Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKRETARIS Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU, Abdul Hakam Aqsho, menyebut para kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) merasa prihatin atas munculnya upaya penjegalan terhadap Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Menurut Hakam, terdapat sedikitnya tiga kekeliruan prosedural dalam proses pemakzulan tersebut. Pertama, rapat harian Syuriah yang kemudian memutuskan pemakzulan pada 20 November lalu bukan merupakan rapat pleno lengkap. Kedua, tidak ada proses verifikasi dokumen maupun ruang klarifikasi atas tuduhan yang dialamatkan kepada Gus Yahya. Ketiga, keputusan tersebut dinilai tidak sejalan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
“Atas upaya penjegalan ini, para kiai sepuh sangat prihatin. Padahal sudah ada dua forum yang bisa menjadi ruang tabayyun—di Lirboyo dan Tebuireng. Semua menginginkan kembali pada aturan organisasi. Tapi faktanya, Syuriah justru mengabaikan dan tetap menggelar pleno. Lalu masih relevan kah bicara marwah jika langkahnya keliru?” ujar Hakam, dikutip dari Antara, Senin (8/12).
Hakam juga menanggapi pernyataan akademisi NU, Nadirsyah Hosen, yang menyebut marwah organisasi sepenuhnya berada di tangan Syuriah dan Rais Aam. Menurutnya, pandangan tersebut tidak menggambarkan dinamika PBNU secara utuh karena tidak ditopang analisis dan data komprehensif.
“Keputusan Syuriah memakzulkan Ketua Umum PBNU sangat serampangan, melanggar banyak prosedur, dan jauh dari nilai-nilai yang selama ini dijaga para kiai. Lalu marwah seperti apa yang ingin ditunjukkan jika justru menyeret NU ke arah kehancuran?” ujar Hakam.
Ia mengaku sulit memahami manuver sejumlah kiai yang berada di bawah komando Rais Aam KH Miftachul Akhyar, karena proses pemakzulan dinilai lemah secara substansi dan terkesan dipaksakan.
Menurut Hakam, persoalan ini bukan hanya soal organisatoris, tetapi juga menyentuh aspek etis. Ia mengajak seluruh pihak membaca dinamika internal NU secara jernih dan objektif.
“Jangan sampai sikap tawaddu’ kepada kiai justru menghilangkan nalar kritis dan objektif,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa NU yang kini memasuki usia satu abad menuntut tata kelola organisasi yang lebih terbuka dan akuntabel.
Meski begitu, Hakam menegaskan bahwa NU tetap menjunjung tinggi kehormatan para kiai. Hanya saja, pengelolaan organisasi memerlukan pemahaman yang jelas terhadap aturan dan mekanisme internal.
“NU bukan menjadi teknokratis hanya karena dipegang para aktivis organisasi. Justru organisasi ini dijalankan dengan menjunjung tinggi kehormatan kiai. Dan orang yang berorganisasi pasti memahami aturan yang berlaku. Sesederhana itu memahami dinamika saat ini,” tutupnya.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyatakan seluruh persoalan internal PBNU telah selesai.
KH Muhibul Aman menegaskan keputusan Rapat Konsultasi Syuriyah PBNU dengan Mustasyar bersifat final, sah, dan mengikat, mengembalikan kepemimpinan Muktamar ke-34 NU
Keputusan islah dan Muktamar NU diambil melalui musyawarah yang mendalam dan penuh kehati-hatian dengan mengedepankan kepentingan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
PBNU menggelar Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Musyawarah Kubro yang digagas para Mustasyar dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) kembali digelar, kali ini di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Minggu (21/12).
PBMP DIY menegaskan bahwa Lembaga Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan Ketua Umum PBNU
Ia juga memastikan bahwa PBNU secara organisasi tidak terlibat dalam kasus yang melibatkan Eks Menag Yaqut.
Gus Yahya menghadiri dan mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU yang menempuh rute Bangkalan-Jombang
PBNU menjadi mitra strategis pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka dalam mengawal program prioritas pemerintah menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyatakan seluruh persoalan internal PBNU telah selesai.
Empat tokoh penting PBNU yakni Rais Aam PBNU, Gus Ipul, Yahya Cholil Staquf, dan M Nuh melakukan pertemuan tertutup di Pondok Pesantren Pondok Miftachus Sunnah, Surabaya, Minggu (28/12).
Keputusan islah dan Muktamar NU diambil melalui musyawarah yang mendalam dan penuh kehati-hatian dengan mengedepankan kepentingan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved