Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Penelitian Abad ke-13 Richard Fishacre Ternyata Selaras dengan Penemuan Teleskop James Webb

Thalatie K Yani
24/11/2025 06:47
Penelitian Abad ke-13 Richard Fishacre Ternyata Selaras dengan Penemuan Teleskop James Webb
Richard Fishacre, frater Dominikan Oxford pada 1240-an, menolak pandangan Aristoteles tentang unsur kelima di langit. Penelitiannya  terbukti sejalan dengan teleskop James Webb.(Wikimedia Commons)

PADA abad ke-13, seorang frater Dominikan di Universitas Oxford, Richard Fishacre, membuat terobosan pemikiran mengenai komposisi bintang dan planet. Melalui kajian tentang cahaya dan warna, ia menyimpulkan benda-benda langit tersusun dari unsur-unsur yang sama dengan yang ada di Bumi. Pandangannya ini menentang ajaran ilmiah pada masanya. Secara tidak langsung, mendahului metode dan temuan teleskop ruang angkasa James Webb pada abad ke-21.

Dalam tradisi filsafat Yunani Kuno yang diikuti ilmu pengetahuan abad pertengahan, diyakini bintang dan planet terdiri dari suatu unsur khusus bernama “unsur kelima” atau “quintessence”. Berbeda dengan empat unsur bumi, api, air, tanah, dan udara, unsur kelima dianggap sempurna, tidak berubah, dan transparan. Unsur inilah yang dipercaya membentuk sembilan lingkaran langit yang mengelilingi Bumi, beserta seluruh bintang dan planet yang melekat di dalamnya.

Namun, Fishacre, yang menjadi frater Dominikan pertama yang mengajar teologi di Oxford, menolak ajaran itu. Ia berpendapat bintang dan planet terbentuk dari empat unsur yang sama dengan yang ada di bumi. Argumen utamanya berangkat dari cara cahaya dan warna bekerja.

Ia mencatat warna umumnya muncul pada benda-benda buram, yang merupakan campuran dari berbagai unsur. Ketika melihat ke langit, warna pada planet tampak jelas. Mars terlihat merah, sementara Venus tampak kekuningan. Menurutnya, hal itu menunjukkan benda-benda langit tersebut bersifat komposit dan tersusun “ex quattuor elementis” atau “dari empat unsur”.

Keyakinan Fishacre semakin kuat ketika membahas bulan. Bulan memiliki warna yang nyata dan sesekali menutupi matahari saat gerhana. Jika bulan terbuat dari unsur kelima yang transparan, cahaya matahari seharusnya dapat menembusnya seperti melalui kaca. Kenyataannya tidak demikian. Ia menyimpulkan bahwa bulan pasti tersusun dari unsur yang sama dengan bumi, dan jika hal itu berlaku bagi bulan sebagai benda langit terdekat, maka bintang dan planet lain pun demikian.

Pandangan ini menimbulkan reaksi keras. “Jika kita mengemukakan pendapat ini,” tulisnya, “maka mereka, kerumunan para pengikut Aristoteles (scioli aristoteli), akan berteriak dan melempari kita dengan batu.” Pada  1250, ajarannya dikecam di Universitas Paris oleh St. Bonaventure dari Bagnoregio, seorang frater Fransiskan yang mengejek para “kaum modern” seperti Fishacre karena berani mempertanyakan ajaran Aristoteles.

Berabad-abad kemudian, astrofisika modern membuktikan bintang dan planet memang tidak tersusun dari unsur kelima, melainkan dari elemen yang juga ditemukan di Bumi. Teleskop James Webb, misalnya, mendeteksi keberadaan air dan sulfur dioksida di atmosfer exoplanet TOI-421 b melalui variasi cahaya dan warna. Metode yang secara prinsip serupa dengan pendekatan Fishacre.

Setelah hampir 800 tahun, ilmu astronomi akhirnya mengonfirmasi cahaya dan warna dapat mengungkap planet dan bintang jauh terbuat dari unsur yang sama dengan Bumi. Sebuah pandangan yang dulu membuat Fishacre dikritik hebat. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik