Sajak-sajak Sihar Simatupang 

Musafir Duka 

Dalam perjalanan kereta, kita lupa berhenti atau singgah di stasiun itu. Wabah meruap kematian di peron-peron. Kita semua musafir di gerbong dingin, lata. Diam tak menyapa. Tak lagi mencicip; asin bahagia atau air mata. 

Bendera berkibar di jalan, terlihat dari balik kaca, getir sekali rasanya. Berkerinyut mengucap ulang tahun. Pada sejarah, para orangtua dan para pahlawan. "Kita masih ada, tenanglah.” Bisik-Nya pada tiap orang, tapi musafir seperti kita selalu tak percaya. Semua tetap diam di pagutan kerongkongan besi. 

Oktober, 2021 

 

Di Cawan Terakhir 

Memaknai duka dengan cawan perjamuan terakhir, rawan rasanya. Kalender terkelupas, koyak dari dinding. Angka serupa merah daging, luka; 

Mereka telah mengelopeknya dengan diam. Lapis demi lapis, mencipta tangis sendiri, perih sendiri. Geraham serupa gemeretak pisau atau pedang. Sakit pun tak sudi berbagi. 

"Telah dicari Tuhan di alir kelopak air mata itu. Meski penyamun, sungguh mereka tak ingin Ia pergi." 

Pada mezbah, tulang-tulang bergemeretak. Daging-daging berkeriyut. Mati atau bertahan hidup; sekarat dengan gigil dan doa. 

Tapi tingkap altar terbuka, tak pernah bergembok. Menyusun requiem. Lantunan misa - penyerahan dini hari atau malam yang jahanam. 

"Telah dicari-Nya para musafir di seantero derita, ke mana-mana. Sesungguhnya Tuhan juga tak ingin mereka pergi..." 

Oktober, 2021 

 

Satir Telur dan Serangga 

Kabar I. Telur 

Pada bulan pertama, tulah muncul menguasai malam di kota-kota. Jam berhenti berdetak, orang-orang kehilangan waktu bermainnya. Masuk dalam kulkas persemayaman. Istirahat dengan piyama kanak, jadi hibernasi awal. Semua dirampas sunyi, sebab tak ada percakapan di stasiun dan ruang tunggu lagi. 

Kabar II. Ulat 

Orang-orang sibuk menantang racun di jelaga kota. Jasad bertebaran di mana-mana. Orang-orang melintas tapi tak saling menyapa. Sekerat daging dan seteguk air tetap penting di deret malam yang jahanam ini. Semua memakai penutup di wajah. Bernafas dalam gelembung yang dikirimkan dari gunung, tapi tidak untuk yang papa –  sebab di kening mereka tertulis 'hina' tak menyiapkan apa-apa di tubuhnya. 

Kabar III. Kepompong 

Rumah menjelma mesbah dengan ratap dan pujian. Langit bertingkap, buat yang bernyawa –  semata hidup dari daging dan darah, inilah ujian. Rumah serupa plasenta dan doa – darah yang dialirkan semesta. Perkabungan dikumandangkan, tapi hidup harus tetap diupacarakan. 

Kabar IV. Serangga 

Mereka kemudian terbang, membawa racun di tangan kiri dan madu di tangan kanan. Segenap kota penuh dengan mural wajah-wajah. Tembok berhias grafiti ayat, masih saling curiga pada kebaikan sesama. Menyesal tak mengajak Tuhan bertamu ke rumahnya. Semua mengingat mula pertama, sebelum ada kota, daging, tulang, dan darah. Mereka terbang, mengelepak dengan sayap ke langit yang berbelas lapis. Memohon kasihan sebagai penolak tulah. 

Oktober, 2021 

 

Pustaka Doa 

Ratap tanah kepada langit; “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku.” Sejarah getir abad kesembilan belas tak lagi menjadi almanak, tapi bertamu di rumah kami. Dunia menelan sepuluh tulah; menjadi satu abad yang berdarah. Teknologi yang beranak pinak kini rubuh, patah. Di dunia tengah, orang terus saja menjilat; menelan air mata, darah, dan keringat dari tubuh sendiri, yang lebih durjana dari kusta sejarah. 

Begitulah maki dan mati – lebih bertuah dari takdir dan doa. Orang-orang masih sembunyi di balik pintu rumah; anak meninggalkan ibunya, ibu meninggalkan saudaranya. Rumah yang tak ber-Bapa, sekolah yang sunyi, pustaka yang terbakar. Sementara laboratorium telah lupa pada serum itu.

Zombie yang menggerayang di antara situs dan buku tua. Lalu muncul juga dari tuts keyboard dan layar kaca. "Tampaknya orang-orang harus kembali ke altar atau sajadah, lantai pura atau wihara, agar Engkau mendengar doa-doa." 

Serupa sedimentasi situs yang terbongkar dari pengetahuan, kotak pandora juga membuka jarum jam tugu kota saat ini. Tetulang yang bergemeretak. Tubuh yang berkeriyut. 

Keriput; lebih dari senja jahanam teronggok di peti kematian. Akhiran yang anyir bila tanpa doa – atau dekap dan air mata para pelayat. Senja teronggok begitu saja; memancangkan nisan tanpa nama, atau tanpa tanda di mana diletakkan tubuh dan kepala. 

Tuhanku, berikan tanda tempat-Mu adalah tempat kami. Pustaka teknologi yang kami bangun dari pigura kaca atau serabut besi. Kini, tanpa rupa sama seperti pustaka yang kami bangun, di atas tanah atau di cakrawala; di antara dunia atau bulan dan matahari. Orang-orang mulai lelah dengan museum atau laboratorium, eksperimen waktu yang mereka panggang. Sungguh, adalah fermentasi sia-sia di atas nadi atau jemari mati rasa. 

Di rumah-rumah, orang kembali menapaki lorong yang pernah mereka buat semasa bayi. Membangun ingatan prasejarah yang terkubur. Sebelum masa penciptaan; kami pernah menganggapnya sebagai kenangan, kini menjadi keabadian yang metah, Mata Pertama pernah menatap kami untuk menjadi ada. 

Ratap tanah kepada langit; “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku.” Sejarah getir abad sembilan belas tak lagi menjadi almanak, tapi bertamu di rumah kami. Dunia yang menelan sepuluh tulah. 

Demikianlah kami mendengar kata tak Kau ucapkan. Membaca huruf tak Kau tulis. di pintu ruang itu; menunggu keabadian-Mu tumpah, sebagai awal dan akhir; sebagai tempat segala yang tak pernah muncul dalam igau dan mimpi. Sebagai lengkung pelangi yang tertera dari gerimis di jendela rumah. Menyirami dahaga sebagaimana pendoa pernah hidup berabad sebelum kami. 

4 April 2020 

 

Biografi Sunyi 

Pada malam keberapakah kita mendapatkan cahaya dari tirai kelam yang dilebarkan ini? Ketika seluruh kota begitu sunyi dan gigil dari gigi bergemeretak hanya melahirkan lorong; tempat sembunyi kita – kaum degil tanpa kepercayaan seolah bukan makhluk ciptaan Tuhan. 

Pada kelam keberapakah kita mendapatkan terang dari kelambu pekat yang terburai itu? Ketika berada dalam pintu-pintu itu –  seolah kehidupan telah punah dan tak ada lagi harap dari penciptaan ini. 

Ya Tuhan rawatlah kami. Tubuh kami yang mencair jadi buih pecah. Tengkorak kami serupa tiang garam yang patah; kelak terburai – ribuan jumlahnya. 

Orang-orang berusaha mendengar bisikmu, tapi yang berlahiran dari lubang telinga kami cuma cericit tikus; dan janji orang ingkar karena berharap tentang nasi yang terserak dari langit. 

Ya Tuhan percayailah kami, sebagaimana Kau pernah karuniai pokok kehidupan tanpa embel cawat atau kelelahan si pembawa batu ke puncak bukit – semua karena kedegilan. Lalu menjagai buah-buah yang lenyap di ranting itu. Sia-sia saja: oleh ular yang berlahiran di dada kami. 

Ya Tuhan ratapi kami. Ya Tuhan tangisilah kami. Ya Tuhan rahmati kami. Ya Tuhan peluklah kami. Ya Tuhan ciumi kami. Ya Tuhan… 

Medio 2020 

 

 

 

 

Sihar Ramses Simatupang, penyair, pengajar, dan kritikus teater, lahir di Jakarta, pada 1 Oktober 1974. Ia telah menulis sejumlah buku dan aktif dalam berbagai kegiatan sastra. Ia masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2009. Buku antologi puisinya, di antaranya Misteri Lukisan Nabila dan Bulan Lebam di Tepian Toba. Pada acara lelang puisi Media Indonesia dalam rangka Indonesia Sejati: Festival Bulan Bahasa dan Sastra 2021, ia membuat puisi khusus berjudul Di Cawan Terakhir. Kini tinggal di Citayam.