Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KABAR tentang tiga planet yang sejajar sempurna di atas Piramida Giza sempat ramai selama bertahun-tahun. Dalam sebuah unggahan di media sosial, disebutkan jika letak Merkurius, Venus, dan Saturnus membentuk garis lurus dengan tiga piramida besar di Mesir dalam peristiwa langka yang hanya terjadi setiap 2.373 tahun. Gambar yang beredar menampilkan tiga cahaya terang di atas puncak piramida seolah menjadi bukti visual dari fenomena tersebut.
Namun, hasil pemeriksaan fakta menunjukkan klaim itu tidak benar. AAP FactCheck bersama sejumlah astronom menegaskan bahwa penyelarasan planet seperti dalam gambar tidak pernah terjadi. Simulasi langit menggunakan perangkat lunak Stellarium memperlihatkan bahwa pada tanggal dan waktu yang disebutkan, ketiga planet tidak berada dalam satu garis lurus di atas Piramida Giza.
Bahkan, pada pukul 19.05 waktu setempat, hanya Venus yang terlihat di dekat cakrawala barat daya. Merkurius sudah terbenam, sedangkan Saturnus berada jauh lebih tinggi di langit mustahil sejajar seperti yang digambarkan.
Lebih jauh lagi, penelusuran asal gambar juga membuktikan bahwa foto piramida tersebut pertama kali muncul pada 2008 tanpa adanya bintang atau planet. Unsur cahaya di langit rupanya ditambahkan lewat rekayasa digital. Sumber awalnya adalah blog milik Charles Marcello, yang pernah mengklaim penyelarasan serupa pada Desember 2012 klaim yang sama-sama terbukti keliru.
Astronom CSIRO, Stacy Mader, menjelaskan bahwa posisi planet pada waktu yang disebutkan tidak menunjukkan fenomena seperti yang diklaim. “Venus memang tampak di dekat cakrawala, tetapi Merkurius sudah terbenam dan Saturnus berada di rasi Aquarius, jauh di atas langit,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan oleh Adrian Barker dari University of Leeds, yang menegaskan tingkat kecerahan planet pada gambar tersebut tidak realistis. “Venus adalah yang paling terang, diikuti Merkurius yang jauh lebih redup, sementara Saturnus sekitar 300 kali lebih redup dari Venus. Jadi gambar itu jelas hasil rekayasa,” katanya.
Fenomena planet yang tampak sejajar di langit memang kerap terjadi, tetapi peluangnya untuk sejajar persis di atas satu titik di Bumi seperti Piramida Giza sangat kecil dan tidak mengikuti siklus tertentu. Profesor Karl Glazebrook dari Swinburne University juga memastikan tidak ada penyelarasan planet seperti itu pada waktu itu.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menyikapi klaim astronomi yang viral di internet. Langit memang menyimpan banyak keajaiban, tetapi tidak semua yang tampak spektakuler di media sosial berakar pada sains yang benar.
Sumber: Australian Associated Press
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Samudra Europa berpotensi tidak memiliki dinamika geologis yang cukup untuk mendukung kehidupan, khususnya akibat minimnya aktivitas hidrotermal di dasar lautnya.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Para ilmuwan NASA kembali membuat terobosan besar dalam dunia astronomi.
Hambatan terbesar dalam mewujudkan perjalanan antarbintang ternyata bukan terletak pada kapal, mesin, ataupun bahan bakar.
Lima dekade setelah misi Apollo menapakkan kaki di permukaan Bulan, teka-teki terbesar tentang struktur internal satelit alami Bumi itu akhirnya berhasil dipecahkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved