Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

TePi Indonesia : Pilkada Via DPRD Merupakan Setback Kemunduran Luar Biasa

Apul Iskandar Sianturi
09/1/2026 13:08
TePi Indonesia : Pilkada Via DPRD Merupakan Setback Kemunduran Luar Biasa
Ilustrasi(MI/APUL ISKANDAR)

MERESPONS guliran wacana dari sejumlah elit partai politik, yang mengusulkan pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD dengan alasan efisiensi anggaran dan menekan politik uang, Komite Pemilih Indonesia (TePi Indonesia) menilai alasan menekan ongkos politik  untuk mengembalikan Pilkada ke DPRD adalah sebuah penyesatan logika publik. 

"Masalah ongkos politik mahal itu akarnya ada pada perilaku elit dan tata kelola partai politik sendiri, bukan pada sistem pemilihan langsungnya. Karena itu, mengubah sistem menjadi tidak langsung tak akan menghapus politik uang, melainkan hanya melakukan lokalisasi korupsi. Transaksi gelap yang tadinya menyasar massa, kini cukup dilakukan di ruang-ruang tertutup antar-elit fraksi dan elit partai. Ini jauh lebih berbahaya bagi integritas demokrasi," kata 
Koordinator TePi Indonesia Jeirry Sumampow, Jumat (9/1). 

Para elit yang menyuarakan kembali ke DPRD saat ini lanjut Jeirry sebenarnya tidak punya posisi etik moral standing untuk bicara soal politik uang. Karena justru selama ini merekalah pelaku sekaligus penikmat dari praktik politik uang dalam sistem Pilkada kita. Sangat ironis dan munafik ketika mereka menggunakan "politik uang" sebagai alasan untuk mencabut hak rakyat, padahal mereka sendiri yang melanggengkan praktik tersebut. 

"Alasan ini otomatis batal secara etik, mereka yang menciptakan masalah, lalu rakyat yang dihukum dengan kehilangan hak suaranya," tandasnya.

Menurutnya, pilkada langsung adalah mandat reformasi untuk memutus rantai praktek dagang sapi yang dulu masif terjadi di DPRD. Dengan mengembalikan pemilihan ke DPRD adalah sebuah "setback" atau kemunduran luar biasa. 

"Kita akan kembali ke era di mana kepala daerah hanya menjadi sandera atau petugas partai di daerah. Hubungan akuntabilitas kepada rakyat akan putus, digantikan oleh hubungan balas budi kepada pimpinan partai di tingkat pusat dan daerah," tegasnya. 

Jeirry mengingatkan untuk tidak menjadikan biaya politik sebagai alasan untuk merampas kedaulatan. Jika Pilkada dianggap mahal, solusinya adalah digitalisasi pemilu e-voting/e-recap, reformasi pendanaan parpol, dan penegakan hukum yang galak terhadap pelaku politik uang. 

"Jangan rakyat yang dikambinghitamkan. Rakyat sudah makin baik dengan hak pilih langsung sejak 2005, jangan lagi dipaksa kembali menjadi penonton dalam menentukan nasib daerahnya sendiri," tandasnya. 

Karena itu, Tepi Indonesia secara tegas menolak wacana ini. Pilkada melalui DPRD hanya akan memperkuat cengkeraman oligarki dan mempermudah para cukong untuk membeli kepemimpinan daerah dengan harga yang lebih murah di meja makan para petinggi partai. 

"Kedaulatan rakyat tidak boleh dikalahkan oleh kalkulasi penghematan anggaran yang semu dan menyesatkan tersebut dari elit politik dan partai," tegas Jeirry. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya