Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT ini, seluruh aktivitas manusia tidak terlepas dari perangkat digital dan akses terhadap internet. Oleh karena itu, diperlukan sejumlah etika saat berselancar di dunia maya. Etika di dunia maya tetap diperlukan selayaknya di dunia nyata.
Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital di Kalimantan, Jumat (1/7), secara daring.
Program itu didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.
Pegiat Japelidi yang juga Dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat Sri Astuty menyampaikan materi dengan judul ‘Menjadi Pelajar yang Cerdas di Era Digital’. Etika diperlukan karena di era digital kita berhubungan dengan banyak orang dari geografis dan budaya berbeda.
Ruang lingkup etika meliputi kesadaran, tanggung jawab, integritas, dan kebajikan. Etika berinternet, misalnya, tidak menggunakan huruf kapital, kutip seperlunya, perlakukan email sebagai pesan pribadi, hati-hati melanjutkan email ke orang.
“Jangan melakukan perundungan, jangan sebar ujaran kebencian, jangan sebar hoaks, jangan sebar data pribadi orang lain, jangan memberikan komentar kasar, jangan mencemarkan orang lain, jangan sebar percakapan pribadi, dan jangan memaksakan pendapat,” katanya.
Dosen UIN Antasari Banjarmasin Muhammad Ridha menyampaikan materi berjudul ‘Etis Bermedia Digital: Pemanfaatan Internet untuk Menunjang Belajar Mengajar’. Internet punya banyak fitur dan informasi yang melimpah yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran.
Interaksi pembelajaran di internet terjadi antara guru dan siswa, antarsiswa, ataupun antara siswa dengan konten pembelajaran. Menggunakan internet secara beretika adalah syarat agar teknologi memberi manfaat untuk peningkatan kompetensi diri.
“Di dunia digital, kita bisa berbagi, berkolaborasi, dan berkreasi,” ungkapnya.
Baca juga : Medsos Berpotensi Jadi Media Berkarya
Ketua APTIKOM Kalimantan Timur Eko Junirianto menambahkan materi berjudul ‘Bijak dalam Menggunakan Media Sosial’. Kita harus sadar setiap tindakan yang dilakukan di ruang digital punya dampak yang sama dengan di dunia nyata.
Di ruang digital, ada beberapa konten negatif yang bisa dijerat UU ITE dan sebaiknya dihindari, seperti konten melanggar kesusilaan, perjudian, pencemaran nama baik, pemerasan, penyebaran berita bohong, dan penyebaran ujaran kebencian.
“Tindakan etis terkait konten negatif yaitu dengan melakukan analisis konten, verifikasi konten, serta tidak mendistribusikan. Produksi hanya konten yang positif/bermanfaat,” katanya.
Pengguna internet di Indonesia pada 2021 mengalami peningkatan. We Are Social mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Dapat dikatakan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 61.8% dari total populasi Indonesia.
Menurut Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, indeks atau skor literasi digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori "sedang".
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.
Kegiatan itu ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi. (RO/OL-7)
BISNIS dan sufisme sebenarnya dua wilayah yang berbeda. Ketika orang berbicara tentang bisnis, ia akan segera lari kepada keuntungan-keuntunngan ekonomis.
Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang merindukan ruang untuk berhenti sejenak, merefleksikan diri, dan bertumbuh secara pribadi.
Komisi VIII DPR RI mengingatkan pentingnya etika publik dan perlindungan anak menyoroti video viral yang memperlihatkan penceramah Elham Yahya atau Gus Elham yang mencium anak kecil
Filsafat Kemiliteran dan Keselamatan Negara. Buku ini memberikan insight penting kepada berbagai pihak untuk mendeteksi anasir-anasir buruk yang melemahkan keluhuran militer
PENYELENGGARAAN Pemilu 2024 menuai sorotan, kali ini bukan hanya soal teknis kepemiluan, melainkan juga persoalan etika dan gaya hidup mewah para komisioner KPU.
Jika kurang terkontrol, gaya komunikasi yang kurang hati-hati bisa menimbulkan persepsi negatif dan berpotensi mempengaruhi citra pemerintahan.
Acara edukasi ini fokus literasi digital, pelindungan anak, dan produksi konten kreatif bertanggung jawab di era AI.
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan pers harus menjaga kepercayaan publik di tengah disinformasi dan AI. Kolaborasi media, pemerintah, dan platform digital jadi kunci ruang informasi sehat.
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana menggelar edukasi Pemasaran dan Digital Branding bagi UMKM untuk siswa SMA Negeri 1 Jatiluhur.
Penulis KBM App manfaatkan teknologi AI sebagai asisten pribadi di Korea Selatan, mulai dari deteksi kandungan halal hingga terjemahan bahasa Hangeul secara real-time.
LITERASI digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan kecakapan memahami dan mengkritisi narasi yang beredar di ruang digital.
Penguatan literasi digital merupakan investasi strategis jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved