Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Misteri Fomalhaut, Ilmuwan Rekam Tabrakan Dahsyat 'Pembangun Planet' di Luar Angkasa 

Thalatie K Yani
24/12/2025 10:30
Misteri Fomalhaut, Ilmuwan Rekam Tabrakan Dahsyat 'Pembangun Planet' di Luar Angkasa 
Astronom menyaksikan dua tabrakan masif planetesimal di sistem bintang Fomalhaut. Penemuan ini mengungkap betapa kasarnya proses pembentukan sebuah planet. (NASA)

SISTEM bintang muda Fomalhaut, yang berjarak sekitar 25 tahun cahaya dari Bumi, ternyata merupakan tempat yang sangat berantakan. Dalam 20 tahun terakhir, para astronom menyaksikan fenomena langka: sisa-sisa debu dari dua tabrakan masif antar benda langit di sistem tersebut.

Penemuan ini menantang model lama yang menganggap tabrakan besar jarang terjadi. Munculnya dua dampak besar dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan besar. Apakah kita hanya sedang beruntung, atau selama ini kita meremehkan betapa kasarnya proses pembentukan sebuah planet?

Laboratorium Alam Pembentukan Planet

Fomalhaut adalah sistem bintang muda yang memberikan gambaran bagi para ilmuwan tentang bagaimana rupa tata surya kita sebelum Bumi mencapai kematangannya. Di sana terdapat sabuk puing luas yang dipenuhi oleh planetesimal. Objek padat dengan lebar puluhan hingga ratusan mil.

Pada 2004, Teleskop Luar Angkasa Hubble mendeteksi titik terang di dekat cakram tersebut. Titik serupa kembali muncul tahun 2023. Namun, alih-alih planet, titik-titik ini adalah awan debu raksasa hasil tabrakan kolosal.

"Kami baru saja menyaksikan tabrakan dua planetesimal dan awan debu yang menyembur keluar dari peristiwa kekerasan tersebut, yang mulai memantulkan cahaya dari bintang induknya," kata Paul Kalas, asisten profesor astronomi di University of California, Berkeley. "Kami tidak melihat langsung kedua objek yang bertabrakan, tetapi kami dapat melihat dampak dari benturan besar ini."

Menyamar Sebagai Planet

Menariknya, awan debu pertama sempat dikira sebagai planet yang dinamai Fomalhaut b pada 2008. Namun, titik cahaya tersebut perlahan memudar dan menghilang tahun 2014. Ketika titik terang baru muncul di lokasi berbeda tahun 2023, para ilmuwan menyadari itu bukan planet padat, melainkan debu yang menyebar. Objek ini kini dikategorikan sebagai Fomalhaut cs1 dan cs2.

Setiap tabrakan diperkirakan melibatkan objek berukuran setidaknya 37 mil (sekitar 60 km), atau empat kali lebih besar dari asteroid yang memusnahkan dinosaurus di Bumi.

Padat dan Berbahaya

Mark Wyatt, profesor astronomi di University of Cambridge, memperkirakan ada sekitar 300 juta planetesimal berukuran serupa yang mengorbit Fomalhaut. Kehadiran gas karbon monoksida di area tersebut juga menunjukkan bahwa objek-objek ini kaya akan es, mirip dengan komet di tata surya kita.

"Fomalhaut jauh lebih muda dari tata surya, tetapi ketika tata surya kita berusia 440 juta tahun, tempat itu dipenuhi dengan planetesimal yang saling bertabrakan," tambah Kalas. "Ini seperti melihat kembali ke masa lalu, ke periode penuh kekerasan di tata surya kita."

Hingga Agustus 2025, awan debu dari tabrakan tahun 2023 masih terlihat dan ukurannya jauh lebih besar dibandingkan eksperimen DART milik NASA. Penemuan ini menjadi peringatan bagi misi pencarian planet di masa depan agar lebih berhati-hati dalam membedakan antara planet layak huni dan awan debu hasil tabrakan yang "menyamar" sebagai titik cahaya. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik