Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengungkapkan bahwa adanya usulan yang ingin menjadikan Soeharto sebagai calon pahlawan nasional telah mencederai amanat dari reformasi.
“Sejauh reformasi masih dijadikan pegangan dalam bernegara, maka Soeharto tidak bisa menjadi pahlawan,” katanya kepada Media Indonesia pada Kamis (15/5).
Usman menilai, usulan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional, juga akan bertentangan dengan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) yang menjadi mandat dari reformasi sebab kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun kerap menciptakan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.
“Soeharto tidak memenuhi syarat tentang pemberian gelar yang ada dalam undang-undang karena dalam secara regulasi, seorang pahlawan adalah yang bisa memberikan teladan dan punya integritas moral,” jelasnya.
Tanpa mempertimbangkan semua masalah yang terjadi di masa lalu, mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan nasional justru akan memutarbalikkan sejarah sebab banyak korban pelanggaran HAM oleh Soeharto yang saat ini masih berusaha mencari keadilan.
“Pertanyaannya, apakah Soeharto memiliki integritas moral dan menjadi teladan? Apakah Soeharto memenuhi kategori pahlawan secara universal, katakan punya idealisme, tidak mau menyerah pada musuh, tidak mau berkompromi dan mati di dalam perjuangan idealisme?,” tanya Usman.
Menurut Usman, Soeharto tidak bisa dijadikan pahlawan karena ia telah ditetapkan sebagai orang yang bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran HAM, korupsi dan kolusi serta menjauhkan Indonesia dari demokrasi seperti dalam TAP MPR nomor 11 tahun 1998.
“Soeharto ketika ingin dijadikan pahlawan itu tidak bisa karena Soeharto telah ditetapkan sebagai orang yang bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran HAM, korupsi dan kolusi serta menjauhkan Indonesia dari demokrasi,” ujar Usman.
Diketahui, Sebelumnya, Kemensos menerima sepuluh nama baru yang diusulkan untuk mendapat gelar pahlawan termasuk Soeharto.
Menanggapi hal tersebut, Koalisi Gerakan Masyarakat Sipil Adili Soeharto (Gemas) berunjuk rasa memprotes pemberian gelar pahlawan tersebut di depan kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta Pusat pada Kamis (15/5).
Mereka mendesak pemerintah membatalkan rencana pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan presiden Soeharto. (P-4)
ADA sejumlah kalangan, terutama aktivis hak-hak asasi manusia, sangat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang menyetujui pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden Soeharto.
Bahlil Lahadalia menilai Soeharto layak mendapatkan gelar pahlawan nasional. Ia berharap pihak yang menolak dapat menerima keputusan pemberian gelar tersebut.
Titiek Soeharto menilai pro-kontra penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan hal wajar. Ia membantah ada campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Soeharto
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Politisi PDIP Ribka Tjiptaning dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik Soeharto usai menyebutnya pembunuh jutaan rakyat
Bahkan dunia media sosial seperti X (twitter) ini penetapan Suharto sebagai Pahlawan Nasional menjadi tranding.
Di tengah meningkatnya integrasi ekonomi Asia Tenggara, peran sektor swasta dalam mendorong konektivitas dan pertumbuhan lintas sektor kian terlihat.
Politisi PDIP Ribka Tjiptaning dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik Soeharto usai menyebutnya pembunuh jutaan rakyat
Terlepas dari berbagai kekurangannya, Orde Baru memberikan harapan baru karena stabilitas politik, ekonomi tumbuh setelah Orde Lama.
Pembantaian massal 1965-1966, penembakan misterius (Petrus), tragedi Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, hingga penghilangan paksa aktivis 1997-1998.
Menurut Ketua DPD LEM KSPSI Jawa Timur Muhaji, Marsinah memang sangat aktif dan rela berkorban membela teman-temannya sesama buruh di perusahaan PT CPS itu.
Kyai E.S. Mubarok mengingatkan pentingnya menilai sejarah secara bijak dan objektif dalam menyikapi pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved