Lelang Puisi: Antara Utopia, Fantasi, dan Realitas 

MENDENGAR pembacaan puisi memang sudah biasa di negeri ini. Kolaborasi antara penyair, pejabat, dan penikmat sastra dalam melantunkan ayat-ayat puisi sudah lazim sejak Republik ini berdiri. Namun, bagaimana dengan lelang puisi? 

Kegiatan melelang puisi secara profesional masih menjadi hal baru. Bahkan, bagi sebagian besar masyarakat, ini mungkin hal yang tidak biasa. Padahal, lelang puisi sesungguhnya tidak berbeda dengan lelang mobil antik dan lelang lukisan. 

Apakah sebuah puisi bisa laku dilelang? Untuk menjawabnya, kita bisa menentukan pilihan. Bisa ‘ya’ atau ‘tidak’. Bergantung pada tujuan puisi dilelang, unsur sisi kemanusiaan yang melekat, dan nilai estetika yang terkandung untuk dilirik pembeli. 

Jika sebuah puisi diberi ilustrasi dan dibingkai secara menarik, lalu dipamerkan di galeri dan museum, maka secara otomatis puisi memiliki nilai tafsir. Sebaliknya, jika dipajang di toko dan balai lelang, puisi memiliki nilai tawar. 

Puisi mengandung unsur-unsur estetik, filosofis, idealis. Akan tetapi, ia memiliki nilai jual tak terbatas. Artinya, puisi bisa dilelang dan diperdagangkan. Lagi-lagi tergantung siapa penyelenggara dan calon pembelinya. 

Di era keterbukaan informasi, dampak globalisasi menuntut para pekerja sastra untuk berpikir kreatif, keras, dan fokus. Menerima pengaruh Barat (occidental), tapi tetap mengedepankan nilai Timur (oriental). 

Puisi memiliki ‘jalan hidupnya’ sendiri. Ia selalu akan bersarang di ubun-ubun setiap pembaca yang menyukainya. Puisi ditulis, dibaca, dan disimpan sebagai bagian kebudayaan bangsa yang beradab. Jika sebuah negara tanpa puisi maka tak ada hati di sana. 
 
Menuju puisi pascakontemporer 

Tak dimungkiri, pada puncak perayaan Festival Bahasa dan Sastra 2021 bertajuk Indonesia Sejati di Grand Studio Metro TV, Jakarta Barat, Jumat (29/10) lalu, enam penyair nasional menyertakan puisi-puisi mereka untuk dilelang pada acara Lelang Puisi. Itu berlangsung secara hybrid

Lelang Puisi keenam penyair menjadi awal muasal menatap peradaban masa depan. Setiap penyair memberi pesan bersama berupa kegiatan kemanusiaan, yakni hasil lelang puisi dialokasikan untuk anak-anak yatim piatu korban covid-19. 

Enam penyair itu; Remy Sylado, Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Inggit Putria Marga, Sihar Ramses Simatupang, dan saya sendiri. Dari semuanya, Remy dalam keadaan sakit keras, tapi masih memikirkan puisi. 

Laporan harian Media Indonesia di esok harinya, Sabtu (30/10), sangat viral di dunia maya. Menurunkan liputannya di halaman utama berjudul ‘Aku Dengar Suara Yang Lain’, yang tak lain sebuah sajak terbaru Remy. 

Ide Lelang Puisi dalam festival ini awalnya muncul dari teman-teman marketing dan periklanan di Media Group. Untuk itulah disiapkan secara kilat. Semua yang berkaitan dengan lelang harus legal, profesional, transparan, dan berintegritas. 

Tak mengherankan jika beberapa balai lelang profesional diundang dan dilibatkan sebagai konsultan. Tujuannya mendapatkan informasi perihal legalitas dari sisi undang-undang dan perizinan. 

Beberapa balai lelang profesional yang dijajak berdiskusi adalah mereka yang berkecimpung dalam seni rupa. Namun, lelang puisi bagi mereka adalah hal baru. Itu menjadi tantangan dalam proses menuju ke puncak acara nantinya. 

Sebagai kulturolog, saya diminta untuk terlibat. Wakil Pemimpin Redaksi Media Indonesia Ade Alawi menghubungi saya. Intinya, bagaimana menghadirkan suasana baru perpuisian Indonesia. 

Lima tahun lebih saya tinggal di Moskwa, Rusia, bergaul dengan para sastrawan, pemikir seni rupa, kritikus sastra, pembaca sastra, dan akademisi. Itu telah membuka paradigma dan persepsi berpikir saya. 

Jika menerapkan manajemen karya secara baik, tidak akan ada penyair dan pelukis berkekurangan di Republik ini. Mereka bisa fokus berkarya tanpa memikirkan asap kebul di dapur. 

Walaupun saya tinggal di Rusia, komunikasi dengan tokoh sastra kondang di Tanah Air kala itu tetap berjalan intensif. Sekadar menyebut dua nama, yaitu Remy dan Acep. Karya keduanya sudah diakui di panggung internasional. 

Komunikasi dengan kedua pesastra tersebut selalu terjalin baik. Kebetulan, anak pertama Acep bernama Rebana Adawiyah adalah seorang mahasiswa S-2 di Rusia angkatan 2015. Kini, Rebana sudah tamat. 

Rusia, di mata saya, sebelumnya adalah negara tertutup, angker, dan komunis. Propaganda media Barat begitu kuat hingga mengendap di kepala. Namun, kondisi itu berbalik 160 derajat. Rusia kekinian adalah negeri konsumtif, komersial, dan menghormati jasa-jasa para penyair. 

Saat puisi-puisi saya lolos pada International Poetry Festival ‘Taburetka’ di Monchegorsk, Murmansk, Agustus 2017, misalnya, saya menggunakan kereta api Moskwa-Murmansk berjarak 1488 kilometer. Di atas kereta, orang-orang melihat aneh ke arah saya. 

Namun, setelah terjalin pembicaraan, maka mereka pun ramah bertegur sapa. Kami pun jadi lebih akrab di atas kereta, bahkan mereka menawarkan makan siang dan malam bersama. Menu rakyat, roti, keju, dan kolbasa (sejenis daging yang dikebukakan, bentuknya lonjong dan bulat memanjang). 

Kini, menuju era pascakontemporer sebagai periode sebuah era yang akan datang, maka lelang puisi di Indonesia perlu untuk dibiasakan. Sebab tujuan lelang itu sendiri untuk kemanusiaan. 

Dalam masyarakat adat Batak, misalnya, ‘lelang lagu paduan suara’ selalu terjadi setiap perayaan Natal. Bila dilihat secara kultural, sejatinya lelang itu terjadi karena ada pembeli, barang lelang (material dan nonmaterial), dan juru lelang sebagai penawar. 

Tentu saja, setiap suku di negeri ini memiliki cara masing-masing sebagai warisan budaya. Ada nilai filosofis, pesan moral, dan sisi kemanusiaan. Ini kenyataan, dan bukan utopia atau fantasi. 

Dalam budaya Eropa, lelang lukisan, lelang tulisan tangan penyair, dan lelang barang-barang seni menjadi bagian dalam peradaban kebudayaan mereka. Dilakukan secara rapi, kompak, dan laris manis. 

Tidak hanya di Rusia, tapi juga di Belanda dan Prancis. Memang budaya sastra mereka kuat. Terutama dalam menghargai jasa para seniman dan sastrawan sebagai bagian dari jati diri bangsa. 

Patung A.S Pushkin, misalnya, ada di setiap kota di Rusia. Pushkin adalah Bapak Sastra Rusia. Namanya seakan menjelma ‘manusia dewa’ yang dikenang dan dipuja seluruh masyarakat di sana.

Pelajar sekolah dasar sampai pelajar asing wajib membaca karya-karya Pushkin. Puisi-puisi pesastra berdarah campuran Afrika-Rusia itu disuguhkan di buku-buku pelajaran sepanjang tahun demi tahun. 

Kini, lelang puisi telah selesai digelar Media Group sebagai bagian dari kegiatan kemanusiaan. Dengan sejumlah rekan akademisi, sastrawan, kritikus sastra, dan pengamat seni rupa, saya berdiskusi. 

Ada benang merah dalam kegiatan lelang puisi. Pertama, tulisan tangan yang dibingkai menggunakan pigura telah menjadi  objek seni visual. Ia beralih fungsi, dari puisi menjadi artefak. 

Kedua, lelang puisi sebagai langkah awal untuk memacu daya pikir genius para penyair menghadirkan karya terbaik, masterpiece untuk dilelang. Adapun yang ketiga, kegiatan lelang puisi sama halnya dengan lelang lukisan. 

Saat mendengar dan meresapi ketiga hal tersebut, saya berpikir bahwa sejatinya sebuah puisi memang memiliki sihir. Puisi ditulis, dibaca, dan dikenang seribu tahun ke depan. Puisi-puisi yang dibuat untuk tujuan kemanusiaan memiliki dampak mulia bagi banyak orang. 

Lelang puisi di Republik ini bukan lagi sebuah utopia dan fantasi. Terbukti, karya enam penyair dibeli oleh orang-orang yang berhati mulia dan baik. Sebab setiap puisi mengandung napas keindonesiaan, ketuhanan, dan kemanusiaan. 

Jika ingin mengubah kesejahteraan penyair di negeri ini, ubahlah cara berpikir, bukan cara berjualan. Jika buku puisi tidak laku di toko-toko buku, lelang puisi menjadi pilihan sebab puisi adalah pintu kebahagiaan. 


Iwan Jaconiah
Pengasuh ‘Sajak Kofe’