Rabu 09 Juni 2021, 15:36 WIB

Rencana Belanja Alutsista tidak Sesuai dengan Tantangan di Natuna

Nur Aivanni | Politik dan Hukum
Rencana Belanja Alutsista tidak Sesuai dengan Tantangan di Natuna

Antara
Dua kapal selam bersandar di dermaga wilayah Natuna, Kepulauan Riau.

 

RENCANA Kementerian Pertahanan untuk melakukan pengadaan alutsista mendapat kritikan dari peneliti senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Evan Laksmana. Dia menyoroti dua hal terkait rencana belanja alutsista tersebut.

Pertama, permasalahan yang terkait dengan alutsista. Mulai dari masalah transparansi, kepatutan dan hal yang mendasari rencana pengadaan alutsista itu sendiri.

Kedua, rencana pengadaan alutsista tidak sesuai dengan tantangan maritim yang dihadapi Indonesia di Laut Natuna Utara. Dia pun mencontohkan pengadaan jet tempur yang bertujuan memberikan postur militer Indonesia lebih baik di wilayah tersebut. Namun menurutnya, langkah tersebut tidak tepat.

Baca juga: Anggota DPR Tolak Rencana Kemhan Berutang untuk Beli Alutsista

"Itu tentunya tidak sesuai dengan tantangan yang akan dihadapi di lapangan, yang merupakan wilayah maritim," papar Evan dalam webinar, Rabu (9/6).

Bahkan, sambung dia, rencana pengadaan kapal selam dianggap sebagai hal yang tidak logis. "Saya khawatir bahwa apa yang terjadi di Laut Natuna Utara dalam kaitannya dengan rencana pengadaan alutsista ini, menjadi semacam pembenaran saja oleh Kementerian Pertahanan, untuk melakukan pengadaan alutsista baru," tukasnya.

Menyoroti Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di perairan Natuna Utara, ada dua langkah utama yang bisa dilakukan Indonesia sebagai upaya perlindungan. Pertama langkah domestik, yaitu menangani terlebih dahulu kerumitan atau perselisihan kewenangan yang terjadi antara instansi maritim di Indonesia.

Baca juga: Kemenhan Tepis Tudingan Pengadaan Alutsista Lewat PT TMI

"Karena keruwetan ini yang membuat kebijakan Indonesia menjadi susah diimplementasikan di lapangan. Membuat langkah Indonesia untuk bisa melakukan tindakan tegas juga menjadi lebih sulit," imbuh Evan.

Adapun kedua ialah langkah internasional. Menurutnya, hal itu bukan hanya mengenai diplomasi, namun juga bagaimana menafsirkan hubungan baik antara pemerintah Indonesia dan Tiongkok.

"Sebaiknya hubungan baik ini bukan saja berarti mengajukan nota keberatan diplomatik kepada mereka. Tetapi, bisa membujuk pemerintah Tiongkok untuk menghentikan aktivitas yang bersifat intimidatif atau provokatif di wilayah yang disengketakan," tutup dia.(OL-11)

Baca Juga

Antara/M Risyal Hidayat.

Kepala BKN Ungkap Dokumen TWK Rahasia Ketetapan TNI dan BNPT

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Selasa 22 Juni 2021, 20:45 WIB
Sejumlah pegawai KPK yang tak lolos TWK sebelumnya meminta hasil lengkap tes tersebut tetapi tak kunjung mendapat...
MI/ M Irfan.

Kepala BKN Jelaskan TWK Pegawai KPK ke Komnas HAM

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Selasa 22 Juni 2021, 20:25 WIB
Dia juga menjelaskan alasan BKN menggunakan instrumen tes Indeks Moderasi Bernegara atau IMB-68 milik Dinas Psikologi TNI Angkatan...
NasDem

NasDem Tolak Wacana Penambahan Masa Jabatan Presiden

👤Putra Ananda 🕔Selasa 22 Juni 2021, 19:51 WIB
NasDem sampai hari ini tetap konsisten tidak ingin amandemen...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jakarta sedang tidak Baik-Baik Saja

SEPEKAN ini warga Ibu Kota mengalami kecemasan akibat meningkatnya kembali kasus positif covid-19 secara signifikan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya