Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
OBJEK antarbintang misterius bernama 3I/ATLAS tengah melintasi tata surya. Pada 21 Juli, objek ini melewati Bumi dengan jarak cukup dekat, sehingga Teleskop Antariksa Hubble mampu menangkap detailnya.
NASA menggambarkan adanya “kepompong debu berbentuk tetesan air mata” yang terlihat membuntuti objek tersebut, menandakan kemungkinan besar bahwa 3I/ATLAS adalah sebuah komet.
3I/ATLAS baru ditemukan pada 1 Juli lalu, menjadikannya objek antarbintang ketiga yang pernah terdeteksi melintasi tata surya. Sebelumnya ada Oumuamua (2017) dan 3I/Borisov (2019).
Sama seperti pendahulunya, muncul spekulasi bahwa 3I/ATLAS mungkin adalah pesawat luar angkasa alien. Namun, NASA menegaskan bahwa objek ini kemungkinan besar hanyalah inti komet padat yang penuh es.
Dua astrofisikawan, Aster Taylor dari University of Michigan dan Darryl Seligman dari Michigan State University, memperkirakan bahwa 3I/ATLAS mungkin berusia 3 hingga 11 miliar tahun.
"Karena pengaruh galaksi cenderung mempercepat objek seiring waktu, kecepatan ini menyiratkan bahwa ATLAS jauh lebih tua" tulis para astrofisikawan dikutip dari Futurism.
Dugaan itu timbul karena objek bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sekitar 134.000 mil per jam. Perhitungan tersebut didasarkan pada kecepatannya relatif terhadap Matahari. Mereka menjelaskan semakin lama suatu objek berkelana di galaksi, pengaruh gravitasi cenderung mempercepat lajunya.
Dalam hasil penelitiannya yang terbaru, NASA memperkirakan bahwa inti 3I/ATLAS memiliki diameter antara 1.000 kaki hingga 3,5 mil. Estimasi ini dibuat berkat gambar terbaru dari Hubble, meski NASA menegaskan bahwa inti padat komet ini belum bisa dilihat secara langsung, bahkan dengan teleskop sebesar Hubble.
Meski sejumlah informasi berhasil dikumpulkan, masih ada pertanyaan besar tentang dari mana sebenarnya 3I/ATLAS itu berasal.
Pimpinan tim sains Teleskop Hubble, David Jewitt mengungkap jika hal ini masih menjadi misteri bagi para ilmuan. “Kita tidak tahu dari mana asal komet ini,” ujar David.
David mengibaratkan objek itu seperti peluru yang hanya terlihat sepersekian ribu detik, terlalu singkat dan cepat untuk bisa ditelusuri kembali asal-usulnya.(Futurism/Z-2)
Objek antarbintang 3I/ATLAS akan melintas dekat Bumi dan Jupiter. Avi Loeb menyoroti percepatan non-gravitasi yang memicu dugaan wahana antariksa alien.
Karena itu, Loeb menugaskan tim Galileo Project Observatories untuk memantau aktivitas luar angkasa yang tidak biasa di sekitar Bumi dalam beberapa bulan ke depan.
Tim peneliti melaporkan bahwa objek antarbintang ini menunjukkan pola orbit yang sangat aneh dengan kemiringan hanya 5 derajat dari bidang ekliptika Bumi.
Penemuan objek antarbintang 3I/ATLAS memunculkan kembali spekulasi kontroversial: mungkinkah ini bukan sekadar komet, melainkan teknologi luar angkas yang disamarkan
Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menarik perhatian setelah pengamatan terbaru menunjukkan adanya kemungkinan letusan gunung es atau kriovolkano di permukaannya.
Tidak ada alasan untuk meyakini bahwa jumlah ISO yang memasuki Tata Surya kita lebih sedikit daripada sebelumnya. Artinya, mereka menimbulkan risiko dampak bagi Bumi.
Astronom mendeteksi sinyal radio pertama dari komet antarbintang 3I/ATLAS. Meski sempat dikaitkan dengan teori alien, ternyata sinyal itu berasal dari proses alami di inti komet.
NASA menjelaskan perubahan warna tersebut disebabkan emisi gas dari inti komet yang memecah molekul karbon dan hidrogen saat terkena sinar Matahari.
Minat ilmuwan dan publik dunia tengah tertuju pada komet antarbintang 3I/ATLAS yang menunjukkan perilaku tidak biasa saat melintas di sekitar Tata Surya.
Profesor Harvard Avi Loeb memicu perdebatan setelah menyebut komet antarbintang 3I/ATLAS menunjukkan percepatan non-gravitasi misterius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved