KEPUTUSAN Real Madrid untuk berpisah dengan Xabi Alonso hanya berselang satu hari setelah kekalahan menyakitkan di final Supercopa de Espana dari Barcelona, Senin (12/1) menandai babak baru di Santiago Bernabeu. Alih-alih mencari nama besar dari luar, Florentino Perez kembali ke akarnya dengan menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pelatih utama.
Penunjukan ini bukan sekadar mengisi kekosongan kursi kepelatihan. Ini adalah pernyataan sikap tentang identitas klub. Arbeloa, yang telah membuktikan kapasitasnya di level akademi, kini memikul beban berat untuk mengembalikan kejayaan Los Blancos di tengah musim yang fluktuatif.
1. Keberhasilan La Fabrica: Rekam Jejak yang Berbicara
Banyak yang meragukan pengalaman Arbeloa karena ia "hanya" melatih tim junior dan cadangan. Namun, data berkata lain. Selama menukangi Juvenil A (U-19), Arbeloa mencatatkan sejarah dengan meraih treble pada musim 2022-2023. Ia tidak hanya memberikan trofi, tetapi juga membentuk karakter pemain muda yang siap bertarung.
Promosinya ke Real Madrid Castilla pada Juni 2025 semakin mematangkan visinya. Di bawah arahannya, Castilla tampil dominan dengan gaya main yang sangat identik dengan filosofi klub: menyerang, cepat, dan tak kenal menyerah.
2. Bedah Taktik: Fleksibilitas 4-3-3 Agresif
Berbeda dengan Xabi Alonso yang cenderung menggunakan pendekatan modern dengan penguasaan bola yang sangat terstruktur, Arbeloa lebih menyukai gaya yang pragmatis namun agresif. Berdasarkan data dari Transfermarkt dan Sofascore, Arbeloa konsisten menggunakan formasi 4-3-3 Attacking.
- High Pressing: Arbeloa menuntut pemain depannya untuk melakukan tekanan sejak di area lawan.
- Transisi Cepat: Mengandalkan kecepatan sayap, taktik ini sangat cocok dengan profil pemain seperti Vinicius Jr dan Rodrygo.
- Soliditas Lini Belakang: Sebagai mantan bek tangguh, Arbeloa sangat disiplin dalam organisasi pertahanan, hal yang menjadi titik lemah Madrid di bawah Alonso musim ini.
3. Tantangan Ruang Ganti: Menjinakkan Ego Galactico
Tantangan terbesar Arbeloa bukanlah di papan taktik, melainkan di ruang ganti. Mengelola pemain bintang dengan ego besar memerlukan otoritas moral. Arbeloa memiliki keunggulan di sini; ia adalah legenda yang memenangkan dua trofi Liga Champions sebagai pemain Madrid. Ia tahu betul apa artinya mengenakan jersey putih tersebut.
Perbandingan Statistik Kepelatihan Alvaro Arbeloa
| Aspek Analisis | Data/Catatan |
|---|---|
| Formasi Favorit | 4-3-3 Attacking / 4-4-2 |
| Rata-rata Poin per Laga (Castilla) | 1.93 PPM |
| Prestasi Kunci | Treble Winner Juvenil A (2022/23) |
| Debut Terdekat | vs Albacete (Copa del Rey, 14 Jan 2026) |
Kesimpulan: Langkah Berani yang Logis
Penunjukan Alvaro Arbeloa adalah langkah "back to basics" bagi Real Madrid. Ketika taktik modern Xabi Alonso gagal memberikan konsistensi, Perez memilih sosok yang memiliki DNA Madridismo murni. Keberhasilan Arbeloa akan sangat bergantung pada seberapa cepat ia bisa mentransfer mentalitas juaranya kepada para pemain senior yang mulai kehilangan arah.
