cepat, melainkan berupa getaran monoton dengan interval 90 detik yang stabil.
Setelah dianalisis, getaran ini disebabkan oleh fenomena seiche atau gelombang berdiri. Karena bentuk fjord yang sempit dan tertutup, energi dari tsunami tersebut tidak bisa lepas ke laut lepas dengan cepat.
Air raksasa itu terperangkap dan berguncang bolak-balik di dalam fjord selama sembilan hari, menciptakan getaran yang cukup kuat untuk membuat seluruh permukaan Bumi "berdering" seperti lonceng.
Penelitian yang melibatkan 68 ilmuwan dari 15 negara ini menyimpulkan satu penyebab utama: perubahan iklim. Selama beberapa dekade, gletser di kaki gunung tersebut terus menipis akibat kenaikan suhu global.
Gletser yang tadinya berfungsi sebagai "penopang" tebing gunung kini kehilangan kekuatannya, menyebabkan lereng menjadi tidak stabil dan akhirnya runtuh.
Meskipun lokasi kejadian berada di wilayah tak berpenghuni, dampak kerusakannya sangat nyata. Pangkalan militer di Pulau Ella, yang berjarak puluhan kilometer dari pusat longsor, hancur total diterjang gelombang.
Beruntung, tidak ada personil yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Kejadian di Greenland ini menjadi peringatan bahwa wilayah Arktik sedang mengalami transformasi drastis. Stabilitas geologis yang selama ini dianggap permanen kini mulai goyah akibat mencairnya es kutub.
Jika tren pemanasan global tidak melambat, peristiwa megatsunami serupa diprediksi akan lebih sering terjadi, mengancam jalur pelayaran internasional dan pemukiman di wilayah pesisir utara.
Fenomena ini menegaskan bahwa kiamat iklim bukan berarti kehancuran instan seluruh dunia, melainkan serangkaian bencana ekstrem yang semakin sering merusak keseimbangan alam secara permanen.
Sumber: The Guardian, BBC News, Science Daily
Menlu Sugiono menegaskan menjaga kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah kebijakan luar negeri Indonesia.
Menlu Sugiono menegaskan Indonesia akan terus mendorong terciptanya perdamaian serta stabilitas internasional melalui jalur diplomasi dan penguatan kerja sama global.
HARGA bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$90.000 pada perdagangan Rabu (21/1), seiring meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko.
MEMASUKI awal 2026, dunia dikejutkan oleh tindakan unilateral Amerika Serikat yang sangat drastis di kawasan Karibia.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Washington tengah menjajaki kerangka kesepakatan baru terkait Greenland dan wilayah Arktik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved