Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rasa Ketidakadilan Jadi Bahan Bakar Senegal Juara Piala Afrika

Dhika Kusuma Winata
19/1/2026 14:43
Rasa Ketidakadilan Jadi Bahan Bakar Senegal Juara Piala Afrika
Senegal saat memenangkan Piala Afrika.(Dok. Instagram African Cup)

PENCETAK gol kemenangan Senegal di final Piala Afrika (Afcon 2025, Pape Gueye, mengungkapkan rasa ketidakadilan justru menjadi pemicu semangat timnya hingga mampu merebut gelar juara. Pasalnya, keputusan penalti kontroversial untuk Maroko hampir saja menggagalkan ambisi Senegal dan memicu insiden panas.

Final yang digelar di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1) WIB itu berlangsung ketat dan tanpa gol hingga masa injury time babak kedua.

Di saat krusial itu, wasit memberikan penalti kepada Maroko usai tinjauan VAR terkait pelanggaran terhadap Brahim Diaz.
Keputusan tersebut membuat kubu Senegal bereaksi keras.

Mereka sebelumnya merasa dirugikan setelah sebuah gol mereka dianulir karena pelanggaran yang dianggap ringan. Emosi pun memuncak. Pemain Senegal bahkan sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.

Kericuhan juga terjadi di tribun penonton. Pendukung Senegal mencoba memasuki lapangan dan terlibat bentrokan dengan petugas keamanan.

Pertandingan pun tertunda hampir 20 menit sebelum Diaz akhirnya mengeksekusi penalti. Namun, tendangan lemah pemain Maroko itu berhasil diamankan kiper Senegal, Edouard Mendy.

Momentum berbalik ke tangan Senegal. Pada menit keempat babak tambahan, Pape Gueye mencetak gol spektakuler yang memastikan kemenangan 1-0 sekaligus mengantarkan Lions of Teranga meraih trofi Piala Afrika.

“Kami merasakan adanya ketidakadilan. Tepat sebelum penalti itu, kami merasa seharusnya mendapat gol, tetapi wasit tidak melihat VAR,” ujar Gueye.

“Sadio (Mane) meminta kami kembali ke lapangan dan mengumpulkan fokus. Edouard kemudian melakukan penyelamatan, kami tetap konsentrasi, mencetak gol, dan memenangi pertandingan," imbuhnya.

Pelatih Senegal Pape Thiaw mengakui dirinya sempat meminta para pemain meninggalkan lapangan karena tidak setuju dengan keputusan penalti tersebut. Namun, setelah merenung ia menyadari tindakannya keliru.

“Setelah dipikirkan kembali, saya sadar seharusnya tidak meminta mereka keluar. Saya meminta maaf atas hal itu,” kata Thiaw kepada beIN Sports.

“Dalam situasi panas, reaksi spontan bisa terjadi. Sebelumnya kami juga mencetak gol yang tidak disahkan. Namun, sekarang kami menerima bahwa wasit juga bisa melakukan kesalahan dan kami meminta maaf," imbuhnya.

Gelar ini menjadi titel Piala Afrika kedua bagi Senegal, empat tahun setelah mereka meraih trofi perdana di Kamerun usai menang adu penalti atas Mesir. Selain itu, Senegal tercatat dua kali menjadi runner up.

Gol Gueye juga memiliki arti historis. Itu merupakan gol pertama Senegal sepanjang empat penampilan mereka di final Piala Afrika.

“Kami sangat bahagia dengan kemenangan malam ini,” ujar Gueye.

“Kami merasa bangga. Kami benar-benar ingin menang. Semua orang melihat apa yang terjadi di akhir pertandingan, tetapi kami memilih kembali ke lapangan dan memberikan segalanya, dan itu yang kami lakukan," tukasnya.
(AFP/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik