Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMET Lemmon (C/2025 A6) akan melintasi bagian leher konstelasi Serpens Caput, atau “kepala ular”, pada Minggu (26/10) malam waktu Amerika Serikat, sebelum mendekati Matahari di awal November. Fenomena langka ini dapat diamati langsung dari Bumi, terutama dari lokasi dengan langit gelap.
Komet ini pertama kali ditemukan pada 3 Januari 2025, dan sejak itu terus meningkat kecerahannya seiring perjalanannya menuju tata surya bagian dalam. Peningkatan tersebut terjadi karena panas dari Matahari yang menguapkan material es di inti komet, membentuk selubung gas yang mengelilingi intinya. Gas dan debu ini kemudian tersapu oleh angin Matahari, menciptakan ekor bercahaya yang khas dan indah.
Menurut Comet Observation Database (COBS) yang dikelola Observatorium Crni Vrh di Slovenia, Komet Lemmon saat ini memiliki magnitudo sekitar +4,3, cukup terang untuk dilihat tanpa teleskop dari tempat dengan kondisi langit gelap.
Untuk menyaksikannya, arahkan pandangan ke cakrawala barat saat matahari terbenam pada 26 Oktober. Komet akan tampak sebagai cahaya samar di bawah formasi bintang segitiga yang membentuk kepala ular dalam konstelasi Serpens Caput. Pada malam berikutnya, komet akan bergerak melewati “leher” ular menuju konstelasi Ophiuchus, yang dikenal sebagai “pembawa ular.”
Konstelasi Serpens unik karena terbagi dua di langit malam. Bagian Serpens Caput berada di sebelah kanan Ophiuchus, sementara Serpens Cauda atau ekornya berada di sebelah kiri.
Meski cukup terang untuk diamati dengan mata telanjang, penggunaan teropong atau teleskop akan membantu menampakkan lebih jelas cahaya pantulan komet dan detail ekornya.
Fenomena ini menjadi kesempatan langka bagi para penggemar astronomi untuk mengamati pengunjung purba dari tepian tata surya. Bagi yang ingin mengabadikannya, disarankan menggunakan kamera dengan lensa bukaan lebar untuk menangkap pesona langit malam dan cahaya lembut dari Komet Lemmon. (Space/Z-2)
Mulai 2026 hingga 2028 akan terjadi enam gerhana Matahari beruntun, terdiri dari gerhana total dan cincin api. Simak jadwal, lokasi, dan fakta menariknya di sini.
Sebuah meteor terekam melintas di langit malam di atas Gunung Fuji, Jepang, pada 26 Desember 2025. Video viral ini memicu diskusi dan kekaguman warganet di media sosial.
Langit menyimpan banyak fenomena langit unik dan menakjubkan yang sering luput dari perhatian. Beberapa di antaranya terlihat aneh dan tak biasa, namun semuanya nyata.
Kondisi cuaca Indonesia yang cenderung cerah di pagi hari dan minim polusi cahaya di sejumlah daerah menjadi keuntungan tersendiri bagi penggemar langit malam.
Desember 2025 akan menjadi bulan yang penuh dengan fenomena langit spektakuler yang dapat dinikmati oleh pengamat astronomi di Indonesia.
Peneliti menemukan ribuan kilatan cahaya misterius pada foto langit era 1950-an yang bertepatan dengan uji nuklir dan peningkatan laporan UFO.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved