Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS penyiraman air keras yang menimpa aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, masih menyisakan teka-teki. Hingga hari keempat pascakejadian, Selasa (17/3), aparat kepolisian belum berhasil mengidentifikasi pelaku meski sejumlah rekaman CCTV dan rekayasa wajah berbasis AI telah beredar luas.
Kriminolog sekaligus Guru Besar FISIP Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menilai kendala teknis di lapangan sering kali menjadi penghambat meski bukti visual tersedia.
“Selalu ada kemungkinan bahwa meskipun terdapat banyak rekaman terkait pelaku, tidak ada satu pun yang secara jelas memperlihatkan wajah atau nomor polisi kendaraan. Selain itu, kualitas CCTV juga tidak semuanya tinggi, sehingga menyulitkan proses identifikasi,” ujar Adrianus kepada Media Indonesia, Selasa (17/3).
Kendala Identifikasi Digital
Adrianus menjelaskan bahwa dalam kasus dengan bukti visual yang minim secara kualitas, kepolisian sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Namun, ia melihat adanya kebuntuan informasi dalam beberapa hari terakhir.
“Karena itu, kepolisian biasanya meminta bantuan masyarakat untuk memberikan informasi tambahan. Namun, jika sudah beberapa hari berlalu tanpa perkembangan signifikan, bisa jadi belum ada informasi baru yang masuk dari publik,” katanya.
Selain kendala visual, pelacakan melalui metode digital seperti cell dump—teknik untuk mengidentifikasi nomor ponsel yang aktif di lokasi kejadian—diduga telah dilakukan. Namun, hal itu bisa saja patah jika pelaku memiliki persiapan matang.
“Terkait rekaman CCTV, itu masih sebatas dugaan. Sementara untuk analisis cell dump yang dapat mengidentifikasi nomor ponsel di sekitar lokasi saat kejadian kemungkinan besar sudah dilakukan oleh polisi. Ada kemungkinan pelaku tidak terdeteksi karena mematikan ponselnya,” tambah Adrianus.
Komitmen Penuntasan Kasus
Publik kini menanti keberanian Polri untuk membongkar kasus ini hingga ke akar-akarnya, termasuk mengejar aktor intelektual di balik serangan terhadap pembela HAM tersebut. Adrianus mengingatkan agar proses hukum berjalan transparan tanpa intervensi pihak mana pun.
“Yang terpenting, kepolisian tidak boleh melakukan pelambatan atau bahkan penghentian proses setelah mengetahui identitas pelaku, maupun jika tidak menemukan indikasi kerja sama dari instansi yang diduga menjadi asal pelaku,” tegasnya. (Dev/P-2)
Kemenkes menegaskan pengobatan Aktivis KontraS, Andrie Yunus yang menjadi korban penyiraman air keras gratis
dengan kamera CCTV di Jakarta pelaku kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus seharusnya bisa diidentifikasi dalam waktu singkat sebelumnya beredar wajah pelaku dari AI
Komisi III DPR berencana memanggil Polri dan Kontras terkait kasu penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus
Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, masih menjalani perawatan intensif di HCU RSCM Jakarta setelah menjadi korban penyiraman air keras.
Setara Institute sebut penyiraman air keras Andrie Yunus (KontraS) sebagai alarm bahaya bagi demokrasi. Polisi didesak bongkar aktor intelektual serangan
Serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menuai kecaman keras.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved