Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Sidang Kasus Migas Rp285 Triliun, Ahok Ungkap Peran Golf dalam Pertemuan Bisnis

Muhammad Ghifari A
27/1/2026 15:17
Sidang Kasus Migas Rp285 Triliun, Ahok Ungkap Peran Golf dalam Pertemuan Bisnis
Ahok bersaksi di sidang korupsi migas Rp285 triliun.(MI/Muhammad Ghifari A)

MANTAN Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut lapangan golf sebagai tempat negosiasi bisnis yang paling sehat dan murah dibandingkan lokasi lain, termasuk tempat hiburan malam.

Pernyataan itu disampaikannya saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (27/1).

Dalam persidangan tersebut, Ahok hadir sebagai saksi untuk sembilan terdakwa. Mereka antara lain pemilik manfaat PT Navigator Khatulistiwa Muhammad Kerry Adrianto Riza; Vice President Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) 2023-2024 Agus Purwono; Direktur Utama PT Pertamina International Shipping 2022-2024 Yoki Firnandi; Komisaris PT Pelayaran Mahameru Kencana Abadi Gading Ramadhan Juedo; serta Komisaris PT JMN Dimas Werhaspati.

Terdakwa lainnya adalah Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga 2023 Riva Siahaan; Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga 2023 Maya Kusuma; Vice President Trading Produk Pertamina Patra Niaga 2023-2025 Edward Corne; serta Direktur Feedstock and Product Optimization PT KPI 2022-2025 Sani Dinar Saifudin.

Jaksa penuntut umum mulanya menanyakan peran Dewan Komisaris dalam mengawasi etika dan perilaku personal jajaran direksi. Ahok membenarkan bahwa pengawasan tersebut merupakan bagian dari tugas Dewan Komisaris.

Jaksa kemudian menyinggung kebiasaan pertemuan direksi dengan pihak berkepentingan yang dilakukan di lapangan golf. Menanggapi hal itu, Ahok mengaku sebelumnya sangat menentang golf, bahkan melarang pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bermain golf saat ia menjabat gubernur.

“Ini soal pribadi ya, Pak. Saya dulu paling benci main golf. Saya larang semua orang pemda main golf karena kita kerja terlalu banyak,” kata Ahok.

Namun pandangannya berubah setelah menjabat Komisaris Utama Pertamina. Ia mengatakan hampir seluruh pelaku usaha di sektor minyak dan energi menjadikan golf sebagai sarana pertemuan informal.

“Begitu saya masuk Pertamina, saya baru sadar orang-orang minyak, Amerika, Chevron, Exxon, ngajak main golf terus. Saya malu, enggak bisa mukul. Akhirnya saya terpaksa belajar golf supaya bisa menemani mereka,” ujarnya.

Menurut Ahok, negosiasi bisnis di lapangan golf justru lebih efisien dan terkontrol. Ia menilai biaya dan risikonya jauh lebih kecil dibandingkan pertemuan di tempat hiburan malam.

“Kalau negosiasi dengan Exxon soal saham, itu bisa dibicarakan di lapangan golf. Jauh lebih murah daripada nightclub. Golf itu paling sehat, jemur, jalan kaki, dan biayanya relatif murah,” kata Ahok.

Ia juga mengakui adanya praktik “isi-isian” sebagai bentuk apresiasi saat bermain golf, namun menegaskan hal tersebut bukan perjudian. Ahok bahkan menyampaikan candaan yang pernah dilontarkan terdakwa Riva Siahaan kepadanya.

“Pak Riva pernah bilang, ‘istri saya cuma pesan satu, Pak, kalau main golf jangan lihat papa kedi, nanti bahaya.’ Itu cuma bercanda,” ujar Ahok, yang disambut tawa di ruang sidang.

Dalam surat dakwaan, perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang ini disebut menyebabkan kerugian negara lebih dari Rp285 triliun. Kerugian tersebut mencakup kerugian keuangan negara dan perekonomian negara, antara lain terkait impor BBM, penjualan solar nonsubsidi, serta selisih harga pengadaan minyak mentah dan produk kilang.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya