Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA sedikit keraguan Bumi semakin hangat, dan pemanasan ini disebabkan gas-gas yang dihasilkan manusia di atmosfer yang menyimpan panas dan mengarahkannya kembali ke permukaan planet kita. Bumi bukanlah satu-satunya planet yang mengalami apa yang disebut "efek rumah kaca" ini.
Venus adalah planet terpanas di tata surya dan sering disebut sebagai "kembaran jahat" Bumi. Kedua planet ini memiliki ukuran dan massa yang mirip, dengan Venus sedikit lebih kecil dari Bumi. Keduanya juga relatif mirip dalam jarak dari matahari dan bahkan awalnya tampak sangat mirip. Venus juga memiliki gunung berapi seperti Bumi, meskipun tidak jelas apakah masih aktif.
Namun, sesuatu tampaknya telah berjalan sangat salah dalam perkembangan Venus, meninggalkannya sebagai planet yang sangat panas dan tidak ramah. Kemungkinan besar "sesuatu" itu adalah efek rumah kaca yang sangat ekstrem, akibat dari kelebihan gas rumah kaca di atmosfernya.
Baca juga : Refleksi Hari Ozon, Mengenang Krisis Atmosfer 1984 saat Mulai Tipis Sepertiga
Sejak 1970-an, satelit yang ditempatkan di luar angkasa telah berperan penting dalam mengumpulkan gambaran tentang bagaimana Bumi dipengaruhi pemanasan global. Manusia memompa semakin banyak gas rumah kaca ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil dan, pada gilirannya, memaksa planet kita memanas jauh lebih cepat dari yang seharusnya.
Namun, ketika peringatan datang dari lembaga antariksa seperti NASA dan Badan Antariksa Eropa mengenai perubahan yang dialami Bumi akibat efek rumah kaca, peringatan yang lebih tajam dan ekstrem tentang efek rumah kaca mungkin datang dari planet lain, yakni Venus. Penyebab efek rumah kaca di Venus dan Bumi berbeda, perlu dicatat. Di Venus, efek itu alami dan mungkin hasil dari letusan gunung berapi yang berlebihan jutaan atau miliaran tahun yang lalu, di Bumi, itu adalah hasil dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia.
Meski begitu, bukan berarti Venus tidak memberikan pelajaran tentang perubahan iklim dan perlunya menghentikan aliran gas rumah kaca ke atmosfer.
Baca juga : Gawat, Bumi semakin Panas
"Venus tentu merupakan contoh bagus dari efek rumah kaca yang sangat ekstrem," kata Eryn Cangi, ilmuwan peneliti di Laboratorium Fisika Atmosfer dan Antariksa, Universitas Colorado Boulder, kepada Space.com.
"Venus unik dalam banyak hal di tata surya kita. Dalam banyak hal, ia mirip dengan Bumi, tetapi juga sangat berbeda. Ini juga salah satu dari sedikit benda di tata surya kita yang memiliki atmosfer yang substansial, dan sejauh ini merupakan planet dengan atmosfer paling tebal, terpanas, dan paling intens.
"Kita dapat belajar tentang planet-planet yang mirip Bumi dengan mengamati dan mempelajari Venus serta menafsirkannya sebagai contoh ekstrem dari apa yang bisa terjadi." (Space/Z-3)
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena parade planet akan menghadirkan enam planet di langit malam pada akhir Februari.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Para ilmuwan meyakini bahwa Venus akan segera melintasi aliran puing-puing kosmik yang sangat padat, menciptakan pertunjukan cahaya yang luar biasa di atmosfer tebal planet tersebut.
Selama puluhan tahun, buku pelajaran dan pengetahuan populer membuat kita yakin bahwa Venus adalah planet terdekat dengan Bumi.
Selama bertahun-tahun, Venus dikenal sebagai planet yang paling mirip dengan Bumi.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved