Selasa 22 Maret 2022, 20:41 WIB

Pemanfaatan Big Data dan Keamanan Data Dalam Kebijakan Pembangunan Diperlukan 

Mediaindonesia.com | Teknologi
Pemanfaatan Big Data dan Keamanan Data Dalam Kebijakan Pembangunan Diperlukan 

Dok. Pribadi
Webinar mengenai pemanfaatan Big Data

 

MASIFNYA proses digitalisasi pada seluruh lini kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan bernegara membuka peluang lebar dan tak terbatas bagi potensi pemanfaatan data. Big data atau sekumpulan data daring-dinamis yang kompleks dan bervolume besar yang menjadi keluaran dari proses digital tersebut menjadi andalan bagi beragam inovasi berbasis sistem teknologi dan informasi untuk dapat menyediakan layanan yang tepat sasaran bagi masyarakat. 

Inovasi terhadap peluang ini cenderung dimotori oleh berbagai jenis usaha profit seperti layanan beriklan melalui media sosial, transportasi, pesan-antar, hingga edukasi daring.   

Beragam potensi utilisasi data tersebut juga perlu untuk dikawal dari sisi regulasi perlindungan data bagi masyarakat sebagai subyeknya. Sehingga, tidak hanya menghasilkan keluaran kebijakan yang efektif namun juga profesional dalam menempatkan masyarakat secara individu dan kelompok sebagai pemilik data sekaligus penerima kebijakannya. 

Praktik penerapan data thinking atau proses reoritentasi organisasi menjadi berbasis data pada level pengambilan kebijakan tersebut sudah cukup banyak dirintis oleh lembaga peneliti kebijakan yang kerap bekerja sama dengan pemerintah. Upaya multisektor ini diharapkan dapat mengintegrasikan upaya knowledge-to-policy (K2P) berbasis utilisasi data yang lebih baik, inklusif dan tepat sasaran.   

Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Wahjudi Djafar, memaparkan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menciptakan suatu mesin baru yang sering disebut sebagai big data dengan kemampuan yang luar biasa dan tidak terbayangkan oleh teknologi sebelumnya. Kemudian TIK mampu secara volume, velocity, dan valuenya bekerja dalam satu waktu, sehingga memungkinkan penopangan kebijakan prediktif, termasuk dalam pencapaian tujuan pembangunan. 

Akan tetapi, karena data yang dikumpulkan tentang manusia yang kemudian pada akhirnya digunakan untuk mengambil keputusan, maka harus berdasarkan hak asasi manusia (HAM). 

"Dalam konteks itu, perlindungan data menjadi penting. Sehingga proses data ini tetap dalam kerangka ruang penghormatan HAM. Karena kalau tidak di kerangkakan, maka proses dan tujuan bisa dimungkinkan atau berisiko mengesampingkan HAM," kata Wahyudi dalam webinar Pembangunan dan Utilisasi Data dalam Analisis dan Penyusunan Kebijakan yang digelar Knowledge Sector Initiatives (KSI). 

Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Edbert Gani Suryahudaya mengatakan, keterbukaan big data atau data publik menjadi persoalan menahun. Dia melihat, masalah supply dan demand. Kalau data supply tersedia tetapi tidak dimanfaatkan, akan sangat percuma. 

Baca juga : Pola Kerja Hybrid Perlu Diperkuat Teknologi Tangkal Serangan Siber

"Persoalan sisi lain dari sisi demand tidak banyak lembaga yang berusaha memanfaatkan dengan cukup baik. Itu harus dilakukan keseimbangan," kata Gani. 

Peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina Siti Nurhayati menjelaskan, bagaimana pihaknya membangun pangkalan data yang berisikan profil Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan bagaimana pangkalan data tersebut diutilisasi sebagai instrumen pengelolaan konflik agama di masyarakat.   

"Data ini penting karena ini bisa mengelola konflik keagamaan. Kami ada dua ranah yaitu kebijakan publik dan penguatan kapasitas. FKUB ini adalah hal potensial dalam pengelolaan konflik dan kami mengadvokasi secara nasional, bertemu beberapa rekan, bekerjasama dengan pusat kerukunan umat beragama," kata Nurhayati. 

Terkait pangkalan data, Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus peneliti senior Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM UIN), Oman Fathurahman, memaparkan pangkalan data manuskrip untuk pelestarian kebudayaan beserta rekomendasi kebijakan bagi pemerintah untuk menginisiasi proses digitalisasi serupa bagi kekayaan intelektual bangsa.   

"Nah, jadi pangkalan data, bahwa kita masyarakat dan bangsa yang mewarisi sumber primer tertulis yang kaya. Jadi di PPIM Jakarta ini, melalui digital mengembangkan pangkalan data manuskrip digital yang open access," pungkas Oman. 

Deputi II Bidang Pembangunan Manusia, Kantor Staf Presiden (KSP) Abetnego Tarigan menjelaskan, Pemerintah Indonesia terus mendorong utilisasi big data yang efektif, kolaboratif, serta akuntabel.  

"Jadi selain soal keterbukaan data pemerintah, di sisi lain juga banyak data lain yang perlu dilindungi. Sangat valid apa yang disampaikan soal diperlukannya perlindungan data pribadi. Oleh karena itu, pengembangan menuju Satu Data harus memberikan rasa nyaman ke semua pihak," kata Abetnego. (RO/OL-7)

Baca Juga

Freepik.com

Senang Mengekspresikan Diri, Jangan Kebablasan Unggah Data Pribadi

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 03 Juli 2022, 22:30 WIB
Aspek keamanan harus menjadi perhatian sebab sama halnya dengan dunia nyata, ada risiko yang mengancam saat beraktivitas di dunia...
MI/HO

IOH dan Google Cloud Lanjutkan Kerja Sama Strategis Kembangkan Inovasi Solusi Digital

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 03 Juli 2022, 14:45 WIB
Kerja sama Indosat Business dan Google Cloud juga telah digunakan oleh beberapa universitas ternama termasuk UIN...
Ist

Pentingnya Paham XDR untuk Antisipasi Ancaman Siber yang Berkembang

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 03 Juli 2022, 14:39 WIB
Trelix menjelaskan mengenai manfaatan Extended Detection and Response (XDR) dalam memerangi ancaman-ancaman siber yang kian...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya