Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK pertama kali digulirkan, Piala Asia U-23 telah menjadi kawah candradimuka bagi talenta-talenta terbaik Benua Kuning. Turnamen ini pertama kali diperkenalkan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada tahun 2013 dengan nama awal AFC U-22 Championship. Edisi perdana tersebut berlangsung di Oman, di mana Irak keluar sebagai juara pertama setelah mengalahkan Arab Saudi di partai final.
Pada edisi kedua di tahun 2016 yang digelar di Qatar, AFC melakukan perubahan signifikan dengan mengubah batasan usia dari U-22 menjadi U-23. Hal ini dilakukan untuk menyelaraskan turnamen dengan kualifikasi Olimpiade. Sejak saat itu, nama turnamen berubah menjadi AFC U-23 Championship, sebelum akhirnya dibranding ulang menjadi AFC U-23 Asian Cup pada tahun 2021.
Hingga saat ini, belum ada satu pun negara yang benar-benar mendominasi turnamen ini secara mutlak. Jepang menjadi tim pertama yang berhasil meraih dua gelar juara (2016 dan 2024), membuktikan kedalaman pembinaan usia dini mereka.
| Tahun | Tuan Rumah | Juara | Skor Final | Runner-up |
|---|---|---|---|---|
| 2013 | Oman | Irak | 1-0 | Arab Saudi |
| 2016 | Qatar | Jepang | 3-2 | Korea Selatan |
| 2018 | Tiongkok | Uzbekistan | 2-1 (AET) | Vietnam |
| 2020 | Thailand | Korea Selatan | 1-0 (AET) | Arab Saudi |
| 2022 | Uzbekistan | Arab Saudi | 2-0 | Uzbekistan |
| 2024 | Qatar | Jepang | 1-0 | Uzbekistan |
Salah satu alasan mengapa Piala Asia U-23 begitu kompetitif adalah statusnya sebagai babak kualifikasi Olimpiade untuk zona Asia. Hal ini terjadi setiap dua edisi sekali (pada tahun yang habis dibagi empat). Tiga tim teratas (Juara, Runner-up, dan Peringkat 3) akan mendapatkan tiket otomatis ke Olimpiade, sementara peringkat keempat harus menjalani laga play-off antar-benua.
Timnas Indonesia memiliki sejarah yang unik dalam turnamen ini. Setelah selalu gagal di babak kualifikasi selama satu dekade (2013-2022), skuad Garuda Muda mencetak sejarah besar pada edisi 2024 di Qatar. Di bawah asuhan pelatih Shin Tae-yong, Indonesia yang berstatus tim debutan berhasil melaju hingga babak semifinal.
Kemenangan dramatis atas Korea Selatan di perempat final melalui adu penalti menjadi momen ikonik yang mengubah pandangan Asia terhadap sepak bola Indonesia. Meski akhirnya finis di peringkat keempat, pencapaian ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah partisipasi Indonesia di level kelompok umur Asia.
Piala Asia U-23 terus berkembang menjadi kompetisi yang sulit diprediksi. Dengan munculnya kekuatan baru seperti Uzbekistan dan kebangkitan Asia Tenggara, turnamen ini akan selalu menjadi magnet bagi pencari bakat klub-klub Eropa.
(Cah/P-3)
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-36. Melalui skema serangan cepat, Kaito Koizumi berhasil melepaskan tembakan kaki kiri akurat dari dalam kotak penalti.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-36. Melalui skema serangan cepat, Kaito Koizumi berhasil melepaskan tembakan kaki kiri akurat dari dalam kotak penalti.
TIMNAS Indonesia U-23 dipastikan hanya memiliki satu jalan menuju putaran final Piala Asia U-23 2026, yakni dengan meraih status juara grup.
PELATIH Timnas Makau U-23, Kwok Kar Kok Kenneth membagikan pandangannya mengenai perbedaan gaya bermain antara Timnas Indonesia U-23 dan Korea Selatan U-23.
TIMNAS Korea Selatan U-23 dipastikan menjadi lawan berat bagi Indonesia U-23 pada Kualifikasi Piala Asia U-23 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved