Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
OBJEK antarbintang 3I/ATLAS diperkirakan akan melakukan lintasan terdekatnya dengan Bumi kurang dari sebulan dari sekarang. Di mana jaraknya sekitar 170 juta mil.
Tiga bulan setelah itu, objek tersebut diperkirakan akan semakin dekat ke Jupiter. Pada saat objek itu melanjutkan lintasannya yang sangat eksentrik melalui tata surya.
Avi Loeb, astronom Harvard yang sejak lama mendukung teori bahwa 3I/ATLAS mungkin merupakan wahana antariksa alien, menyoroti adanya “percepatan non-gravitasi” pada objek tersebut. Ia menyebut percepatan itu tampak mengarahkannya menuju wilayah orbit Jupiter yang menarik perhatian.
Secara spesifik, 3I/ATLAS akan melesat melewati radius Bukit Jupiter. Batas di mana raksasa gas tersebut dapat menjaga suatu objek tetap dalam orbitnya tanpa dicuri oleh Matahari.
Loeb berpendapat jika objek ini memang merupakan wahana antariksa alien. Ia bisa saja melewati batas tersebut untuk "menyemai" planet Jupiter dengan "perangkat teknologi." Hipotesis ini terdengar mirip dengan plot film fiksi ilmiah Stanley Kubrick tahun 1968, 2001: A Space Odyssey.
"Jika kita menemukan satelit teknologi Jupiter yang tidak kita kirim, itu berarti Jupiter menarik bagi peradaban luar angkasa," tulis Loeb dalam blognya.
Peningkatan kecepatan atau percepatan non-gravitasi yang didapat objek saat mencapai titik terdekatnya dengan Matahari bulan lalu, memungkinkannya mendekati Jupiter dalam jarak sekitar 53 juta mil pada 16 Maret. Jarak ini kebetulan berada dalam jarak 160.000 mil dari radius Bukit planet tersebut.
Loeb menyatakan "tingkat percepatan non-gravitasi 3I/ATLAS disetel secara tepat" dengan bantuan pendorong. Dorongan ekstra ini menghasilkan koreksi arah kecil dengan besaran yang dibutuhkan untuk membawa jarak minimum 3I/ATLAS dari Jupiter ke nilai radius Bukit Jupiter, sehingga objek itu tidak akan meleset dari tepi bola Bukit.
Namun, tidak semua pihak setuju dengan pandangan Loeb. NASA, melalui administrator asosiasi Amit Kshatriya, telah secara preemptif membantah teori Loeb. Pihak NASA dan komunitas ilmiah arus utama lebih cenderung kepada penjelasan konvensional, yaitu bahwa 3I/ATLAS adalah komet alami.
Penjelasan yang lebih umum menyatakan radiasi Matahari memanaskan objek. Kondisi itu menyebabkannya kehilangan massa dan dengan demikian mengalami percepatan non-gravitasi.
Loeb menegaskan kembali para ilmuwan sebaiknya tetap rendah hati. Di samping tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dengan menyatakan satu-satunya kemungkinan adalah 3I/ATLAS merupakan komet alami.
Ia berargumen pesawat ruang angkasa Juno milik NASA, yang telah mengorbit Jupiter sejak 2016, seharusnya mengamati 3I/ATLAS lebih dekat pada musim semi nanti.
Ia juga mengatakan penemuan “satelit teknologi” yang berada di orbit Jupiter, bukan di sekitar Bumi, dapat menjadi “pukulan bagi ego kita.” Hal itu, menurutnya, mengisyaratkan Jupiter mungkin menjadi tujuan utama peradaban luar angkasa karena planet tersebut telah ada miliaran tahun sebelum manusia muncul. (Futurism/Z-2)
Samudra Europa berpotensi tidak memiliki dinamika geologis yang cukup untuk mendukung kehidupan, khususnya akibat minimnya aktivitas hidrotermal di dasar lautnya.
Peneliti ungkap asal-usul struktur mirip laba-laba di Kawah Manannán, Europa. Temuan ini berikan petunjuk vital bagi pencarian kehidupan luar angkasa.
Studi terbaru tunjukkan cara membedakan fase es unik di Ganymede dengan spektroskopi inframerah, membuka rahasia mantel dalam bulan Jupiter.
Wahana antariksa Juno milik NASA berhasil mendeteksi aurora di Callisto untuk pertama kalinya.
Selama ini, materi gelap sulit ditemukan karena tidak memancarkan maupun memantulkan cahaya. Namun, para astrofisikawan yakin keberadaannya nyata
Karena itu, Loeb menugaskan tim Galileo Project Observatories untuk memantau aktivitas luar angkasa yang tidak biasa di sekitar Bumi dalam beberapa bulan ke depan.
3I/ATLAS, komet berusia miliaran tahun, melewati Bumi. NASA mengamati “kepompong debu” di sekitarnya, menjadikannya objek antarbintang ketiga yang terdeteksi.
Tim peneliti melaporkan bahwa objek antarbintang ini menunjukkan pola orbit yang sangat aneh dengan kemiringan hanya 5 derajat dari bidang ekliptika Bumi.
Penemuan objek antarbintang 3I/ATLAS memunculkan kembali spekulasi kontroversial: mungkinkah ini bukan sekadar komet, melainkan teknologi luar angkas yang disamarkan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved