Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru dari University of California, Berkeley, mengungkapkan temuan penting tentang emisi gas metana, salah satu gas rumah kaca paling kuat.
Sekitar dua pertiga emisi metana di atmosfer berasal dari mikroba yang hidup di lingkungan tanpa oksigen, seperti lahan basah, sawah, dan perut hewan ternak. Namun, melacak sumber spesifik dan mengukur dampaknya merupakan tantangan besar.
Para ilmuwan biasanya menggunakan sidik jari isotop—komposisi atom karbon dan hidrogen pada metana—untuk melacak asal-usulnya. Setiap sumber, seperti sapi atau rawa, memiliki sidik jari isotop yang unik. Namun, penelitian ini menemukan bahwa asumsi selama ini tidak sepenuhnya akurat.
Jonathan Gropp, peneliti utama, menjelaskan bahwa ada ketidakpastian besar dalam mengukur fluks metana. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, kita perlu memahami bagaimana proses biologis mikroba memengaruhi komposisi isotop ini.
Untuk pertama kalinya, para peneliti menggunakan teknologi penyuntingan gen CRISPR untuk memanipulasi enzim kunci dalam mikroba yang menghasilkan metana, yang disebut metanogen.
Dipti Nayak, salah satu peneliti, menjelaskan bahwa penelitian ini menggabungkan biologi molekuler dan biogeokimia isotop untuk memahami bagaimana biologi metanogen mengendalikan komposisi isotana metana.
Daniel Stolper, rekan penulis, menambahkan bahwa selama ini para ilmuwan berasumsi sidik jari isotop hanya bergantung pada "makanan" metanogen.
Namun, penelitian ini membuktikan bahwa komposisi isotop juga dipengaruhi oleh jumlah "makanan" tersebut, kondisi lingkungan, dan bagaimana mikroba bereaksi terhadap perubahan ini.
Para peneliti menemukan bahwa ketika metanogen kekurangan "makanan", aktivitas enzim mereka melambat dan mengubah cara mereka memproduksi metana. Hal ini menyebabkan komposisi isotop metana berubah, yang sebelumnya tidak diasumsikan.
Gropp mengatakan, "Pertukaran isotop yang kami temukan mengubah sidik jari metana yang dihasilkan oleh metanogen. Oleh karena itu, mungkin saja kita telah meremehkan kontribusi mikroba pemakan asetat."
Temuan ini menunjukkan bahwa kita perlu lebih berhati-hati saat menganalisis data metana dari lingkungan.
Teknik CRISPR ini juga membuka jalan baru untuk mempelajari bagaimana proses biologi memengaruhi isotop, yang dapat membantu para peneliti menjawab pertanyaan tentang geobiologi Bumi saat ini dan di masa lalu.
Selain itu, penelitian ini berpotensi mengubah metanogen agar tidak lagi menghasilkan gas metana, melainkan produk lain yang bermanfaat, seperti yang dijelaskan oleh Nayak.
Dengan memanipulasi enzim, kita bisa mengarahkan energi seluler metanogen ke jalur yang lebih produktif dan ramah lingkungan. (Science Daily/Z-1)
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Prof Steve Brusatte dari University of Edinburgh bersama Dr Gregor Hartmann dari Helmholtz-Zentrum, Jerman.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature melalui makalah berjudul Soft photonic skins with dynamic texture and colour control.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
Kimberlit merupakan jenis batuan beku ultrabasa yang berasal dari kedalaman lebih dari 150 kilometer di bawah permukaan Bumi, tepatnya di bagian mantel.
Tinta ini menggabungkan galium, logam yang padat pada suhu ruangan tetapi meleleh tepat di bawah suhu tubuh 98,6 derajat Fahrenheit atau setara dengan 37 derajat Celsius
Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun, kira-kira secepat kuku manusia tumbuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved