Kamis 10 Maret 2022, 11:25 WIB

Pengamat: Penceramah Radikal Manfaatkan Lemahnya Resistensi Masyarakat

mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
Pengamat: Penceramah Radikal Manfaatkan Lemahnya Resistensi Masyarakat

DOK.MI
Ilustrasi radikalisme

 

MANTAN Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz mengatakan lemahnya resistensi masyarakat dimanfaatkan penceramah radikal untuk infiltrasi radikalisme di masyarakat.

Hal itu kerap kali diakibatkan oleh faktor ketidaktahuan masyarakat, baik terhadap muatan radikal-ekstrem maupun ketidakpahaman terkait peta aktor dan kelompok yang membawa misi dan narasi radikal.

"Yang menjadi persoalan dalam setiap proses infiltrasi radikalisme (kelompok radikal) di tengah masyarakat adalah lemahnya resistensi, sebagai akibat dari ketidaktahuan masyarakat itu sendiri," ujar Darraz seperti dikutip Antara di Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/3).

Dia melanjutkan, lemahnya resistensi masyarakat ditandai oleh ketidakpahaman terhadap pandangan radikal ekstrem yang dibalut dengan penjelasan keagamaan yang memukau. Sehingga hal tersebut membingungkan masyarakat untuk membedakan mana pandangan yang memiliki muatan radikal dan mana yang tidak.

"Kedua, ketidakpahaman masyarakat (termasuk di lingkungan aparat) terkait dengan peta aktor dan kelompok yang membawa misi dan narasi-narasi radikal. Sehingga masyarakat tidak paham siapa sebenarnya yang mereka undang itu," tuturnya.

Menurut Darraz, kelompok radikal akan senantiasa mencari celah untuk masuk ke setiap lini demi menyebarkan paham radikali yang mereka anut. Dan modus yang kini digunakan adalah mengisi pengajian di berbagai komunitas, tidak terkecuali masuk di lingkungan aparat TNI-Polri beserta keluarganya.

"Mereka mencoba memberikan pengaruh secara lebih halus agar ideologi mereka dapat diterima di lingkungan aparat negara yang menjadi benteng pertahanan NKRI dan Pancasila," jelasnya.

Ia menilai, infiltrasi halus seperti demikian di mimbar-mimbar agama tidak bisa dibiarkan, karena hal ini berkaitan dengan narasi dan provokasi yang bisa membawa kepada kehancuran dan perpecahan bangsa.

"Jika tidak disterilkan, maka kita seperti ibarat menunggu kejadian yang ada di Suriah, Libya, Irak, dan beberapa negeri di Timur Tengah itu terjadi di Indonesia. Apalagi jika disulut dengan takfiriyah," tegas Darraz.


Baca juga: LPOI-LPOK Komitmen Bersama BNPT Cegah Paham Radikal Terorisme


Dia melihat perlu adanya upaya intensif guna mensterilkan ruang mimbar agama dari penceramah radikal yang membawa dan menyebarkan ideologi transnasional untuk memecah belah bangsa.

"Cara yang cukup elegan adalah dengan mengaktifkan peran dari para tokoh masyarakat yang moderat di komunitas terkecil hingga ke lembaga pemerintahan termasuk di lingkungan aparat TNI-Polri itu sendiri," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga harus lebih aktif untuk mengajak ormas-ormas Islam moderat agar mereka semakin giat dan aktif melakukan dakwah Islam yang wasathiyah.

"Masyarakat tentu harus diberikan paham keagamaan yang moderat serta diberikan bekal ‘pemikiran kritis’ agar dapat menolak dan mencegah potensi pandangan-pandangan radikal," ungkap pria yang juga pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah ini.

Dalam pandangannya, pemahaman keagamaan moderat harus menjadi syarat utama bagi seorang dai atau penceramah diundang pada forum/mimbar keagamaan. Jika hal ini telah dilakukan, maka akan dapat membantu mengeliminasi tersebarnya paham radikalisme-ekstremisme dalam mimbar-mimbar keagamaan.

"Ormas keagamaan moderat juga harus aktif melakukan kaderisasi untuk menciptakan para dai, mubalig, penceramah yang memiliki visi keagamaan moderat (Islam wasathiyah)," tuturnya.

Kaderisasi itu, lanjut dia, dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan dan kampanye yang masif terkait pandangan keagamaan moderat kepada masyarakat dan juga aktif melibatkan penceramah dari luar organisasinya.

Terakhir, Darraz berpesan kepada para kader dai, mubalig, penceramah agar ke depan juga dapat memiliki pemahaman terkait politisasi agama agar para penceramah tak lagi menjadi alat kepanjangan kelompok radikal demi meraih keuntungan dan kepentingan politik.

"Sebaiknya para calon dai, penceramah dapat membekali dirinya dengan pandangan-pandangan keagamaan yang moderat, kritis, toleran dalam perbedaan, serta memiliki pemahaman terkait politisasi keagamaan," ujarnya. (Ant/S-2)

 

Baca Juga

ANTARA/ Fakhri Hermansyah

Polisi Serahkan Pimpinan Khilafatul Muslimin ke Kejaksaan Hari Ini

👤Rahmatul Fajri 🕔Senin 03 Oktober 2022, 17:11 WIB
Begitu sudah tahap 2, berarti proses sidik sudah selesai tinggal penyerahterimaan tersangka maupun barang bukti ke Kejaksaan Negeri Bekasi,...
AFP

Soal Gas Air Mata di Kanjuruhan, Polri: Materi Sedang Didalami

👤Khoerun Nadif Rahmat 🕔Senin 03 Oktober 2022, 17:07 WIB
Polri masih mendalami berbagai eskalasi insiden mematikan di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang sebelumnya berlangsung laga Arema FC kontra...
MI/Lina Herlina

Saksi Pelanggaran HAM Berat Pania Beberkan Kronlogis Kejadian

👤Lina Herlina 🕔Senin 03 Oktober 2022, 17:02 WIB
SIDANG Pengadilan HAM berat Paniai, Papua Barat pada PN Makassar Kelas IA Khusus, pada Senin (3/10) kembali digelar. Masih dengan agenda...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya