Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
MERESPONS guliran wacana dari sejumlah elit partai politik, yang mengusulkan pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD dengan alasan efisiensi anggaran dan menekan politik uang, Komite Pemilih Indonesia (TePi Indonesia) menilai alasan menekan ongkos politik untuk mengembalikan Pilkada ke DPRD adalah sebuah penyesatan logika publik.
"Masalah ongkos politik mahal itu akarnya ada pada perilaku elit dan tata kelola partai politik sendiri, bukan pada sistem pemilihan langsungnya. Karena itu, mengubah sistem menjadi tidak langsung tak akan menghapus politik uang, melainkan hanya melakukan lokalisasi korupsi. Transaksi gelap yang tadinya menyasar massa, kini cukup dilakukan di ruang-ruang tertutup antar-elit fraksi dan elit partai. Ini jauh lebih berbahaya bagi integritas demokrasi," kata
Koordinator TePi Indonesia Jeirry Sumampow, Jumat (9/1).
Para elit yang menyuarakan kembali ke DPRD saat ini lanjut Jeirry sebenarnya tidak punya posisi etik moral standing untuk bicara soal politik uang. Karena justru selama ini merekalah pelaku sekaligus penikmat dari praktik politik uang dalam sistem Pilkada kita. Sangat ironis dan munafik ketika mereka menggunakan "politik uang" sebagai alasan untuk mencabut hak rakyat, padahal mereka sendiri yang melanggengkan praktik tersebut.
"Alasan ini otomatis batal secara etik, mereka yang menciptakan masalah, lalu rakyat yang dihukum dengan kehilangan hak suaranya," tandasnya.
Menurutnya, pilkada langsung adalah mandat reformasi untuk memutus rantai praktek dagang sapi yang dulu masif terjadi di DPRD. Dengan mengembalikan pemilihan ke DPRD adalah sebuah "setback" atau kemunduran luar biasa.
"Kita akan kembali ke era di mana kepala daerah hanya menjadi sandera atau petugas partai di daerah. Hubungan akuntabilitas kepada rakyat akan putus, digantikan oleh hubungan balas budi kepada pimpinan partai di tingkat pusat dan daerah," tegasnya.
Jeirry mengingatkan untuk tidak menjadikan biaya politik sebagai alasan untuk merampas kedaulatan. Jika Pilkada dianggap mahal, solusinya adalah digitalisasi pemilu e-voting/e-recap, reformasi pendanaan parpol, dan penegakan hukum yang galak terhadap pelaku politik uang.
"Jangan rakyat yang dikambinghitamkan. Rakyat sudah makin baik dengan hak pilih langsung sejak 2005, jangan lagi dipaksa kembali menjadi penonton dalam menentukan nasib daerahnya sendiri," tandasnya.
Karena itu, Tepi Indonesia secara tegas menolak wacana ini. Pilkada melalui DPRD hanya akan memperkuat cengkeraman oligarki dan mempermudah para cukong untuk membeli kepemimpinan daerah dengan harga yang lebih murah di meja makan para petinggi partai.
"Kedaulatan rakyat tidak boleh dikalahkan oleh kalkulasi penghematan anggaran yang semu dan menyesatkan tersebut dari elit politik dan partai," tegas Jeirry. (H-2)
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, menegaskan sikap partainya yang menolak wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Secara konstitusional, baik pemilihan langsung maupun melalui DPRD sama-sama dikategorikan sebagai proses yang demokratis.
Analisis dampak ekonomi jika Pilkada dipilih DPRD. Lebih dari 3 juta petugas KPPS, industri percetakan, dan UMKM terancam kehilangan pendapatan masif.
Wacana pengembalian mekanisme Pilkada dari pemilihan langsung oleh rakyat ke DPRD tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai pilihan teknis antara langsung dan tidak langsung.
Wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD tidak didasarkan pada alasan yang kuat dan berpotensi melemahkan prinsip kedaulatan rakyat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved