Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan pentingnya kesiapan humas kementerian dan lembaga menghadapi krisis komunikasi di ruang digital. Melalui pembekalan bertajuk “Social Media Ready: Verify, Clarify, Respond”, kegiatan yang menjadi bagian dari Anugerah Media Humas (AMH) 2025 ini digelar secara luring dan daring di Jakarta.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, mengingatkan bahwa media sosial kini menjadi ruang utama pembentukan opini publik. Dalam hitungan detik, informasi dapat menyebar luas dan memengaruhi persepsi bahkan kebijakan. Karena itu, humas pemerintah dituntut menguasai tiga prinsip komunikasi publik: verify, clarify, dan respond.
Aspek verify menekankan pentingnya memastikan keabsahan data dan visual sebelum disebarkan. Clarify berarti berani meluruskan informasi keliru secara cerdas dan santun, sedangkan respond menuntut kecepatan serta kehadiran yang menenangkan publik di ruang digital. “Kecepatan tanpa akurasi menimbulkan kebingungan, sementara akurasi tanpa respons cepat membuka ruang bagi narasi liar,” ujar Fifi dalam keterangannya, Kamis (13/11).
Menurut data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet nasional kini melampaui 80 persen. Survei Komunikasi Global University of Southern California juga memperkirakan media sosial akan menjadi kanal komunikasi paling relevan pada 2030. Kondisi itu menuntut humas pemerintah untuk lebih tanggap terhadap potensi krisis akibat hoaks dan disinformasi.
Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Latief Siregar, menilai isu pemerintah mudah membesar di media sosial karena ekspektasi publik yang tinggi. Ia memperkenalkan metode PRIME--Prepare, Response, Intercept, Message, dan Engage--sebagai strategi menghadapi krisis. Reputasi pemerintah, ujarnya, tidak hanya ditentukan oleh fakta, tetapi juga persepsi dan kecepatan merespons.
Penggiat media sosial Enda Nasution menambahkan, tim komunikasi krisis idealnya bekerja layaknya asuransi: mendeteksi potensi krisis sebelum membesar. “Mitigasi itu seperti mendeteksi hotspot sebelum kebakaran. Semakin cepat ditemukan, semakin kecil biayanya,” jelasnya.
Sementara itu, praktisi komunikasi Jojo S. Nugroho menegaskan pentingnya menangani setiap isu sejak dini. Ia menyebut tiga kunci respons krisis, yaitu cepat dan faktual, mengedepankan empati, serta menjaga narasi tetap aman.
Kegiatan ini juga menghadirkan simulasi penanganan krisis yang melatih peserta menyusun strategi lintas sektor. Komdigi berharap pembekalan ini memperkuat koordinasi komunikasi publik pemerintah dalam merespons tantangan krisis di era digital. (Cah/P-3)
Berdasarkan data dari platform cekrekening.id, total laporan penipuan digital yang diterima pemerintah mencapai sekitar 839 ribu kasus dalam beberapa tahun terakhir.
Sistem pengawasan internet yang diterapkan suatu negara dapat memengaruhi bagaimana konten digital beredar serta seberapa besar ruang anonimitas yang tersedia bagi pengguna.
DINAS Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Jatim) bergerak cepat setelah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membatasi penggunaan media sosial untuk anak di bawah usia 16 tahun.
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan Permenkomdigi 9/2026 merupakan langkah yang konkret Perlindungan anak di ruang digital.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mendukung kebijakan Komdigi yang membatasi penggunaan media sosial (medsos) bagi anak di bawah 16 tahun.
PP GP Ansor menyatakan dukungan penuh terhadap langkah tegas Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang melarang kepemilikan akun media sosial (medsos) dan platform digital
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved