Peneliti forensik digital, Rismon Sianipar, resmi menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Maret 2026. Langkah ini menandai titik balik besar dalam polemik tudingan ijazah palsu yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Alasan Ilmiah di Balik Permintaan Maaf
Rismon mengakui adanya kekeliruan dalam analisis yang ia publikasikan sebelumnya dalam buku Jokowi's White Paper. Menurutnya, kesalahan tersebut bersifat teknis dalam pengolahan data digital forensik.
- Kegagalan Analisis Geometri: Rismon tidak memperhitungkan variabel rotasi dan translasi pada foto ijazah yang diambil dari sudut miring.
- Faktor Pencahayaan: Ia mengakui bahwa pencahayaan pada foto objek penelitian sempat menyembunyikan bukti otentik seperti watermark.
- Temuan Baru: Setelah melakukan rekonstruksi dengan metode gradients analysis, Rismon memastikan ijazah tersebut 100% asli.
Momen Rekonsiliasi di Solo dan Jakarta
Permintaan maaf Rismon dilakukan secara langsung melalui serangkaian pertemuan pada pertengahan Maret 2026:
1. Pertemuan di Solo
Pada Kamis (12/3/2026), Rismon mendatangi kediaman Jokowi di Solo dengan membawa kain ulos. Jokowi menyatakan telah memaafkan Rismon dan menyerahkan urusan teknis hukum kepada pihak kepolisian dan pengacara.
2. Pertemuan dengan Gibran
Pada Jumat (13/3/2026), Rismon diterima oleh Wapres Gibran di Istana Wakil Presiden. Gibran menekankan bahwa bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan. Pertemuan diakhiri dengan suasana kekeluargaan di mana Gibran memberikan parsel kepada Rismon.
Kelanjutan Kasus Hukum
Sebagai konsekuensi dari pengakuannya, Rismon Sianipar mengambil langkah-langkah berikut:
| Aksi | Detail |
|---|---|
| Restorative Justice | Mengajukan permohonan penyelesaian perkara di luar pengadilan kepada Polda Metro Jaya. |
| Penarikan Buku | Berupaya menarik buku Jokowi's White Paper dari peredaran. |
| Publikasi Antitesis | Berjanji menulis buku baru yang membuktikan keaslian ijazah secara sains. |
Kesimpulan
Permintaan maaf Rismon Sianipar menjadi pelajaran penting dalam dunia penelitian dan demokrasi di Indonesia. Kejujuran intelektual untuk mengakui kesalahan metodologi diharapkan dapat meredam kegaduhan publik terkait isu ijazah yang telah lama bergulir.
