Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH lebih dari setahun kehilangan kontak, Badan Antariksa Jepang (JAXA) resmi menyatakan berakhirnya misi Akatsuki, satu-satunya wahana aktif yang mengorbit Venus. Wahana ini telah menghabiskan lebih dari sepuluh tahun mengamati atmosfer ekstrem planet tersebut, jauh melampaui masa tugas yang dirancang.
Namun, berakhirnya Akatsuki bukan berarti eksplorasi Venus berhenti. Sejumlah misi dari berbagai negara sedang dipersiapkan, meski sebagian terancam batal akibat pemangkasan anggaran NASA oleh pemerintahan Trump. Anggaran lembaga itu untuk tahun fiskal 2026 dipangkas hingga 24 persen, dari US$24,8 miliar menjadi US$18,8 miliar.
NASA merencanakan dua misi ambisius ke Venus, yakni DAVINCI dan VERITAS.
Misi DAVINCI (Deep Atmosphere Venus Investigation of Noble gases, Chemistry, and Imaging) bernilai USD 500 juta dijadwalkan meluncur awal 2030-an. Kombinasi wahana pengorbit dan kapsul penurun ini akan meneliti atmosfer tebal dan awan asam sulfat Venus, sekaligus memotret permukaan purba di wilayah Alpha Regio. DAVINCI juga akan menjadi misi pertama yang memetakan komposisi kimia atmosfer bawah Venus, namun proyek ini masuk dalam daftar yang terancam dibatalkan.
Sementara VERITAS (Venus Emissivity, Radio Science, InSAR, Topography and Spectroscopy) dijadwalkan meluncur paling cepat pada 2031. Dengan desain mirip wahana MAVEN di Mars, VERITAS bertujuan memetakan topografi Venus dan memahami mengapa planet itu berevolusi begitu berbeda dari Bumi. Seperti DAVINCI, kelanjutan misi ini bergantung pada keputusan akhir anggaran NASA.
Badan Antariksa Eropa (ESA) juga menyiapkan misi Envision, yang akan diluncurkan paling cepat November 2031 dengan roket Ariane 6. Misi senilai €610 juta ini akan membawa radar dari NASA dan memanfaatkan jaringan komunikasi Deep Space Network milik AS. Envision akan mengorbit Venus selama empat tahun untuk mempelajari sejarah geologis dan iklim ekstremnya, menelusuri kemungkinan bahwa planet itu pernah memiliki kondisi mirip Bumi.
Perusahaan Rocket Lab bekerja sama dengan MIT menyiapkan Venus Life Finder, misi kecil bernilai US$10 juta untuk mencari senyawa organik di lapisan awan Venus. Misi ini dijadwalkan meluncur pada 2026.
Sementara itu, India juga berencana mengirim wahana Venus Orbiter Mission (Shukrayaan) paling cepat pada 2028. Dengan biaya sekitar US$147 juta, misi ini akan mempelajari atmosfer, permukaan, dan interaksi Venus dengan angin matahari, serta menguji teknik aerobraking.
Walau Akatsuki telah “pensiun”, serangkaian misi baru menunjukkan bahwa minat dunia terhadap planet terpanas di tata surya itu belum padam. Venus tetap menjadi kunci untuk memahami bagaimana planet seukuran Bumi bisa berubah menjadi dunia neraka. (Space/Z-2)
Fenomena astronomi langka akan kembali terjadi: Gerhana Matahari Total diprediksi melintasi sejumlah wilayah Eropa hingga kawasan Arktik pada 12 Agustus 2026.
NASA berupaya menghubungi kembali pengorbit Mars MAVEN yang mendadak diam sejak Desember lalu. Peluang pemulihan menipis setelah kegagalan deteksi terbaru.
BADAN Antariksa Amerika Serikat, NASA, memasuki tahap akhir persiapan misi Artemis II, yang menandai dimulainya kembalinya manusia ke sekitar Bulan setelah lebih dari setengah abad
NASA menyebut durasi totalitas gerhana matahari pada 2 Agustus 2027 diperkirakan mencapai sekitar 6 menit 23 detik.
Proyek ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi sains nasional di Amerika Serikat untuk memahami apakah kita sendirian di alam semesta.
Seiring mendekati jadwal peluncuran, NASA bersiap memindahkan roket Space Launch System (SLS) dan wahana Orion ke landasan peluncuran Launch Pad 39B di Kennedy Space Center
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved