Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH anda membayangkan apa yang akan terjadi bila bumi berhenti mengitari matahari ?
Bumi mengitari matahari dengan kecepatan 30 kilometer per detik, dan gerakan ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan dalam tata surya. Namun, apa yang terjadi jika bumi seketika benar-benar berhenti mengitari matahari?
Ketika Bumi berhenti mengelilingi Matahari, gaya gravitasi Matahari akan menarik Bumi langsung menuju pusat Matahari. Bumi akan mulai jatuh ke arah Matahari, dan dalam waktu beberapa bulan, planet kita akan mencapai Matahari dan terbakar habis. Proses ini akan menyebabkan pemanasan ekstrem yang tidak mungkin bisa diatasi oleh kehidupan di Bumi.
Baca juga : Ini yang Dicari Ilmuwan saat Gerhana Matahari Total di AS
Ketika Bumi mendekati Matahari, gaya tidal yang sangat kuat akan terjadi. Gaya ini akan menyebabkan gempa bumi besar dan aktivitas vulkanik yang hebat karena deformasi kerak bumi. Tekanan yang dihasilkan oleh gaya tidal ini akan menyebabkan keretakan dan pergeseran besar pada lempeng tektonik, mengakibatkan bencana geologis di seluruh dunia.
Pemanasan yang cepat akan menyebabkan atmosfer Bumi mengembang dan mungkin sebagian besar atmosfer bisa lepas ke angkasa. Kehilangan atmosfer ini akan menghilangkan perlindungan terhadap radiasi kosmik dan sinar ultraviolet yang berbahaya, membuat permukaan Bumi sangat berbahaya bagi kehidupan. Selain itu, perubahan drastis dalam tekanan atmosfer dapat menyebabkan badai besar dan kondisi cuaca ekstrem lainnya.
Jika Bumi berhenti mendadak, inersia dari air di lautan akan menyebabkan gelombang besar dan tsunami yang sangat merusak. Banjir besar akan terjadi di seluruh dunia, menghancurkan kota-kota pesisir dan menyebabkan kerugian besar pada infrastruktur dan populasi manusia.
Baca juga : 5 Dampak dan Pengaruh Gerhana Matahari Total terhadap Bumi
Perubahan mendadak dalam kecepatan dan posisi Bumi dapat menyebabkan tekanan mekanik yang sangat besar pada struktur Bumi. Ini bisa menyebabkan disintegrasi fisik, dengan kemungkinan pecahan-pecahan besar dari kerak bumi terlepas dan menjadi puing-puing yang mengelilingi Matahari atau bertabrakan dengan planet lain di tata surya.
Bumi berada dalam orbitnya karena gravitasi Matahari. Jika Bumi berhenti mengelilingi Matahari, gravitasi Matahari akan menarik Bumi langsung ke arah pusat Matahari. Bumi akan mulai jatuh menuju Matahari, dan ini akan menyebabkan pemanasan yang sangat cepat dan ekstrem, akhirnya menyebabkan planet kita terbakar habis sebelum mencapai permukaan Matahari.
Perubahan suhu dan hilangnya siklus siang-malam akan mempengaruhi lautan secara drastis. Ekosistem laut yang bergantung pada suhu yang stabil dan siklus terang-gelap akan terganggu, menyebabkan kematian massal pada kehidupan laut, termasuk plankton, yang merupakan dasar dari rantai makanan laut.
Kondisi yang terjadi jika Bumi berhenti mengelilingi Matahari akan menyebabkan efek berantai yang menghancurkan seluruh aspek kehidupan dan lingkungan di planet kita.
Bumi dan seluruh ekosistemnya sangat bergantung pada keseimbangan dinamis yang dipertahankan oleh gerakan orbitnya. Hilangnya keseimbangan ini akan membawa pada kehancuran total dan perubahan drastis yang tidak dapat dihindari. (Z-3)
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Sebuah komet baru yang melesat menuju Matahari disebut berpotensi menjadi “Komet Besar” pada April mendatang. Komet itu bernama C/2026 A1 (MAPS).
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved