Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
MAHASISWA Universitas Nusaputra Sukabumi menolak upaya pengkerdilan demokrasi. Penolakan tersebut disampaikan dalam kegiatan diskusi Mimbar Sejajar bertajuk ‘ancaman demokrasi dikebiri’ yang difasilitasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) hingga organisasi mahasiswa Cipayung.
Dalam diskusi terbuka tersebut dibahas mengenai bagaimana seharusnya demokrasi saat ini berjalan. Selanjutnya dikaitkan dengan berbagai studi kasus mengenai ancaman demokrasi yang dikebiri seperti penyusutan ruang publik masyarakat dengan mempersempit ruang kritik, ketidakseimbangan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
“Dan proses Pemilihan Umum (Pemilu) yang berintegritas sebagai cara untuk mempertahankan puncak kekuasaan pemerintah,” ujar perwakilan mahasiswa Angga Septiana Ardianto mengutip keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (16/1).
Baca juga : Tidak Netral, BEM Institut Pangeran Dharma Kusuma Indramayu Somasi Jokowi
Angga menjelaskan mahasiswa telah mengambil sikap yang jelas terkait semakin parahnya kondisi demokrasi di Indonesia. Mahasiswa mendesak agar negara bisa memulihkan hak masyarakat dan menghentikan represif aparat kepada warga yang bersuara kritis di bidang HAM, lingkungan, hak perempuan atau kesetaraan gender, hak-hak adat dan anti korupsi, juga isu keragaman atau inklusifitas.
Baca juga : Mahasiswa NTB Kompak Tolak Praktik Dinasti Politik
“Negara harus memulihkan penegakan hukum atau atas korupsi, pelanggaran berat hak asasi, dan kejahatan ekologis yang merusak bumi dan merenggut hak-hak generasi mendatang,” lanjutnya.
Dirinya juga mengatakan bahwa negara perlu menjamin kebebasan masyarakat memilih pemimpin dalam seluruh tingkatan yang faham terhadap hak asasi, punya integritas tinggi, tidak punya jejak melakukan pelanggaran hak asasi dan kekuasaan inklusif dna menjunjung tinggi kesetaraan.
“Menghentikan segala bentuk penggunaan aparat penegak hukum untuk hal-hal apapun, kecuali bagi penegakan hukum yang jujur, adil dan bermartabat,” terangnya.
Negara harus memulihkan integritas badan pengawas seperti DPR dan stop menyalahgunakan penegak hukum seperti KPK maupun MK demi kepentingan keluarga dan golongan sendiri. Menjaga Pemilu jujur, adil, damai, bermartabat dan inklusif dan rakyat harus bergerak bersama mencegah politik dinasti, dan kembalinya tirani.
“Mahasiswa harus segera mengkonsolidasikan diri dan mengambil tantangan sejarah untuk berdiri tegak menjadi tonggak demokrasi dengan menolak kembalinya orde baru, dan republik rasa kerajaan. Rakyat, Mahasiswa, Pers bersatu untuk supremasi hukum Indonesia,” ujarnya.
Angga juga menjelaskan bahwa mahasiswa mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari buruh, petani, nelayan, dan seluruh masyarakat Indonesia untuk menggelorakan dan mengawal Pemilu tahun 2024 yang penuh kejujuran, keadilan, dan demokratis, tanpa intervensi Penguasa, POLRI, dan Presiden. (Z-8)
AKSI menolak Pilkada tak langsung yang mana pemilihan lewat DPRD digelar oleh BEM Nusantara DIY di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Saat ini sengketa Pemilu 2024 dalam proses sidang di Mahkamah Konstitusi (MK)
Sambut bulan suci Ramadan, BEM PTNU SeNusantara lakukan kegiatan silaturahmi sosial antar pengurus BEM
Indonesia hari ini mengalami kondisi darurat demokrasi dengan mempertontonkan pengangkangan konstitusi demi melanggengkan nepotisme.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Pangeran Dharma Kusuma Indramayu melayangkan somasi terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Setara Institute sebut penyiraman air keras Andrie Yunus (KontraS) sebagai alarm bahaya bagi demokrasi. Polisi didesak bongkar aktor intelektual serangan
Demokrasi menuntut semua pihak menjunjung tinggi sikap saling menghormati, termasuk ketika terjadi perbedaan pandangan.
Yusril menyatakan bahwa pembela Hak Asasi Manusia (HAM) bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara, sehingga keselamatan mereka harus dijamin oleh hukum.
SERANGAN gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Ayatullah Ali Khamenei dan sejumlah petinggi Iran telah mengguncang politik global
Perang antara AS-Israel dan Iran yang berlangsung begitu brutal di depan miliaran pasang mata manusia menyisakan pertanyaan yang tak mudah dijawab
Ia menekankan bahwa pelibatan militer seharusnya menjadi langkah terakhir dalam situasi luar biasa ketika aparat penegak hukum tidak lagi mampu menangani ancaman yang muncul.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved