Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan berhasil menemukan mumi seekor bayi kucing bertaring pedang yang terawetkan secara luar biasa di lapisan es Siberia. Anak kucing ini, yang mati sekitar 35.000 hingga 37.000 tahun lalu, termasuk dalam spesies Homotherium latidens.
Spesies yang telah ditemukan ini masuk pada salah satu jenis kucing bertaring pedang yang hidup selama zaman Pliosen dan awal Pleistosen. Zaman ini terhitung sejak 5,3 juta hingga 2,6 juta tahun lalu dan awal zaman Pleistosen dari 2,6 juta hingga 11.700 tahun lalu. Spesies ini pernah tersebar luas di berbagai belahan dunia, tetapi populasinya mulai menurun menjelang akhir zaman es terakhir.
Kondisi tubuh mumi tersebut menunjukkan adaptasi luar biasa terhadap lingkungan zaman es. Para peneliti membandingkan bangkai ini dengan anak singa modern berusia 3 minggu dan menemukan anak kucing ini memiliki telapak kaki yang lebih lebar tanpa bantalan karpal.
Adaptasi tersebut memungkinkan mereka berjalan dengan stabil di salju. Selain itu, bulu tebal yang menutupi tubuhnya menjadi perlindungan terhadap suhu dingin ekstrem.
Perbandingan fisik juga mengungkapkan Homotherium latidens memiliki beberapa ciri unik dibandingkan kucing modern. Misalnya, anak kucing ini memiliki mulut lebih besar, telinga lebih kecil, tungkai depan lebih panjang, dan leher yang lebih tebal. Bahkan pada usia 3 minggu, ciri khas seperti tubuh pendek dengan tungkai panjang sudah terlihat jelas, sesuai dengan karakteristik spesies dewasa.
Bangkai ini ditemukan di tepi Sungai Badyarikha, Yakutia, pada 2020. Penanggalan radiokarbon pada bulunya memastikan usia mumi tersebut. Penanggalan radiokarbon pada bulu mumi menunjukkan anak kucing itu telah terkubur di lapisan tanah beku selama setidaknya 35.000 tahun, dan mungkin 37.000 tahun.
penemuan inimemungkinkan para peneliti untuk mendeskripsikan, untuk pertama kalinya, karakteristik fisik latidens, termasuk tekstur bulu kucing ini, bentuk moncongnya, dan distribusi massa ototnya.
Para peneliti mencatat, "bulu mata mumi tersebut tidak terawetkan." Penemuan ini memberikan gambaran pertama tentang karakteristik fisik spesifik spesies Homotherium latidens, meski penelitian lebih rinci sedang disiapkan untuk menjelaskan anatomi temuan ini secara mendalam.
Penelitian ini tidak hanya membuka wawasan tentang kehidupan kucing bertaring pedang pada masa lalu tetapi juga menunjukkan bagaimana spesies tersebut beradaptasi terhadap lingkungan ekstrem zaman es.
Mumi ini menjadi jendela unik menuju ekosistem kuno yang selama ini masih menyisakan banyak misteri. (Live Science/Z-3)
Fenomena langka ini memungkinkan aliran air mengukir Ngarai Lodore sedalam 700 meter tepat di jantung pegunungan, sebuah jalur yang secara logika topografi
Jika skenario itu terjadi, sebagian besar daratan akan berada jauh dari pengaruh pendinginan laut. Fenomena ini dikenal sebagai efek kontinentalitas, yakni kondisi ketika wilayah pedalaman
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik yang saling bertabrakan atau menjauh, Bulan hanya memiliki satu kerak yang utuh dan berkesinambungan.
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Prof Steve Brusatte dari University of Edinburgh bersama Dr Gregor Hartmann dari Helmholtz-Zentrum, Jerman.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature melalui makalah berjudul Soft photonic skins with dynamic texture and colour control.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana asal-usul orang Papua? Apa yang membuat mereka begitu unik, baik dari sisi budaya maupun genetik?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved