Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era digitalisasi, kolaborasi dan interaksi menjadi hal penting, terutama dalam berjejaring di media sosial. Interaksi di media sosial menjadi tolak ukur efektivitas informasi dan komunikasi yang diberikan kepada publik. Maka dari itu, manajemen perencanaan pengelolaan media sosial perlu dilakukan setiap instansi sebagai cara menciptakan citra positif di hadapan publik.
Hal ini menjadi benang merah dari sharing session mengenai Perencanaan Kolaborasi Konten Publikasi dan juga Menangani Respons Publik di Media Sosial dilakukan oleh Kementerian Keuangan bagian Media Sosial dan Contact Center pada Senin (31/7/2023). Acara ini bertujuan memberikan pembekalan terkait cara menanggapi komentar publik di media sosial Kementerian Keuangan.
Kepala Bagian Manajemen Publikasi Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Keuangan Rahmat Widiyana mengatakan kolaborasi menjadi tonggak untuk bersinergi dalam menciptakan citra positif dengan melakukan respons yang tepat dan cepat. Hal ini sangatlah krusial agar seluruh kegiatan yang terpublikasi di media sosial bisa terdistribusikan dengan baik.
Baca juga: Ambil Berita dari Medsos, Wartawan Harus Pastikan Fakta
Acara itu menggandeng praktisi sekaligus akademisi komunikasi krisis, Dr. Firsan Nova. Firsan menjelaskan bahwa social media team dan contact center tidak bekerja sendirian, melainkan berkolaborasi untuk mengejar dua hal, yaitu promote dan protect. "Kolaborasi antartim media sosial dan concat center atau layanan konsumen perlu dilakukan dalam menangani respons publik di instansi pemerintahan agar terbangun kepercayaan publik," tutur Firsan dalam keterangan tertulis, Selasa (1/8).
Menurut CEO Nexus RMSC itu, dalam melakukan respons publik, indikator yang perlu diperhatikan ialah content of issue, context of issue, dan public interest. "Di Nexus kami membagi menjadi tiga poin yaitu number of issues, number of key opinion leader, dan number of public interest. Level tertinggi dari tiga hal ini ialah public interest," ujar Firsan.
Baca juga: Mahasiswa Usahid Sukses Gelar Event Edukasi Penggunaan TikTok
Praktisi komunikasi tersebut juga menambahkan bahwa ketika sudah mencapai level public interest dan publik membeli isu tersebut, suka atau tidak suka harus ditanggapi. Dalam menanggapi publik, omni channel ialah hal yang harus digunakan. Namun penggunaan omni channel harus disinambungkan dengan platform media yang disukai publik. Maka dari itu, sebagai hasil kolaborasi social media team dan contact center, penggunaan berbagai platform media bagi suatu instansi itu penting.
Pengelolaan media sosial pimpinan instansi juga memerlukan bantuan kolaborasi dari social media team dan contact center. "Mengelola media sosial pimpinan juga harus memperhatikan seperti media sosial instansi, perlu di-support kedua tim," tutur Firsan.
Perbedaan persepsi terhadap fungsi social media team dan contact center memang sering menjadi pertanyaan. Keduanya sama-sama bersinergi untuk mewujudkan promosi yang baik dan menjaga citra instansi dengan baik. Walaupun memiliki jobdesc yang berbeda, kedua pekerjaan tersebut dapat dimaksimalkan dengan berkolaborasi untuk menyelaraskan informasi, sehingga dapat tersampaikan dengan baik di depan publik. (Z-2)
Setelah mendapatkan persetujuan dari para peserta sidang yang diiringi ketukan palu, Rano kemudian membacakan poin kesimpulan kedua yang berfokus pada pembenahan internal.
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
SATU tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai berjalan mulus bukan karena kinerja pemerintah yang efisien, melainkan karena lemahnya peran DPR
Publik masih menunggu langkah pemerintahan Prabowo dalam merespons berbagai masalah dengan langkah-langkah korektif.
Sikap partai berlambang banteng tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Presiden Prabowo Subianto menyoroti maraknya perilaku masyarakat yang merasa paling tahu segalanya, terutama soal isu-isu politik dan pemerintahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved