Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Sepak Bola Indonesia Dilarang Ikut Asian Games 2026, KOI Siap Melawan

Khoerun Nadif Rahmat
20/2/2026 19:54
Sepak Bola Indonesia Dilarang Ikut Asian Games 2026, KOI Siap Melawan
Pesepak bola Timnas Indonesia U-22 Raka Cahyana (kedua kanan) berebut bola dengan pesepak bola Timnas Mali U-22 Wilson Samake (kiri) pada laga uji coba FIFA Match Day di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/11/2025).(Antara)

KETUA Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Raja Sapta Oktohari, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman absennya tim nasional sepak bola Indonesia di ajang Asian Games 2026.

Upaya diplomasi kini tengah digencarkan untuk melawan regulasi baru yang dinilai janggal dan merugikan partisipasi negara-negara Asia dalam pesta olahraga multievent tersebut.

Ketidakpastian menyelimuti langkah Timnas U-23 dan Timnas Putri Indonesia setelah muncul kebijakan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Dewan Olimpiade Asia (OCA).

Keduanya sepakat membatasi kepesertaan hanya bagi negara yang lolos ke Piala Asia U-23 2026 dan Piala Asia Wanita 2026. Lantaran Indonesia gagal menembus kedua ajang tersebut, peluang untuk berlaga di Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 4 Oktober 2026 mendatang terancam tertutup rapat.

Okto, sapaan, Raja Sapta Oktohari, menyebut format "grading" tanpa proses kualifikasi terbuka merupakan hal yang tidak lazim dalam tradisi Asian Games.

"Secara informal saya laporkan kepada Menpora bahwa kami, NOC, sudah menyikapi apa yang dilakukan oleh OCA. Biasanya di Asian Games itu kan semuanya ikut," ujar Okto itu saat ditemui di Kantor Kemenpora RI, Jakarta, Jumat (20/2).

Okto juga menyoroti minimnya sosialisasi terkait perubahan format ini. Ia mempertanyakan apakah kebijakan tersebut diambil karena keterbatasan tuan rumah atau faktor lain, namun ia menekankan bahwa setiap aturan harus berlandaskan prinsip keadilan.

Menurutnya, membatasi peserta sepak bola adalah langkah kontraproduktif mengingat cabang olahraga ini memiliki basis massa terbesar yang menjadi daya tarik utama ajang tersebut.

Dalam perjuangan ini, KOI tidak bergerak sendirian. Komunikasi intensif terus dijalin dengan Presiden OCA serta komite olimpiade negara-negara Asia lainnya yang merasakan dampak serupa. Dukungan dari Menpora juga menjadi modal penting bagi KOI untuk mendesak peninjauan ulang atas kebijakan tersebut.

Okto menegaskan bahwa tuan rumah tidak boleh bertindak semena-mena dalam menentukan regulasi tanpa mempertimbangkan aspirasi federasi negara peserta. 

Pihaknya berkomitmen untuk terus menyuarakan keberatan ini bersama federasi sepak bola lain di Asia agar marwah kompetisi tetap terjaga dan inklusif bagi seluruh anggota. 

"Banyak pertimbangan yang harus dilihat dan kami akan terus menyuarakan ini," pungkasnya. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya