Menabur Benih Puisi 

KUNCUP pagi baru saja mekar. Matahari perlahan bersinar, namun tidak begitu terik. Dua bola mata Andy Noya sejurus tertuju ke arah karya-karya puisi yang dipajang rapi di Grand Lobby Metro TV

Ia menengok ke arah salah satu pigura puisi berjudul Pekarangan. Itu adalah buah karya penyair nasional Inggit Putria Marga. Tak berapa lama, Andy pun melangkah ke tempat duduk sambil memerhatikan pajangan puisi-puisi lainnya. 

Ya, termasuk puisi berjudul Amanat Galunggung karya penyair Acep Zamzam Noor. Lalu, Senja di Kamar dan Indonesia karya penyair Remy Sylado. Semua tak luput dari pengamatan lelaki berkacamata dan berambut plontos, itu. 

Pemajangan karya-karya puisi tersebut merupakan rangkaian acara pembubaran panitia Festival Bahasa dan Sastra 2021 bertajuk Indonesia Sejati di Grand Lobby Metro TV, Kedoya Selatan, Jakarta Barat, Jumat (26/11) pagi. 

Selain karya Inggit, Acep, dan Remy, terdapat pula karya-karya puisi tiga penyair nasional lainnya. Ketiganya adalah Joko Pinurbo, Sihar Ramses Simatupang, dan karya saya sendiri. Semua telah ‘dibeli’ oleh orang-orang baik yang memiliki hati di dunia perpuisian Indonesia. 

Sebelumnya, semua karya-karya keenam penyair itu telah dilelang pada puncak festival, Jumat (29/10) lalu. Dari hasil pelelangan puisi terkumpul donasi sebesar Rp138 juta. Semua hasil disalurkan untuk anak yatim piatu korban covid-19 melalui Benih Baik. 

“Wah, puisi-puisi sangat bagus. Ini tempat sudah jadi sarang sastrawan,” cetus Andy yang juga Pendiri Benih Baik, seusai menerima secara simbolik hasil lelang puisi dari para petinggi jajaran Dewan Direksi Media Indonesia

Acara berlangsung secara kekeluargaan. Hadir antara lain, Ketua Dewan Redaksi Media Group Elman Saragih, Direktur Utama Media Indonesia Firdaus Dayat, Direktur Pemberitaan Media Indonesia Gaudensius Suhardi, Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia Ade Alawi, karyawan Media Group, serta sejumlah sastrawan. 

Dana hasil lelang puisi pun akan disebarkan ke berbagai titik. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Para penerima adalah anak-anak yatim piatu korban covid-19 yang telah diseleksi secara transparan. 

Menengok nominal hasil pelelangan tersebut boleh dibilang masih kecil dibandingkan acara lelang puisi di panggung dunia. Namun, hasil kerja tim Indonesia Sejati memberikan sinyal positif. Ajang ini terbuka lebar untuk digelar kembali di tahun-tahun mendatang. 

Hasil lelang puisi menjadi semacam saluran kasih dan cinta bagi mereka yang membutuhkannya. Apalagi, dalam situasi pandemi. Sekecil apapun bantuan sangat penting. 

Andy pun sangat mengapresiasi acara lelang puisi. Apalagi, hal itu sebagai bagian mendukung aksi kemanusiaan. “Saya kira lelang puisi baik untuk digelar ke depannya,” papar pria kelahiran Surabaya, 6 November 1960, itu. 

Bangsa berpuisi 

Dalam dunia perpuisian, puisi adalah jenis sastra yang didasarkan pada interaksi kata dan ritme. Bangsa yang berbudaya sering menggunakan sajak untuk ‘mengukur’ kecerdasan dan kepekaan masyarakatnya terhadap persoalan sosial. 

Dalam gerakan puisi klasik Prancis dan Rusia, misalnya, puisi menjadi seperangkat aturan yang mengatur jumlah dan susunan suku kata di setiap baris. Dalam puisi, kata-kata dirangkai untuk membentuk suara, gambar, dan ide yang mungkin terlalu kompleks atau abstrak untuk dijelaskan secara langsung. 

Akhir abad ke-17 dan ke-18 adalah periode dalam sejarah sastra Eropa Barat yang paling diasosiasikan dengan tradisi klasik, karena para penulis secara sadar mengadaptasi model-model klasik. 

Dalam perpuisian Rusia, misalnya, aturan dan meteran masih digunakan hingga hari ini. Bahkan, estetika bahasa menjadi pilihan penyair di sana untuk menunjukkan bahwa bahasa Rusia adalah bahasa filosofis. 

Tak hanya penyair Rusia, penyair Anglo-Saxon juga memiliki skema dan meteran rima mereka sendiri. Sedangkan, penyair Yunani dan penyair Arab juga memiliki estetika bahasa mereka. 

Meskipun bentuk-bentuk klasik ini masih banyak digunakan sampai sekarang, penyair modern, termasuk kontemporer, sering kali mengabaikan aturan sama sekali. Puisi mereka umumnya tidak berima, tidak terstruktur, dan tidak sesuai dengan meteran tertentu. 

Puisi-puisi modern, bagaimanapun, masih mengandung kualitas berirama. Para penyair sejak dahulu berusaha untuk menciptakan keindahan melalui kata-kata mereka. Sebut saja salah satu tokoh Pujangga Baru R Intojo. Puisi-puisinya di era 1930-an begitu kuat dengan aturan. 

Karya-karya enam penyair nasional hasil kurasi lelang puisi pertama pada Festival Bahasa dan Sastra 2021 ini masih bersifat kontemporer. Ada kolaborasi antara puisi dan seni rupa sehingga menjadi semacam artefak. 

Hal ini sebagai sebuah langkah awal bersama untuk menyambut datangnya era pascakontemporer (post-contemporary) di Indonesia. Sesungguhnya, puisi memiliki nominal yang tak terhingga dan tak terbatas. 

Benih-benih puisi telah ditaburkan, ditebarkan, dan diterbangkan ke segala penjuru mata angin. Lewat Media Group Network, ada harapan ke depan, yaitu mendukung perpuisian Indonesia ke panggung Nobel dunia kelak. 

 

Iwan Jaconiah
Pengasuh ‘Sajak Kofe’