Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH anda membayangkan apa yang akan terjadi bila bumi berhenti mengitari matahari ?
Bumi mengitari matahari dengan kecepatan 30 kilometer per detik, dan gerakan ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan dalam tata surya. Namun, apa yang terjadi jika bumi seketika benar-benar berhenti mengitari matahari?
Ketika Bumi berhenti mengelilingi Matahari, gaya gravitasi Matahari akan menarik Bumi langsung menuju pusat Matahari. Bumi akan mulai jatuh ke arah Matahari, dan dalam waktu beberapa bulan, planet kita akan mencapai Matahari dan terbakar habis. Proses ini akan menyebabkan pemanasan ekstrem yang tidak mungkin bisa diatasi oleh kehidupan di Bumi.
Baca juga : Ini yang Dicari Ilmuwan saat Gerhana Matahari Total di AS
Ketika Bumi mendekati Matahari, gaya tidal yang sangat kuat akan terjadi. Gaya ini akan menyebabkan gempa bumi besar dan aktivitas vulkanik yang hebat karena deformasi kerak bumi. Tekanan yang dihasilkan oleh gaya tidal ini akan menyebabkan keretakan dan pergeseran besar pada lempeng tektonik, mengakibatkan bencana geologis di seluruh dunia.
Pemanasan yang cepat akan menyebabkan atmosfer Bumi mengembang dan mungkin sebagian besar atmosfer bisa lepas ke angkasa. Kehilangan atmosfer ini akan menghilangkan perlindungan terhadap radiasi kosmik dan sinar ultraviolet yang berbahaya, membuat permukaan Bumi sangat berbahaya bagi kehidupan. Selain itu, perubahan drastis dalam tekanan atmosfer dapat menyebabkan badai besar dan kondisi cuaca ekstrem lainnya.
Jika Bumi berhenti mendadak, inersia dari air di lautan akan menyebabkan gelombang besar dan tsunami yang sangat merusak. Banjir besar akan terjadi di seluruh dunia, menghancurkan kota-kota pesisir dan menyebabkan kerugian besar pada infrastruktur dan populasi manusia.
Baca juga : 5 Dampak dan Pengaruh Gerhana Matahari Total terhadap Bumi
Perubahan mendadak dalam kecepatan dan posisi Bumi dapat menyebabkan tekanan mekanik yang sangat besar pada struktur Bumi. Ini bisa menyebabkan disintegrasi fisik, dengan kemungkinan pecahan-pecahan besar dari kerak bumi terlepas dan menjadi puing-puing yang mengelilingi Matahari atau bertabrakan dengan planet lain di tata surya.
Bumi berada dalam orbitnya karena gravitasi Matahari. Jika Bumi berhenti mengelilingi Matahari, gravitasi Matahari akan menarik Bumi langsung ke arah pusat Matahari. Bumi akan mulai jatuh menuju Matahari, dan ini akan menyebabkan pemanasan yang sangat cepat dan ekstrem, akhirnya menyebabkan planet kita terbakar habis sebelum mencapai permukaan Matahari.
Perubahan suhu dan hilangnya siklus siang-malam akan mempengaruhi lautan secara drastis. Ekosistem laut yang bergantung pada suhu yang stabil dan siklus terang-gelap akan terganggu, menyebabkan kematian massal pada kehidupan laut, termasuk plankton, yang merupakan dasar dari rantai makanan laut.
Kondisi yang terjadi jika Bumi berhenti mengelilingi Matahari akan menyebabkan efek berantai yang menghancurkan seluruh aspek kehidupan dan lingkungan di planet kita.
Bumi dan seluruh ekosistemnya sangat bergantung pada keseimbangan dinamis yang dipertahankan oleh gerakan orbitnya. Hilangnya keseimbangan ini akan membawa pada kehancuran total dan perubahan drastis yang tidak dapat dihindari. (Z-3)
Matahari meletuskan ledakan X-Class dan CME raksasa melaju ke Bumi. Badai geomagnetik kuat berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan.
Fenomena pertama gerhana matahari cincin dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026.
SELAMA ini ekor planet sering dikaitkan dengan benda langit tertentu. Namun, riset ilmiah menunjukkan bahwa bumi pun memiliki “ekor” sendiri yang terbentang jauh ke luar angkasa
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Medan magnet Bumi terbentuk oleh inti Bumi yang terdiri dari besi cair yang berputar di kedalaman sekitar 2.900 kilometer. Medan ini melindungi permukaan Bumi dari partikel bermuatan
Ini adalah pertama kalinya para ilmuwan melihat CME dengan variasi suhu seperti itu pada bintang muda yang mirip Matahari. Temuan ini dianggap penting karena menunjukkan bahwa aktivitas
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved