Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Fenomena Purnama Perige atau supermoon yang terjadi pada 7 Oktober 2025 bukan sekadar tontonan langit memukau. Menurut Guru Besar Ekologi Hewan Universitas Mataram (Unram), I Wayan Suana, cahaya bulan yang jauh lebih terang serta pasang surut ekstrem dapat memicu perubahan perilaku berbagai spesies hewan.
“Ada dua faktor utama yang memengaruhi perilaku hewan saat supermoon: cahaya bulan yang lebih kuat dan pasang surut air laut yang lebih ekstrem,” jelas Suana saat dihubungi di Mataram, Selasa (7/10).
Suana menjelaskan bahwa supermoon, Bulan Purnama Perigean, memancarkan cahaya lebih terang dibanding purnama biasa. Akibatnya, baik hewan laut maupun darat yang sensitif terhadap cahaya malam akan bereaksi terhadap perubahan tersebut.
Di laut, fenomena ini dapat mengubah pola migrasi, waktu pemijahan, dan perilaku makan berbagai spesies seperti ikan, plankton, kepiting, penyu, hingga predator laut yang bergantung pada pasang surut.
Sementara itu, di darat, serangga malam, burung hantu, kelelawar, dan mamalia nokturnal juga menunjukkan pola aktivitas berbeda.
“Predator lebih mudah berburu dengan bantuan sinar bulan, sementara mangsa menjadi lebih waspada dan cenderung mengurangi aktivitas malam,” ujar Suana.
Ia menegaskan, hewan yang peka terhadap cahaya bulan hampir selalu menunjukkan reaksi ketika fenomena supermoon terjadi.
“Serangga malam dan kelelawar, misalnya, konsisten berubah perilakunya setiap kali supermoon muncul,” tambah dosen Fakultas MIPA Unram itu.
Supermoon terjadi ketika Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi (Perigee) bersamaan dengan fase purnama. Pada 7 Oktober 2025 pukul 10.47 WIB, Bulan mencapai purnama dengan jarak 361.458 km dari Bumi dan ukuran semi-diameter 16'31,43".
Kemudian pada 8 Oktober 2025 pukul 19.35 WIB, Bulan mencapai posisi Perigee sejauh 359.819 km, sedikit lebih dekat dengan ukuran semi-diameter 16'35,97".
Sebagai perbandingan, pada 13 April 2025, purnama terjadi ketika Bulan berada di titik terjauhnya (Apogee) pada jarak 406.006 km dengan semi-diameter 14'42,65". Artinya, supermoon Oktober akan tampak sekitar 12% lebih besar daripada purnama April 2025. (Antara News/IG @infobmkg/Z-10)
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada malam 13-14 Desember 2025 (Sabtu-Minggu). Fenomena astronomi tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai belahan duni
Informasi ini membantu ilmuwan memahami masa depan aktivitas tektonik, kestabilan medan magnet, dan bagaimana Bumi terus berubah dari waktu ke waktu.
Meteor dapat terlihat menyala sepanjang langit, tetapi jumlahnya terlihat paling banyak saat konstelasi Geminid sudah tinggi di langit sekitar tengah malam hingga 02.00-03.00 WIB.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved